Search This Blog

Monday, August 16, 2021

Reality (Part 8)

 Langit boleh congkak ketika matahari menemaninya. Angin boleh tamak, ketika matahari juga menemaninya. Tetapi keadaan tidak akan selalu berpihak seperti sebuah harapan. Terik bukan berarti tidak akan hujan. Sama seperti cinta, senyum bukan berarti akan terluka. 


"Darien, aku menyukaimu." 


Shine menghembuskan napas lega, ketika kalimat yang telah lama dipendamnya itu terlontar begitu lancar. 


Darien sendiri hanya bisa menarik salah satu alisnya. Lalu tersenyum kecil. Udara terasa begitu panas, namun angin sedikit mengurangi kegerahan. 


"Apa yang kau katakan Shine? Apa kau sedang berusaha bersandiwara?" tanyanya setengah bercanda.  Membuat Shine membeku.


"Tidak, aku serius." cicit Shine. 


Darien kembali menarik kedua sudut bibirnya tersenyum tulus. Lalu memalingkan wajahnya, menyapu pandangan pada siswa di bawah sana yang hingar dengan lantunan bola basket. Biasanya ia juga akan berada di bawah sana, tapi hari ini ia mendadak merasa malas untuk bermain. 


"Hari ini aku tidak sedang berniat bermain sayang. Dan sandiwaramu sangat buruk." tuturnya lembut. 


"Tapi aku sedang tidak bercanda Darien. aku serius." 


Darien kemudian mengacak surai Shine. dengan gemas. Lalu setelahnya menjauh mendekati ujung pagar pembatas di sisi kanan, dan duduk di atas semen dingin yang padat. 


Atap sekolah menyenangkan diterik matahari. Tidak banyak yang berani menikmati hari ditempat ini, kecuali dirinya.


"Sudahlah, kau tidak bisa menipuku. Mengapa kau tidak bermain bersama Katarina saja?" 


Shine bergerak gelisah. 


"Kenapa kau tidak pernah mempercayaiku?" 


"Karena aku sangat mengenalmu. Ketika kau serius, atau ketika kau tengah bercanda, aku mengetahui itu." 


Karena mereka telah lama saling mengenal.  Darien menghela nafasnya samar. Meski sejujurnya ia merasa bahagia, tapi terdapat sesuatu yang menganggu pikirannya. Semacam keraguan yang tidak mampu untuk dijabarkan akal sehatnya. 


"Apa aku benar-benar terlihat seperti sedang bercanda?" tanya Shine lirih. Shine semakin memperdalam tundukkan kepalanya untuk menyembunyikan butiran hangat yang perlahan mengalir di kedua pipinya, manakala suara Darien terdengar semakin berbeda.


Darien terlihat dingin di matanya.  


"Dari sudut pandangku, candaanmu terdengar begitu mengada-ada. Dan lagi, jika yang kau katakan itu benar, aku juga tidak bisa membalasnya." 


Nada suara itu naik satu oktav. Darien tidak memperhatikan jika Shine tidak lagi mampu bergerak setelah mendegar ucapannya.  


Bola mata pria itu justru lebih liar mencari sesuatu yang membuat hatinya gelisah. Dan Shine menyadari itu, Darien memiliki hati yang lain. 


Shine mengigit bibirnya, dan tersenyum kecil menghina kerapuhannya. Darien tidak sama sekali menatap wajahnya. 


Shine mengusap jejak-jejak air di pipinya, lalu mendekati Darien. 


Untuk pertama kalinya, Darien mengabaikan kehadirannya. 


"Kenapa?" 


Jarak mereka terkikis secara perlahan, karena Shine sendirilah yang mengikisnya. Shine butuh jawaban. Tidak perduli jika sekalipun Darien akan membencinya. Shine mengangkat tangannya, menangkup wajah Darien.  Memaksa sahabatnya itu untuk menatap wajahnya.


"Tentu saja karena kau sahabatku, Shine." 


Shine menahan isakannya. 


Benarkah? Benarkah hanya karena itu? Lalu bagaimana jika Katarina yang berada di posisinya? apakah Darien akan mengatakan hal yang sama. 


Sementara meski ia menahan wajah tampan itu, Darien tetap mengabaikan tatapannya. 


"Benarkah hanya karena itu? Apa hanya aku?" 


"Tentu saja, Shine. Kau dan Katarina. Kalian berdua." 


"Kau tidak sedang berbohong kepadaku bukan?" 


"Untuk apa aku berbohong. Aku mengatakan hal yang sebenarnya." 


Bohong. 


Shine menolak untuk terima. Apa yang Darien katakan tidak dapat diterima akal sehatnya. Shine tahu Darien berbohong. 


"Begitukah?" tanya Shine memastikan. Memastikan jika Darien akan kembali melanjutkan kebohongannya. 


Shine bukan manusia bodoh yang mudah ditipu. Shine paham betul dengan apa yang terjadi. Darien mencari Katarina. 


"Percaya padaku Shine. Kau harus mengerti sayang, kita memiliki batasan dalam sebuah janji." 


Darien menarik pinggul kecil Shine. Memangkas habis jarak di antara mereka, lalu mengusap lembut kepala gadis itu.  Tidak akan Darien biarkan Shine beranjak jika masalah ini belum diselesaikan. 


"Aku akan mencoba mengerti jika kau berjanji padaku?"


Darien mengangguk  "Apa?"  tanyanya.


Shine menarik dalam udara panas, lalu menghembuskan secara lembut. Manik matanya masih menatap Darien. Mencari celah untuk melihat kejujuran pria itu. Tapi kosong, bola mata itu terlalu kosong untuk dibacanya. Darien seolah menyelimutinya dengan sekat hitam yang tidak kasat mata.


"Jangan melukaiku dengan berbohong. Jangan mengingkari janjimu. Jangan menjalin kisah bersama gadis yang ku kenali, atau gadis yang berada di dekatku. Jalinlah hubungan bersama gadis lain." 


Hanya itu.  Hanya itu saja. Shine mengusap sesaat pipi Darien. Lalu secara peralahan menurunkan kedua tangannya, bersama dengan retaknya dinding di dihatinya. 


Kini tidak ada lagi daya bagi Shine untuk mempertahankan kepercayaan dirinya. Shine tidak memiliki wajah lagi untuk bertemu dengan para sahabatnya. Jadi biarkan saja rasa itu terkubur jauh dan tidak terkenali. Biarkan wajah sendu dan luka ditanggung oleh dirinya sendiri. 


Shine sadar, ia memang terlalu naif. Ia terlalu percaya diri menganggap Darien akan membalas cintanya.  Bodoh. Tidakkah dirinya terlalu egois? Ia memang pantas menerima semua ini.


Di tempatnya duduk, Darien membeku. Seluruh organ di tubuhnya terasa mati. Hanya jantungnya saja yang berdegub dengan debaran yang tidak normal. Entah karena apa, yang jelas Darien tidak tahu. 


Namun kalimat terakhir Shine mencubit sudut-sudut hatinya. Menciptakan denyutan yang begitu menyakitkan. Tatapan keduanya masih terkunci. Tidak ada satupun yang beranjak, karena mereka membiarkan angin membawa kata dalam hati, dan menebarnya di lautan lepas. 


Ketika kelak pria dengan sejuta pesona itu mewujudkan permintaannya, maka Shine akan berhenti. Ada kalanya sesuatu yang bukan untuk kita, tidak bisa kita miliki. Cinta yang datang ketika gerbang itu terbuka hanyalah semu yang terbalas. Mungkin dentang akan bernyanyi mencemooh kebodohannya, namun Shine tidak perduli. 


Tanpa Shine sadari,  gadis di balik daun pintu ikut tersenyum pedih.  Ternyata mereka sama-sama gadis bodoh yang tidak berguna.





*****




Kebiasan selalu menjadi awal dari kehancuran sebuah cerita. Tidak semua cerita akan berakhir dengan kebahagiaan. Waktu bukanlah hal yang mudah untuk dilewati. Terutama jika luka ikut berperan dan tawa justru pergi meninggalkan. Mereka tidak lagi sama. Persahabatan hanya seperti kata pelengkap yang tidak berarti. 


Tapi hari ini, setelah satu bulan Darien hanya diam, Shine tidak menyapa, Mica selalu menjauh, dan Katarina menjadi sosok gadis yang bisu dan tuli, pada akhirnya mereka memilih berkumpul. Memenuhi meja petak yang tidak terisi apapun. 


Colio adalah saksi persahabatan mereka. Musim panas belum berganti. Mica memilih tidak bicara. Entah mengapa mendadak ia merasa akan terjadi hal buruk pada hari ini. Ada Shine di sisinya, tetapi Darien beserta Katarina duduk bersisian. Keduanya sengaja meminta untuk bertemu, karena dua minggu belakangan Shine berusaha untuk semakin menjauh. 


Dan mau tidak mau Mica harus berusaha membujuk Shine yang selama ini menjadi patung tidak bernyawa. Meskipun awalnya gadis itu menolak, tetapi beruntung gadis itu kini ada bersamanya.


"Apa yang ingin kalian sampaikan pada kami?" tanya Mica. 


Ia memilih membuka suaranya. Suasana yang sepi membuatnya merasa seperti sedang berada di sebuah pemakaman. Dan itu mengerikan. Mica juga cukup kesal, ketika kedua manusia yang membuat acara itu justru asik menikmati kebungkaman. Apa mereka tidak tahu betapa sulitnya membujuk Shine. 


Darien yang pertama kali merespon. Pria itu menghembuskan nafasnya kasar, lalu memandang sosok yang dirindukannya. Tapi nihil. Sepanjang ia menanti, tidak ada senyum yang tercipta untuknya. 


"Aku akan bicara. Tapi bisakah kau memandangku, Shine? Aku bukan sampah yang menjijikkan, dan kita juga tidak memiliki masalah."  


Darien melontarkan kalimat itu begitu saja. Membuat Katarina dan Mica menatap dengan tidak percaya. Selama dua minggu terakhir Shine memang selalu menghindari Darien. Bahkan ketika pria itu mencoba mendekat, Shine akan dengan segera pergi menjauh. 


Hanya Mica yang mengetahui apa yang terjadi kepada gadis itu, karena memang dirinya lah yang memeluk tubuh ringkih itu, ketika Darien melukainya.


"Shine."  tegur Darien lagi. 


Namun Shine tetap tidak bergeming. Telinga dan hatinya telah ditulikan untuk mendengar suara itu. Sekalipun ia mendengarnya, Shine tetap tidak berniat untuk menjawab. Biar saja Darien murka, karena sejak awal Shine memang tidak berniat untuk datang ke tempat ini. 


Shine tahu apa yang sudah terjadi. Ia juga mengetahui apa yang akan di sampaikan oleh pria kesayangannya itu. Entah Darien menyadarinya atau tidak, desas-desus itu telah sampai ke telinganya. 


Tapi Shine selalu berharap semua itu hanyalah kebohongan belaka, sampai Darien memintanya bertemu. Shine menahan air matanya. Darien benar, mereka tidak memiliki masalah apapun. Bahkan sejak hari pengakuan itu pun hubungan mereka tetap baik-baik saja.


Hingga hal itu terjadi. Tanpa Darien ketahui, ia telah membuat Shine hancur disaat yang salah.


 Shine benci Darien.


"Gerania Shine!!" 


"Kecilkan volume suaramu. Kau akan membuatnya menangis." tegur Mica. 


"Aku tidak bicara denganmu. Aku bicara dengannya." 


"Tapi kau bisa menggunakan bahasa yang lebih halus, Dar." 


"Aku akan bicara lebih baik, jika saja sejak awal dia mau memandangku. Tapi apa yang dia lakukan? Dia terus saja menghindariku.  Aku bukan sampah, Mica." 


"Tidak ada yang mengatakan kau sampah." 


"Tapi Shine mempelakukan aku seperti itu." 


"Kau,—" 


"Shine? Apa kau akan terus diam? Kau akan membiarakan aku dan Mica terus berdebat?" 


Katarina masih belum bicara. Mica memandang tajam Darien, lalu meraih jemari Shine dan menggenggamnya erat. Getaran tubuh kecil itu begitu kuat. Mica bahkan bisa merasakannya tanpa harus memeluk Shine. Brengsek! Darien memang bajingan. 


Tapi dirinya juga bodoh. Seharusnya ia memang tidak pernah membawa Shine ke tempat terkutuk ini. Seharusnya Mica tahu Shine belum siap untuk bertemu Darien maupun Katarina. Isu-isu murahan yang menyebar memang tidak Mica perdulikan. Tetapi tidak dengan Shine. Gadis itu bahkan terus saja menyangkalnya.  


Jadi siapa yang sebenarnya salah saat ini?


"Aku mendengarmu, bicaralah." lirih Shine. 


Seperti bola api kemarahan. Shine muak dengan semua perdebatan itu. Shine muak dengan Darien. Dan Shine ingin segera beranjak pergi. 


Darien tertawa sinis mendengar jawaban tanpa minat itu. Shine memang sangat keras kepala. Dan Darien benar-benar kesal menghadapinya. "Aku membutuhkan bola matamu Shine, bukan hanya suaramu." Jawabnya tegas. Tapi sekali lagi, hanya udara yang menanggapinya. 


"Apa aku memiliki kesalahan padamu Shine? katakan padaku. Tidakkah kau tahu betapa sakitnya aku menerima sikapmu ini?!" 


Pada akhirnya emosilah yang tidak mampu untuk dikendalikan. Shine begitu egois pada hatinya. Darien semakin membesarkan volume suaranya manakala Shine tetap tidak mau bicara. 


"Shine aku bicara kepadamu?!" jeritnya marah. 


Pria ini bahkan tidak perduli sikutan Katarina pada lengannya. Darien juga tidak perduli pada tatapan mata Mica yang begitu marah. 


Yang Darien inginkan saat ini hanya satu. Manik mata Shine. Tetapi gadis itu begitu jahat padanya. Darien membiarkan satu tetes air mata lolos dari pelupuk matanya. Darien tidak perduli jika orang-orang mencemooh kerapuhannya. Ia hanya ingin mata yang selalu dirindukannya itu mau memandangnya, meski hanya untuk sesaat. 


Tidakkah Shine merasakan kerinduannya? Darien rindu. Sangat-sangat merindukan gadis itu, hingga bahkan rasanya ia ingin mati jika Shine tidak juga menatapnya. Darien tidak tahu apa kesalahannya. Semua baik-baik saja, sampai dua minggu yang lalu.


Di balik kebungkamannya, Shine menarik setiap ujung bibirnya. "Katakan padaku Dar. Katakan padaku jika kau telah menepati janjimu?" 


Lalu sedetik kemudian, Shine mengangkat wajahnya. Membiarkan netra Darien menangkap kehancurannya. Membuat Katarina merasa tidak bernapas dan bergetar sakit di tempat duduknya.


"Jangan diam. Ku mohon katakan padaku jika kau sudah menepati janjimu." 


Ya, katakan padanya. Di akhir kekuatannya Shine menyerah dalam isakan. Ia memang bodoh. Ia membiarkan luka kembali menyelimuti kesadarannya dan mengukungnya dalam kesedihan. 


Biar saja kedua manusia itu tahu keadaanya. Bukankah ia sudah memilih untuk berpura-pura bodoh? Tapi Darien memaksanya. 


Jadi kini biarkan dirinya menagih janji di atap sekolah.


"Hey, hey, hey, bukankah kau sudah berjanji padaku untuk tidak menangis lagi? Diamlah Shine, kau merusak acara kita."  bujuk Mica. 


Mica segera membawa Shine ke dalam dekapannya. Menenangkan gadis itu, agar tidak semakin histeris, atau Darien akan menghancurkan semuanya. Pertengkaran ini bisa menjadi lebih dasyat. Shine yang marah bukanlah hal yang baik untuk ditentang. Dan jika masalah ini masih terus dilanjutkan, maka Adam akan ikut turun tangan.  Itu akan sangat buruk. 


Sementara itu, Darien mematung. Tidak ada satu pun kata yang terlontar dari bibirnya. Ia tidak bisa mengelak. Dan tangisanya semakin memilu saat menyadari kesalahannya.  


Katarina sendiri hanya mampu menangis tanpa suara. Benar-benar seperti keledai yang bodoh.


"Pergilah menjauh Darien. Jika waktu adalah hukuman untukku, maka kau adalah pengkhianat di mataku."  


Bagai terhempas ke dalam lautan, baik Darien, Katarina dan Mica menekan dada mencari udara. Kalimat itu jelas ambigu, namun perintah yang terlontar bagai pisau yang merobek relung hati. Darien menatap Shine tidak percaya. Betapa jahatnya gadis itu? Ia memang salah menjalin hubungan dengan sahabatnya sendiri yang juga sahabat baik Shine, setelah Shine menyatakan perasaanya. Tapi bukankah gadis itu hanya tengah bermain-main?


Haruskah Shine mengatakan dirinya seorang penghianat?


Katarina menangis tergugu. Ia jelas mengerti siapa yang dimaksud oleh gadis mungil itu. Tapi apa lagi yang bisa ia perbuat? Maaf bukan jalan penghuhung. Shine benar-benar membencinya. Bahkan setelah ini Katarina yakin ia akan kehilangan gadis manja itu. 


"Shine, kau salah. Aku bisa menjelaskan semuanya." 


"Aku membencimu Darien. Sangat membencimu." 


"Shine, ku mohon dengarkan aku. Aku,—"


"Jangan lanjutkan Darren. Shine dalam keadaan yang tidak baik. Aku akan membawanya pulang." 


Mica menahan ucapan Darren, lalu dengan cepat mengangkat Shine dan membawanya pergi. Percuma saja Darrel melakukan pembelaannya. Shine terluka terlalu dalam. Mengajaknya bicara hanya akan membuat Shine semakin tidak terkendali. 


Jika Darien hanya ingin menyampaikan kata maaf atau menjelaskan duduk perkaranya, maka itu tidak perlu.  Sesuatu yang hanya membenarkan tindakannya hanya akan membuat Shine semakin sakit hati.  Dan Mica tidak bisa  membiarkan Shine semakin terluka.




Reality (Part 7)

 Kisah ini, apa akan seperti ini? Bantu aku meski hanya sebuah jawaban. 


─Shine




***************************************






Dalam sebuah kehidupan ada ikatan dimana bukan hanya saudara atau keluarga yang dapat menjadi teman dalam kesendirian. Sahabat adalah saudara yang tidak sedarah. Sebagian orang mengatakan daun tidak selamanya dapat mengantikan tangkai. Atau pun akar menggantikan benih, tetapi hati lebih dari sekedar cinta. 


Mungkin ketika lisan tidak mampu menyerap makna, maka untaian akan terasa baik dibalik sebuah senyuman. Apa yang pernah ia katakan? Mencintai dan dicintai, itu hanya sebuah harapan.  Hari ini semua akan menjelaskan setiap rasa yang tertuang. Meski jika luka dan tawa tidak mampu memastikan, Shine tetap melangkah tenang keluar dari kantin sekolah. 


Matahari bersinar dengan terik. Gadis ini sedikit menikmatinya. Musim panas memang menggerahkan, namun angin yang berhembus dapat sedikit menyegarkan pori-pori. Batang-batang pohon juga terlihat indah. Ada beberapa kuncup bunga nampak layu tidak berdaya berkat terpaan sinar matahari.


Tiga minggu nyatanya menjadi waktu yang panjang bagi pemulihannya.  Shine bahkan yakin ia melewati akhir musim penghujan begitu saja. Kini air akan terasa membakar bila terlalu lama terkena terpaan matahari. 


Shine menyusuri koridor yang sedikit riuh berkat lontaran-lontaran tawa para murid perempuan. Sesekali gadis ini mengalihkan pandangannya. Bola basket memantul membentuk bunyi gema yang berbeda. Seperti permainan para amatir pemukul drum. Tidak ada Mika atau Darien, tapi Shine yakin kedua pria itu tengah asik menikmati panas di atap tertinggi.



"Selamat iang Shine," 


Shine tersenyum kecil, lalu menghentikan langkahnya sejenak untuk menanggapi sapaan beberapa anak laki-laki yang mencoba menarik perhatiannya. 


"Siang," balasnya. 


"Woah, kau semakin cantik saja."


"Benarkah? Terimaksih jika begitu." ucap Shine, lalu kembali melanjutkan langkahnya. 


Kejadian beberapa minggu yang lalu beruntung tidak tersebar. Shine yakin ketiga sahabatnya yang telah meredam bibir-bibir iblis yang bisa saja menghancurkan nama baiknya. Dan Shine benar-benar bersyukur atas hal itu. Dengan begitu traumanya dapat pulih dengan cepat. 


Berbelok ke kiri, Shine perlahan menaiki tangga menuju atap. Beberapa hari terakhir Darien sedikit berubah dan menjadi jarang mengunjunginya lagi. Berbeda dengan Katarina dan Mica yang sesekali datang melihat keadaannya. 


Shine menghela nafas. Bolehkah ia jujur? Ingin sekali rasanya Shine melukai dirinya sendiri saat mengingat kenyataan jika tubuhnya telah ternoda. Namun sebagaian hati kecilnya menghalangi. Ia takut, takut jika kematian adalah pilihan yang salah. Shine hanya berpura-pura bersikap tegar demi senyum dibibir renta Merry. 


Dokter mengatakan ia harus tenang untuk menghilangkan rasa traumanya. Dan Shine berusaha untuk kembali ceria demi Merry. Mica selalu menyemangatinya. Shine merasa beruntung pria itu rela berada di sisinya sepanjang waktu, meski bahkan Shine tidak menanggapi kehadirannya dengan perasaan yang gembira. 


Masih melangkah lambat, sesekali Shine tersenyum kecil membalas sapaan para junior. Tingkat dua membuatnya sedikit dikenal.Terlebih ia juga menjadi salah satu sahabat dari dua pria tampan yang menjadi incaran di sekolah ini.  Tapi terkadang Shine mengutuk level ketampanan Darien yang berada di atas rata-rata, karena itu sangat mengganggu. Terutama ketika para gadis berusaha untuk mencuri perhatiannya. 


Shine tersenyum samar, saat mengingat kembali percakapannya dengan Mica.   


"Jangan sampai kau menyesal, jika pada akhirnya gadis lain memiliki Darien lebih dulu." 


Mica mengatakan hal yang benar.  Dan kalimat terakhir pria itu sukses membuat Shine membulatkan tekadnya. Ia berdiri tegap di depan pintu atap sekolah, lalu membukanya dengan sangat perlahan. 


Shine mengakuinya. Jika seseorang memiliki Darien, mungkin ia akan meneguk racun rasa vanilla, lalu mati karena frustasi. 


Dariennya yang tampan. Shine tidak akan pernah rela melihat pria itu bersama gadis lain. 


"Darien," panggil Shine. 




*****





Jika di atap sekolah Shine menguatkan hatinya untuk menemui Darien, maka di tempat ini Katarina bergetar menahan malu. 


Katarina menutup matanya sesaat. Ia sedikit menyesali tindakannya yang dengan lancang mengungkapkan perasaan tanpa memikirkan perasaan pria itu. Dengan kepala tertunduk Katarina berusaha menyembunyikan rona merah di kedua pipinya, dari manik yang terus menatapnya. 


Taman belakang sekolah begitu sepi. Rindangnya pepohonan membuat tempat ini menjadi salah satu tempat favorite mereka dikala kantuk melanda. 


Pria itu masih berdiri dengan raut wajah datar. 


"Kau menyukaiku?" tanyanya. Mica mengerutkan dahinya tidak mengerti.  Ia anya menganggap Katarina sebagai seorang sahabat, tidak lebih. Dan sejauh yang Mica ingat, ia tidak pernah sekalipun memberikan perhatian lebih kepada Katarina, sehingga gadis itu bisa jatuh hati kepadanya. 


Namun, sesaat kemudian Mica menyadari kebodohannya, ketika pundak kecil itu bergetar.  Katarina tidak pernah terlihat serapuh itu. 



"Maaf, aku hanya ingin memastikan." ucap Mica kembali. Berharap Katarina tidak menyalahartikan pertanyaannya yang seolah mencibir. 


Katarina mengangkat kepalanya cepat, lalu menggeleng. "Tidak, tidak. Aku benar-benar menyukaimu." jawabnya gugup. 



Tidak alasan baginya untuk kembali ragu.  Ia sudah melangkah terlalu jauh, jadi ia hanya harus berusaha untuk menyelesaikan semuanya. 


"Aaa, jadi aku tidak salah." lirih Mica. 


Mica memalingkan wajahnya. Membuang nafas dengan susah payah. Ini gila.  Ia hanya menyukai Shine. Tapi kenapa Katarina juga memiliki perasaan yang sama kepadanya? Mica mengerang dalam hati. Ia kemudian menarik napasnya lambat, mencoba untuk kembali tenang. 


Bagaimana pun juga ia bukan tipe pria yang suka mempermaikan hati seseorang.  Dan Mica tidak ingin melukai perasaan Katarina dengan cara berpura-pura menyukai gadis tersebut, hanya karena rasa kasihan.


Jadi dibanding memberikan harapan, Mica memilih untuk bersikap terbuka. 


"Maaf Kat, tapi aku mencintai Shine."  jawab Mica jujur.  


Baginya, itu adalah jalan yang terbaik. Ia tidak mungkin bisa mencintai Katarina.  Sekali pun seseorang memaksanya, hatinya hanya miliknya. Dan seberapa keras pun Mica berusaha membunuh perasaannya, Shine tetap tidak pernah pergi dari hatinya. 


"Jadi, — kau menyukai Shine?  Aaa, maafkan aku jika begitu."


Mica mengepalkan tangannya. Dari getar suara lembut itu Mica bisa memastikan jika Katarina sedang menangis. Dan Mica benar-benar mengutuk perilaku jahatnya, saat mata indah itu mengalirkan butiran-butiran lahar kepedihan. 


Katarina berusaha mengabaikan apapun yang Mica katakan. Tidak perduli jika sekalipun kelak perduli pria itu akan mencemoohnya, Katarina tetap memandang lensa hitam yang telah menaklukkan hatinya tersebut. 


Berharap seseorang bisa menolongnya dengan jika pendengarannya terganggu. Atau mengatakan kepadanya jika Mica hanya menipu dirinya. 


"Ya, maka tolong lupakan aku. Lupakan perasaanmu." 


Namun suara yang menjawab permohonannya mendengung begitu keras. Katarina menahan napasnya. Nada yang menyendu bersama angin yang berhembus membuat pertahanannya rubuh. Ia terperosot jatuh ketika Mica pergi begitu saja.  Air mata yang mengalir bukan lagi menjadi duka baginya.  Katarina benar-benar merasa terluka. Keadaan dimana nyatanya Tuhan lebih memilih mengujinya membuat Katarina sadar ia tidak pernah terlihat. 


Di tempat ini mendekati awal musim gugur, angin membawa pergi seluruh hatinya. Meninggalkan kata yang tidak terucapkan, dan meninggalkan rasa yang tidak terbalaskan

Reality (Part 6)

 Sebuah kisah lebih baik dari tutur kata yang terdengar. Biarkan seperti ini, karena aku menikmatinnya. ─ Darine




***************************************






"Anak-anak tolol!" teriak Shine lantang. Shine masuk ke dalam ruang kelasnya, dan membanting begitu saja tas yang sejak tadi ia sandang. 


"Wow, wo, slow girl. Ada apa denganmu?" 


Katarina mengernyit bingung. Shine terlihat mengerikan di matanya dengan rambut acak-acakan dan kemeja yang basah berkat keringat yang merembes. Ini bahkan masih terlalu pagi, namun gadis itu sudah tampak mengenaskan. 


"Kondom dan pil? Sinting! Apa mereka tidak memiliki pikiran?!"


"Ck, Ada apa denganmu? Kenapa kau marah-marah?" 


"Brengsek!!"


"Kau gila? Apa yang kau katakan." tegur Katarina. 


Ia menatap Shine marah. Yang benar saja! Jika Darien dan Mica mendengar itu Shine mungkin tidak akan selamat. Darien bisa saja memarahinya semalam suntuk, dan Mica akan dengan senang hati menjelaskan bahwa kalimat-kalimat itu sangat tidak pantas keluar dari bibir Shine yang memiliki sifat lembut dalam hal apapaun. Jadi Cukup aneh ketika Shine justru mengucapkan kalimat tersebut dengan raut wajah tidak biasa. 


Shine membuang napasnya kasar, lalu merangsek duduk masih dengan emosi yang meluap-luap. "Itu bukan kalimatku! Anak-anak bodoh itu yang mengucapkannya." ucapnya kesal. Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, kemudian menangis terisak. 


Katarina terkejut.  "Hey, kenapa menangis Shine? Apa yang mereka lakukan? Apa mereka menyakitimu? Katakan padaku.". Melihat Shine tidak merespon, Katarina segera menarik kursinya mendekati, lantas memeluk Shine dengan erat. 


Ruang kelas masih cukup sepi karena memang masih begitu pagi. Hanya beberapa murid wanita yang terlihat. Beberapa orang nampak memperhatikan Shine, namun yang lainnya lebih memilih berbisik-bisik.  Katarina mengusap lembut punggung Shine mencoba menenangkan gadis itu, karena Shine tidak akan perrnah mau bicara jika tangisannya masih belum usai. Namun saat tubuh mungil tersebut bergetar Katarina justru semakin merasa cemas. Bagaimana jika seseorang mencoba melukai Shine?  Adam mungkin akan memaki mereka semua setelah ini, sementara ia bahkan tidak mengetahui apapun. 



Pagi ini ia memang terpaksa pergi lebih dahulu, karena sang ayah memintanya untuk berkunjung ke perusahaan. Meski tidak masuk akal Katarina tetap menyanggupi dan datang tepat di pukul lima pagi, sehingga Katarina terpaksa membatalkan janjinya kepada Shine untuk berangkat sekolah bersama.


"Shine, jangan menangis lagi." bujuk Katarina. 


"Kat,—" Shine mencoba bicara, namun isakannya membuat tenggorokannya tercekat. Rasa takut kembali menyergap perasaannya, membuat Shine kembali panik dan menangis keras. 


"Ada apa Shine? Jangan membuatku takut."


"Mereka,— mereka menyentuhku. Mereka melakukannya Kat. Aku harus bagaimana?" 


"Apa???" jerit Katarina. Katarina menggebrak meja. Ia benar-benar terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja Shine katakan. Otaknya mulai berpikir yang tidak-tidak, tetapi sebisa mungkin Katarina mengelaknya. 


"Tolong aku Kat," bisik Shine lirih. 


Katarina membeku. Jantungnya berdebar kuat saat Shine mengangkat wajahnya dan menatapnya sakit. 


"Apa yang mereka sentuh?" Tanya Katarina. Nada suaranya menyusut signifikan. Katarina mengusap lembut rambut hitam Shine, mengabaikan tingkahnya beberapa detik yang lalu.  Ia tidak peduli banyak mata kini memandang aneh padanya. Bagai Katarina Shine jauh lebih penting. Katarina kembali mendekap tubuh Shine. Ia benar-benar menyesal membiarkan Shine berkeliaran seorang diri. 


"Kat, bagaimana ini? Aku takut mereka mencariku. Tolong aku." 


Masih dengan isakannya Shine membalas pelukan Katarina. Menatap gadis bermata cantik itu dengan pandangan memohon. Ia benar-benar merasa takut hingga tubuhnya bergetar kuat. Shine bahkan masih mengingat jelas bagaimana berandalan-berandalan itu menyentuh tubuhnya.


"Katakan, katakan padaku apa saja yang mereka lakukan. Berhenti menangis sayang, aku akan membunuh mereka." ucap Katarina bergetar. Pertahanannya runtuh membayangkan bagaimana ketakutannya Shine saat melawan pria-pria itu. Shine seoorang diri tanpa dia atau Darien, dan juga Mica. 


Melihat Katarina menangis, Shine kembali meloloskan isakannya.  Membiarkan bibirnya bergetar kuat, tanpa memperdulikan teman-temannya yang  semakin penasaran.  



Shine tidak menyangka hal itu akan menimpa dirinya di saat Darien atau Mica tidak berada di dekatnya.  Karena Katarina membatalkan janjinya,  Shine terpaksa memilih berangkat seorang diri dengan menyusuri jalan setapak yang sepi. Tadinya Shine hanya berpikir jika jalan tersebut akan memotong waktu yang ia perlukan, karena dulu Mica pernah membawanya melalui jalan itu.  Tetapi saat Shine memasuki jalan tersebut sedikit lebih dalam, beberapa pemuda menengah pertama mencegat laju langkahnya. Shine ingin melawan, namun ia mengurungkan niat itu saat bau alkohol menyerang penciumannya.  Para lelaki itu mabuk.


Merasa dalam bahaya Shine mencoba untuk menyelamatkan diri. Namun belum sempat ia berlari, seorang pemuda lebih dulu menahannya dan menghempas kasar tubuhnya pada batang pohon yang keras. Mengukungnya dengan mencekal kedua tangannya.  Dalam keadaan cemas Shine hanya bisa melontarkan kalimat-kalimat kotor, sembari memikirkan cara untuk membebaskan diri. Tapi kungkungan tangan disekitar tubuhnya membuat Shine tidak mampu melakukan apapun. Lalu ketika seorang pemuda lain menyentuh dadanya, dengan kekuatan yang entah dari mana Shine menendang alat vital pria yang tersebut, lalu berlari secepat yang dirinya bisa.


Katarina menggeleng tidak percaya mendengar cerita Shine. Shine menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya, membuat Katarina sedih bukan kepalang. Katarina meraih kedua tangan Shine, lalu menghapus air mata sahabatnya itu yang tidak berhenti mengalir deras. 


"Katakan padaku siapa yang melakukannya?" 


Namun Katarina harus lagi-lagi terkejut ketika sebuah geraman menyela dengan begitu menakutkan. Di hadapannya Shine semakin bergetar dan menunduk ketakutan. Katarina memaling, detik berikutnya gadis itu menahan seluruh nafasnya ketika mendapati Darien dan Mica telah berdiri garang di balik punggungnya.


Tidak mampu menanggapi, Katarina memilih diam dan semakin mengeratkan genggaman tangannnya. Manik mata Katarina hanya mampu menatap takut manik mata Darien yang memerah murka seolah siap untuk membunuh seseorang. Sementara Mica belum bersuara, namun pria itu juga berdiri dengan wajah khas malaikat pencabut nyawa.


"Katakan siapa yang MELAKUKANNYA?!!" 


Shit! 


Katarina terlonjak terkejut mendengar teriakan itu. Beberapa murid juga memandang mereka dengan cepat lalu mengernyit tidak mengerti. 


Darien benar-benar mengerikan ketika murka. Mica berulang kali mengumpati sikap sahabatnya itu di dalam hati.  Detak jantungnya bergemuruh berkat hardikan bibir iblis Darien. Siapa yang tidak terkejut? Ia bahkan berdiri tepat di sisi pria tampan itu.


"Bicaralah Kat, atau kau akan melihat pria ini membunuh seseorang." 


Pada akhinya Mica mengangkat suaranya untuk menegur Katarina yang kembali memilih bungkam dengan menundukkan kepalanya. Jika hanya diam saja Darien akan semakin tak terkendali. Bertanya pada Shine juga hanya akan membuat gadis itu semakin ketakutan. Dan percayalah itu hanya semakin memancing tanduk siluman Darien mencuat keluar.


"Aku tidak mengetahui apapun Mica. Shine hanya mengatakan kepadaku, jika pemuda disekitar jalan setapak Aleumdaum,—"


"Brengsek!!!" 


Belum sempat Katarina menarik nafasnya untuk menenangkan diri, teriakan Darien sudah kembali menekan debaran jantungnya. Pria itu menerjang meja dan kursi dengan membabi buta. Membuat para murid lainnya memilih berlari keluar untuk menyelamatkan diri. Mica yang mencoba menenangkan justru harus menerima satu pukulan di pipi kanannya. 


"Darien stop!!" 


Katarina menjerit keras manakala Darien berlari keluar dengan cepat. Ia tahu betul tahu apa yang akan dilakukan pria tampan itu. Tidak ingin terjadi hal buruk cepat-cepat Katarina bangkit berdiri. Ia melepas genggaman tangannya pada Shine, lalu berlari mengejar Darien.


Mica mendengus melihat tingkah Katarina yang dengan polosnya berlari. Apa gadis itu berpikir bisa menenangkan Darien? Salah-salah juatru Darien melampiaskan kemarahanya kepada Katarina. Menenangkan seluruh emosinya Mica merenggangkan kepalan tangannya. Ketika mendengar isakan Shine, Mica beranjak mendekat lalu menarik Shine ke dalam pelukannya. 


Mica mengusap setiap helaian rambut Shine untuk memberikan rasa aman kepada gadis itu. Dan beruntung Shine bisa sedikit mengurangi isakannya.  Mica tersenyum sedih. Gadis dalam pelukannya itu adalah gadis yang dicintainya, lalu bagaimana ia harus bersikap? Mica tidak tahu. 


Mica ingin melakaukan hal yang sama seperti yang Darien lakukan. Tapi ia tidak mampu meninggalkan Shine seorang diri dalam trauma ketakutannya. Setidaknya jika ia tidak bisa menjadi pahlawan bagi Shine, ia bisa berguna dengan pelukannya. Setidaknya, rasa sayang yang yang dirinya miliki dapat tersampaikan dirasakan kepada Shine. Shine tidak perlu mengerti. Asalkan Shine merasa aman itu sudah lebih dari cukup bagi Mica. 


"Berhentilah menangis, aku ada disini. Ayo, aku akan mengantarmu pulang." Bisik Mica lirih. Mica mengangkat Shine, membawanya keluar tanpa memperdulikan tatapan bingung yang teman-temannya lemparkan. Biarlah. Tatapan itu tidak berpengaruh untuknya. Bagi Mica hanya satu yang ingin ia lakukan, yaitu menenangkan Shine dan membuat gadis itu merasa aman. 




******




Katarina terus berlari cepat. Dedaunan yang gugur di atas kepalanya tidak lagi dihiraukan. Kakinya seperti tidak merasakan letih meski peluh membanjiri dahi putihnya. Dari titik di dalam kelasnya, hingga kini ia telah berada dijalan setapak katarina masih berusaha menyusuri setiap tempat untuk mencari sosok sahabatnya tersebut. 


Sekali lagi gadis ini berbelok, menyusuri cabang kiri untuk membawanya menuju jalanan di sekitar perumahan Shine. Dan benar saja. Tepat di ujung sana, di bawah batang pinus yang besar Katarina menemukan Darien. Pria itu terlihat melayangkan pukulan bertubi-tubi pada seorang brandalan yang telah terkapar tak berdaya. 


"Darien berhenti! Apa yang kau lakukan dia bisa mati!" Teriaknya keras. 



Katarina berlari mendekati, lalu  menarik tangan Darien, mencoba menarik pria itu untuk menjauhi tubuh para brandalan itu. Namun emosi yang melingkupi hatinya membuat Darien menutup mata.  Darien melepas genggaman itu dan kembali menerjang tanpa ampun. Membuat Katarina berjengit terkejut, lalu dengan segera kembali mendekap Darien.


"Cukup Darien. Kau akan membuat nyawa pria brengsek itu melayang." ucap Katarina. Ia sedikit bergetar takut mendapati sahabatnya yang terlihat tidak biasa.  Darien begitu terlihat muka murka. Ada cubitan aneh yang merasuk ke dalam perasaanya ketika Katarina menyadari Darien seperti seorang kekasih yang tengah membalaskan rasa sakit gadisnya. Entah mengapa Katarina mendadak merasa tidak terima.


"Lepaskan aku Kat! Aku harus menghabisi mereka!!" 



Pria itu kembali berteriak keras.  Darien bergerak mencoba melepaskan diri, namun Katarina tidak membiarkannya begitu saja. Dengan kuat Katarina memeluk tubuh Darien. 



"Tidak, kau tidak boleh melakukan itu. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi seorang pembunuh." 


"Kat,"


Katarina menggeleng kuat, dan semakin memperkuat pelukannya. Darien mengerang frustasi. Ia berteriak keras menyalurkan rasa sesaknya. Namun sekali lagi Katarina tetap tidak bergeming. Darien benar-benar menyesal tidak menemani Shine.  Ia tidak bisa menerima pelecehan yang diterima gadisnya.Jika saja ia mendengarkan perintah Adam saat itu untuk menjemput Shine, semua ini tidak akan pernah terjadi. Kembali Darien berteriak lebih keras. Parasnya terlihat kacau dan jemarinya menarik helaian rambut seperti orang gila yang tidk terkendali.


"Tenanglah Dar, mereka sudah tidak berdaya. Apa kau tidak ingin menemui Shine?" 


Ada tetesan bening ketika hati itu tergores. Katarina menggigit bibirnya, ketika Darien mengabaikan keberadaannya. Katarina berdiri dihadapan Darien dengan menahan kedua lengan pria itu dalam genggaman tangannya.


Berbeda halnya dengan Darien. Aliran darahnya mendadak terasa tersumbat seperti tidak mengalir. Nama Shine yang terlontar dari bibir Katarina menyadarkan kebodohannya.  Darien mengacak rambutnya kasar. Bagaimana bisa ia justru meninggalkan Shine seorang diri tanpa menenangkan gadis itu terlebih dahulu. 


Bodoh.


Menatap para berandalan itu, Darien kemudian meludah sebagai perpisahan terakhirnya. Lalu tanpa banyak berpikir, Darien segera menarik Katarin membawanya menuju motor yang terparkir di ujung jalan setapak. 


Segala hal yang membuatnya hancur ditepisnya beberapa saat. Saat ini yang menjadi fokus utama Darien ialah segera tiba di kediaman Haichi untuk menenangkan Shine. Semenatara Katarina hanya diam tanpa berniat bersuara. Bibirnya tersenyum samar, miris mendapati kebodohannya. 


Bagaimana bisa ia merasa cemburu mendapati Darien begitu memperdulikan Shine. Bahkan hanya dengan menyebut nama Shine saja, Darien menghentikan semua kemarahannya. Bersamaan dengan terpaan angin yang menyentuh wajahnya, Katarina menyadari ada rasa tak kasat mata yang mencoba membuainya. 


Katarina merasakan hal yang sama seperti yang Shine rasakan. Darien. 





****






Ruangan bercorak putih ini masih sunyi meski suara di balik kaca jendela begitu berisik. Detakan pada jam sesekali menyadarkan Mica jika waktu masih terus bergerak. Pintu dan tirai gorden yang tertutup membuatnya merasa seperti sedang berada didalam ruang isolasi. Sesekali isakan masih terdengar lirih. Ada bubur dan susu chocolate hangat namun tidak tersentuh.


Nakas terlihat penuh. Berbagai macam buah disediakan bagi sosok gadis yang masih tetap meringkuk takut di balik selimut. Langit masih cerah, karena ini masih hari yang sama. Mica mencoba beranjak, menarik selimut lalu menatap iba Shine yang terlelap namun masih dengan sesekali mengisak. Beruntung Haichi berada dikedimannya. Meskipun pria tua itu juga cukup shock dan marah, namun Haichi masih mampu mengendalikan dirinya dan juga menenangkan Merry yang menjerit-jerit. Pria tua itu juga cekatan memanggil dokter setelah berhasil menenangkan putrinya, juga membujuk Shine untuk tidur sebentar.


Pintu berderit. Mica berpaling singkat. Ia sedikit menyungging senyum miris ketika Darien bergegas masuk bersama Katarina yang mengekorinya. Pria itu menggeser posisi Mica yang duduk di sisi Shine. Darien juga mengusap lembut setiap inci dahi Shine yang kembali berkerit ketakutan. 


Darien tampak berantakan. Cipratan darah terlihat kontras dengan seragam putihnya. Mica menundukkan kepalany.  Sepertinya Darien berhasil menjadi seorang pahlawan. 


"Bagaimana keadaaanya?" 


Mica mengangkat kepalanya untuk sesaat menghela nafas, sebelum akhirnya  melangkah mendekati Katarina yang hanya berdiri di ujung ranjang.


"Dokter sudah memeriksanya. Kondisi fisiknya baik-baik saja. Tapi, Shine sedikit tertekan dan,—"  Mica menghentikan sesaat ucapannya, lalu membuang napasnya kasar. 


"Shine juga trauma." lanjut Mica lirih. 


Mica dapat mendengar Darien kembali mengerang emosi. Kedua sudut bibir Mica bergerak. Wajar bukan? Pria itu menyukai Shine, sama seperti dirinya.


"Aku bersumpah akan mengirim bajingan-bajingan itu ke neraka." 


Tentu, bisik hati Mica dan Katarina. 


Shine segalanya bagi Darien. Geraman pria itu bahkan sudah menunjukkan betapa berartinya Shine di dalam hidupnya.  Katarina menatap sendu tubuh ringkih itu. Sejujurnya ia juga ingin berada di sisi Shine. 


Namun Katarina sadar, untuk saat ini hanya Darien yang Shine butuhkan. Katarina mengangguk samar. Ia hanya perlu bersabar. Setidaknya esok hari banyak waktu yang dapat digunakannya untuk menghibur si mungil kesayangannya itu.


Sementara di tempatnya berdiri Mica mencoba sekuat mungkin menekan hatinya semakin ke dalam. Kemudian melangkah keluar, membiarkan udara mencemooh kerapuhannya. Pengecut.  


Harusnya ia juga bisa melakukan hal yang sama. 


Harusnya dirinya juga bisa menunjukkan rasa cinta itu.



Tapi,


Ia terlalu pecundang untuk melakukan sesuatu. Jika sudah begini hanya diam saja yang bisa dirinya lakukan.





*****




Matahari bersinar terang di atas kepala ketika manik lembut yang telah lama terpejam itu perlahan terbuka. Darien masih di posisinya, menatap awan dari balik jendela. 


Mica dan Katarina berada di lantai bawah untuk menenangkan Merry. Namun Darien memilih bertahan. Sejak tadi ia tidak bergerak satu inci pun. Jantungnya masih bergemuruh keras. Rasa sesaknya juga belum berkurang, meski nafas Shine telah berhembus dengan normal. 


"Mom." 


Darien memaling wajahnya, lalu segera menarik Shine ke dalam pelukannya. Gadis itu masih bergetar dalam tangisannya. Mata kecil itu terbuka, namun kosong seolah tanpa jiwa.


"Berhentilah menangis sayang, aku ada di sini." Bisik Darien.


Darien mengepalkan tangannya di balik punggung Shine. Hatinya tertikam keras ketika gadis itu semakin mengisak dan memeluknya begitu erat. Ini salahnya. Darien semakin mengutuk keteledorannya. Jika saja ia menjalankan perintah Adam. Jika saja, maka hal ini tidak akan pernah terjadi. Bagaimana pantas ia mencintai Shine, jika menjaganya saja ia tidak bisa. 


"Tapi kau tidak ada. Aku memanggilmu, tapi kau tidak datang. Aku takut. Mereka,— mereka menarikku Darien. Mereka tidak mengizinkan aku pergi." 


Semakin nafasnya menyesak, semakin kuat cengkraman pada dadanya. Ingatan yang berputar-putar membuat seluruh tubuhnya lemas. Shine menutup matanya kuat. Ia disentuh bukan dengan pria yang dicintainya. Para pria brengsek, Shine membencinya.


"Maafkan aku Shine. Jangan takut lagi, aku sudah menghabisi mereka." 


"Mereka jahat padaku."


"Maaf, aku benar-benar minta maaf Shine. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu sendirian lagi."


Darien menekan kuat emosinya yang kembali menguap, sekalipun amarah itu mendesak untu keluar. Hanya saat ini Darien berjanji. Karena setelah detak merubah warna, Darien pasti akan menghabisi para pria brengsek itu dengan kedua tangannya. 


Sampai kapan, Darien tidak akan pernah memafkan brandalan-brandalan sinting yang telah berani menyentuh gadis kesayangannya. 


"Aku sudah benar-benar kotor. Mereka melecehkanku, Darien." 


Ya Tuhan, Darien benar-benar tidak kuat mendengar Shine yang tergugu sakit. 


Setiap kalimat yang terlontar dari bibir tipis itu, Darein merasa ingin mati saat itu juga. Cengkraman ketidakberdayaan membuatnya merasa tidak pantas hidup. 


"Tidak, tidak. Jangan berkata seperti itu Shine. Kau masih sama cantik. Kau tetap Shine yang aku sayangi. Jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak. Kau dengar?!" jawab Darien. pria itu dengan cepat menangkup wajah Shine, lalu mengarahkan pada lensa hitamnya. 


Darien menatap geram manik mata Shine, namun jemarinya mengusap perlahan setiap tetes yang mengalir. Hatinya luar biasa terluka mendengar kenyataan sakit yang diucapkam oleh Shine.  Tidak. Darein tidak perduli pada sebuah noda. Namun kenyataan trauma yang didapat Shine menghancurkan kepercayaan dirinya. Melihat Shine yang begitu frustasi, Darien bisa memastikan dia siap menjadi seorang pembunuh jika itu bisa membuat Shine kembali tersenyum.


Tapi bagaimana dengan Shine? Tanpa sosok itu ketahui, sebuah pikiran melalang buana mencari kejujuran. Sudah berapa banyak kehangatan yang Darein berikan? Sudah berapa lama Darein menemaninya? Sudah seberapa lelah Darien menjaganya? 


Shine menggeleng kecil. Ia tidak tahu. Shine ingin mempercayai kalimat Darien, namun hatinya tidak bisa.  Kenyataanya tidak ada manusia bodoh yang mau menerima gadis kotor seperti dirinya? Tidak ada.


Shine tidak mau Darien kesusahan karena menjaganya.  Dan Shine tidak mau menuntut siapa pun bertahan menemaninya. Tidak meskipun itu Mica dan Katarina. Mereka sepantasnya bebas tanpa terkungkung pada dirinya yang hina. Biar saja bisu yang menjadi temannya. Karena jika saja sang tabir mengungkapkan jati diri, ia mungkin akan diam dalam kesendirian. 


Tidak ada yang tahu keduanya sama-sama terluka. 


Di balik daun pintu yang tertutup dua pasang mata menatap sendu, namun sekali lagi dengan arti yang berbeda.



"Ingin ku antar pulang?" tawar Mica. 


Katarina menggeleng. 


"Aku masih ingin di sini. Shine belum terluhat baik." 


Benar, Shine masih terlihat terguncang. Tapi apa yang bisa mereka lakukan? Darien berada di garis terdepan. Tentu saja pria itu tidak membutuhkan mereka. 


"Ada Darien di sana. Aku yakin Shine lebih membutuhkannya dibanding kita berdua. Lagipula ayahmu akan merasa cemas jika mendapat kabar kau membolos sekolah." bujuk Mica. Ia berharap Katarina mau merubah pikirannya. Karena Mica tahu betul Darien tidak akan mengizinkan mereka menemani Shine, meski hanya untuk satu malam.


Bagi Darien tugas untul menjaga Shine hanya miliknya seorang. Mica tidak keberatan dengam itu, hanya saja Katarina menjadi lebih sulit berada di dekat sahabatnya sendiri. Darien seolah memberi jarak diantara kedua gadis tersebut. 


"Tidak Mica. Aku akan menghubungi ayah nanti. Tapi aku tidak akan pulang." 


Tetapi Katarina juga bukan gadis yang mudah menyerah. Mica mengerang melihat kekeraskepalaan gadis cantik itu. Katarina hanya membuang waktunya saja, karena Darien pasti akan mengusir mereka segera. 


"Aku tahu Darien tidak akan mengizinkan aku tidur bersama Shine, tapi setidaknya,— aku ingin Shine tahu jika aku akan selalu berada di dekatnya. Aku tidak akan meninggalkannya seorang diri."  lanjut Katarina. 


Mica terhenyak. Ia bisa melihat di pelupuk mata gadis itu cairan bening menumpuk siap untuk terjun bebas. Katarina menundukkan kepalanya. Lalu seperti yang sudah Mica pikirkan, gadis itu mengisak kecil. 



"Ck, kenapa kau justru menangis?" decak Mica. 


"Aku tidak mau pulang, Mica." 


"Tapi kau tidak perlu menangis seperti itu. Bagaimana jika Shine melihatnya? Shine busa berpikir yang tidak-tidak." 


"Habisnya, kau terus memaksaku. Kau membuat aku khawatir, jika kau akan benar-benar membawaku pulang." 


Mica menghembuskan napasnya lelah. Katarina selalu mampu membalikkan setiap ucapannya begitu mudah. Sementara Mica hanya bermaksud ingin mengantarkan gadis itu pulang,  agar Katarina bisa beristirahat. Setidaknya ketika ayahnya kembali Katarina berada di dalam rumahnya, jadi ayahnya tidak akan berpikir yang tidak-tidak. Lagi pula berada di tempat ini atau tidak semua akan tetap sama saja. Darien tidak akan lagi mengizinkan mereka masuk ke dalam kamar Shine, karena pria itu akan berada di sana selama yang ia mau. 


Akan tetapi Katarina justru bertingkah seperti dirinya memaksa pulang kekasihnya sendiri. Mica jadi merasa bersalah, terlebih ketika Katarina menangis. 



"Aku tidak memaksa Katarina. Aish, kau membuatku pusing."  keluh Mica, lalu berjalan  ke arah sofa dan membanting tubuhnya begitu saja. 


Katarina mendengus, namun tetap mengikuti Mica duduk di sana. 


"Maksudmu, aku semacam virus? Begitu?" 


Mica mengernyit. "Apa hubungannya?" tanyanya tidak mengerti. Lalu meringis, saat merasakan pukulan telapak tangan Katarina di atas pahanya. 


"Kau yang mengatakan aku membuat kepalamu pusing. Itu berarti kau menuduhku menyebarkan vurus bukan?!" gerutu Katarina. 


Mica menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. "Otak mungkin cerda ketika mempelajari sesuatu, tapi kau bodoh saat memahami maksud ucapanku."


 Katarina mencebikkan bibirnya. 


"Kau saja yang tidak mengungkapkannya dengan benar. Jadi wajar jika aku salah paham." 


"Ya ya ya, baiklah. Ayo hentikan ini aku mulai lapar."


"Makanan saja yang kau pikirkan. Kenapa kau tidak pulang saja?"


"Setidaknya aku tidak menangis, lalu marah-marah tidak jelas seperti bibi-bibi di pasar. Lagipula ini rumah Shine, bukan rumahmu. Jadi kau tidak bisa mengusirku."


takkk


"Aish, kau pikir itu tidak sakit?!" 


"Rasakan! Apa itu belum cukup? Aku bisa melakukan yang lebih baik dari itu, jika kau mau." 



Mica menatap Katarina kesal, lalu merendahkan tubuhnya untuk mengusap kakinya yang baru saja diinjak gadis itu dengan tidak manusiawi. Katarina sialan. Mica memandang sedih ibu jari kakinya yang memerah berkat tekanan sepatu jelek sahabatnya itu. 


"Benar-benar gadis kasar. Jika sikapmu seperti itu terus, laki-laki bisa saja tidak mendekatimu." jawab Mica sinis. 


Katarina membelalakkan matanya. "Kau menyumpahiku?!" teriaknya. 


Mica yang sadar Katarina bersiap menginjak kakinya kembali segera melonjak jauh. Hampir, hampir saja kakinya terinjak, beruntung Katarina oleng dan terjatuh ke atas sofa. Mica ingin menertawakan kebodohan gadis itu, namun ia batalkan saat melihat wajah Katarina kembali menyendu. 


"Sudah ku katakan kau harus beristarahat sejenak. Kau juga belum sarapan sejak pagi bukan?" 


Mica mengusap rambut hitam kemerahan itu, lantas tersenyum ketika Katarina mengangguk ragu-ragu. 


"Kalau begitu ayo. Aku akan membeli apa yang kau mau." ucap Mica serius. 


"Benarkah?" 


"Hmm, apa yang kau inginkan?" 


"Ramen."


"Baiklah," jawab Mica, sembari mengulurkan tangannya. 


Katarina tersenyum lebar. Ia meraih uluran tangan pria itu dan ikut melangkah turun. Tanpa Mica sadari, langkah kaki itu menjadi awal mula dari keberanian Katarina. 



Jika bukan saat ini, maka tidak ada esok hari, Mica. 

Reality (Part 4)

 



Kisah lama kita hanya sebuah ulasan senja. Aku menemani dalam sepi, dan kau akan membasuh dalam kegetiran. 


─Mica






***************************************





Di tempat ini rintik-rintik gerimis semakin menipis. Sama seperti empat bulan yang lalu hujan sesekali menerpa. Juli adalah musim penghujan sehingga tidak akan ada terik matahari. Angin topan akan secara langsung merusak tanaman. Curah hujan juga akan menunjukkan persentase yang signifikan dibanding biasanya. Untuk beberapa minggu kota ini akan selalu berawan disertai hujan yang sering hingga tiga minggu.


Di waktu yang sama seorang gadis terus berlari-lari kecil menyusuri pinggiran jalan. Membiarkan roda-roda kendaraan yang berlalu-lalang menyipratkan genangan air keruh pada seragam putih sekolahnya. Shine berlari melewati atap-atap toko yang biasa ia singgahi. Sesekali nafasnya berhembus kasar, ketika tanpa sengaja aroma sedap makanan merayapi penciumannya. 


Hingga,


Srattttt 


Shine menghentikan langkahnya, lalu mengeram saat merasakan terpaan air kotor di wajahnya. Mengatur napasnya, Shine kemudian duduk di bangku keramik yang dingin, lalu mendekap erat tubuhnya menggunakan kedua tangan. 


Hujan memang hanya berupa rintikan kecil, namun berkat sapuan air kubangan kini tubuhnya mulai mengigil. Setidaknya flu akan segera menyerang jika ia tidak segera tiba di rumah dan mengganti semua pakaiannya. 


Bergerak perlahan, Shine menatap pergelangan tangannya. Ia menghembuskan nafas berat ketika manik matanya menangkap angka yang cukup sial.  Pukul enam sore.  Senja sudah lebih dulu muncul, dan sudah barang tentu akan cukup lama baginya menanti bus yang ia inginkan. Terlebih halte ini begitu sepi,— menunggu sendiri benar-benar terasa mengerikan.


"Menyebalkan! Ini karena mereka meninggalkanku. Ya Tuhan, ku mohon kutuk saja mereka menjadi lumut." lirihnya. Shine menggerutu seorang diri.  Ketika bulu-bulu halus disekitar lehernya meremang secara tiba-tiba, Shine menangis. 


Halte itu benar-benar terlihat menakutkan. Sekalipun berada tidak jauh dari sekolahnya, tidak banyak murid yang bersedia menunggu di sana.  Mengingat orang-orang sekitar pernah mengatakan jika bayangan hitam akan muncul saat seseorang menunggu seorang diri.  Dan Shine bersumpah ia sangat menyesal berteduh di bawah atap halte sialan ini.


"Astaga, ini mengerikan. Aku akan mengadukan Darien pada Adam."


 Shine menarik ingusnya kasar, lalu kembali mengisak kecil. Ia tidak menyadari seseorang tersenyum mendengar ucapan-ucapan konyolnya. 


"Mom, ini menakutkan." Bisik Shine semakin lirih. Ia membungkam bibirnya, ketika sekelebat bayangan melintas begitu cepat di belakang tubuhnya. 


Ini tidak lucu. 


Shine mencoba memalingkan kepalanya secara perlahan, namun— sial! Ia justru semakin bergidik manakala manik matanya tidak mendapati seorangpun duduk menunggu bersama dirinya. Beberapa bohlam bahkan mati dan hanya beberapa yang bercahaya redup. 


Shine semakin menutup rapat matanya. Terkutuklah orang-orang bodoh yang tidak becus memperhatikan fasilitas. Shine terus menyumpahi para manusia yang bahkan tidak terlihat dihadapannya.  Membuatnya telihat begitu bodoh, karena kenyataanya beberapa kendaraan masih sesekali melintasi jalanan.


"Tidak baik menggerutu seorang diri." 


Belum lagi hilang ketakutannya, Shine menjerit ketika sebuah suara menyapa indera pendengarannya. Entah dari mana datangnya, tapi pria itu sudah duduk manis tepat di sisi kanan tubuhnya.


"Sial! Mati saja kau di neraka!" maki Shine.


Pria itu mengendik tidak perduli. Darien mengusap ringan surai Shine yang basah, lalu menyampirkan coat miliknya pada tubuh bergetar itu.  Jelas sekali udara yang dingin berkat gerimis membuat tubuh ringkih Shine menggigil kedinginan. Shine memiliki imune yang rendah, namun begitu malas menggunakan coat. 


"Jika aku mati kau akan menangis." 


Namun, baru saja ia akan menarik permen dari saku celananya, Shine sudah lebih dulu melempar coatnya, sembari berteriak marah.


"Bangga sekali kau. Menjauh dariku." 


Darien menarik napasnya, mengabaikan desisan tidak suka Shine. Ia memungut coatnya lalu memakaikan kembali benda tebal itu pada tubuh Shine, sembari tidak lupa mencengkram pundak Shine; memperingati gadis manja itu jika ia sedang tidak ingin dibantah. 


Setelah merasa Shine menyerah, Darien kembali membuka mulutnya. 


"Ku rasa tidak. Aku mengatakan yang sebenarnya, kau tahu?" 



"Terserah kau saja! Pergilah, jangan dekati aku."


"Astaga, ini tidak benar. Aku berharap mendapatkan ciuman manis, bukan justru diusir seperti ini." 


"Bermimpi saja sana! Jangan bicara padaku!" 



Darien tertawa geli. Ia kemudian berpura-pura membelalakkan matanya, bersikap seolah-olah terkejut dan tidak percaya. 


"Kenapa?" tanyanya kemudian, yang mau tidak mau membuat Shine semakin kesal. 


Raut wajah Darien benar-benar membuatnya ingin muntah.


"Kalian keterlaluan! Aku tidak mau bicara padamu." 


Sudut mata Shine kembali meneteskan air saat Darien justru tertawa dengan tidak tahu diri.  Merasa Darien hanya berniat menggodanya, Shine mengangjat tanganya lalu memukul keras dada bidang itu. 


"Kau menyebalkan. Pergi!!" isak Shine seball.


Darien semakin tertawa lebar. Ia menangkap jemari Shine lalu menggenggam jemari kuat. Mica dan Katarina memang memilih pulang lebih dulu. Tetapi tidak dengannya. Sejak tadi Darien berada di sekitar Shine. Sayangnya ia tidak sengaja tertidur dibalik dinding kelas, saat menunggu Shine keluar dari dalam kelas, sehingga Shine tidak menyadari kehadirannya. 


"Kau mengusirku? Setelah aku menunggumu begitu lama?" 


"Aku tidak memintamu untuk menungguiku!" 


"Baiklah-baiklah, aku minta maaf." 


"Kau jahat. Aku takut. Bagaimana bisa kalian melakukan ini padaku?" 


Dalam kurun waktu satu detik runtuh sudah segala pertahanan gadis itu. Shine mengisak semakin keras saat Darien memeluknya. 


"Kenapa kau menangis? Sejak tadi aku berada dibelakangmu. Kau yang tidak menyadarinya." 


"Kau yang tidak menyapaku."


"Itu karena kau sangat menggemaskan."


"Sinting!" 


Darien terkekeh. Shine selalu mampu menjawab semua kalimat-kalimatnya. 



"Kau memang menggemaskan, dan aku tidak bercanda." Ucap Darien serius. Lalu mengecup sayang rambut yang sedikit basah. 


Di balik dada Darien perlahan Shine tersenyum. Rasa yang dipendamnya selama empat tahun nyatanya mencuat begitu saja. Membuat detak jantungnya tidak terkendali. Terlebih ketika Darien mengecup lembut ceruk lehernya. 


Tuhan, jika saja ia mampu menjerit, maka Shine akan lakukan. Tapi tidak, Shine hanya mampu menutupi semburat merah muda yang muncul pada permukaan pipinya di balik dada bidang itu. Terlalu banyak untaian yang ia ingin utarakan. Namun kata itu "Persahabatan" kembali membawanya masuk ke dalam pusaran kewarasan. Dimana di sana dirinya selalu merafalkan kalimat bahwa ia mungkin berkhianat, dan biar angin dan hujan saja yang mengetahuinya. 


Sementara di tempatnya duduk, Darien semakin melebarkan senyumnya. Shine semakin mempererat pelukan di antara mereka. Darien memejamkan matanya, merasakan gemuruh yang tidak biasa kembali memenuhi detak pada jantungnya. Detakan itu lebih kuat, seolah ada dua jantung tengah berdetak di dalam tubuh yang sehat. Darien tahu ia telah salah, tetapi gadis itu selalu berada di dalam pikirannya. Berapa kali pun ia berusaha untuk menyerah, sebanyak itu juga hatinya menuntut untuk berjuang. 


Rasa itu hadir begitu saja. Saat ia sadar bahwa kemungkinan tidak berada dekat dengannya, Darien mencoba untuk menghapus rasa. Namun tentu saja semua tidak semudah yang ia bayangkan. Di setiap hari yang mereka lewati takdir seolah semakin mendekatnya pada Shine. Dan ketika rasa di hatinya kian tak terkendali, rasa ingin memiliki semakin membuncah.




****Cuowu de Ai****






Cabang maple itu tumbuh begitu padat. Ranting-ranting yang penuh ditumbuhi daun orange membuat pohon itu tampak anggun dipandang mata. Daun-daun sedikit berserakan di atas rumput-rumput hujau yang hampir menyerupai bentangan permadani yang indah. Katarina memungut sehelai daun, dan mempermainkannya di antara ruas-ruas jarinya yang lentik, lalu membuangnya kembali.


"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanyanya. 


Angin yang berhembus menerbangkan anak-anak rambutnya. Membuat jemarinya sedikit kewalahan menghalau rambut yang menutupi mata. Kakinya masih melangkah, berderap sama dengan gadis di sisinya.


"Kau siap untuk mendengarnya?"


"Apakah ini sesuatu yang sangat penting?"


"Hmm," gumam Shine. 


"Apa? Katakanlah."


Shine menarik nafasnya dalam sebelum menatap Katarina ragu-ragu. Gadis itu memang sahabatnya, namun untuk mengungkapkan sesuatu Shine merasa seperti di tahan begitu kuat. Kenyataan yang ada di antara benang persahabatan selalu memaksanya untuk bertahan, belajar melupakan, dan tidak untuk menuntut. Tapi saat hati menjerit, sembilu luka menginginkan kejujuran untuk mengucap sebait kata. 


Sekali lagi Shine menghela nafasnya. Lalu kembali menatap langit.


"Aku,— menyukai Darien." ucap Shine lirih.



Entah itu nyata atau hanya sebuah khayalan, Katarina menghentikan langkahnya. Angin masih berhembus kencang. Rintik kecil hujan membuatnya sedikit membeku karena dingin. Apalagi kedua kaki mereka telanjang tidak menggunakan alas. Tapi biar saja, kaki akan senang menikmati hamparan rumput yang tajam.


"Ah, jadi kau menyukai Darien?" 


Untuk sesaat Katarina merasa bingung, namun setelah memandang wajah Shine pandangan Katarina kembali bertaut pada langit yang gelap. 


Shine mengangguk, "Aku memang bodoh." Lirihnya. Gerakan gemiricik daun mencubit sebagian hati Katarina. Shine, tidak seharusnya merasa kecil diri. Perasaan itu lumrah dirasakan seorang gadis bukan? 


"Siapa yang mengatakan kau bodoh? Kemarilah." 


Katarina menarik Shine mendekati bangku taman yang cantik. Ukiran kelinci dan rumput sangat padu pada titik-titik cat yang berwarna hitam. Katarina lalu menarik kedua sudut biburnya, tersenyum bangga. 


Katarina akui ia cukup terkejut mendengar pengakuan Shine,  namun Katarina bersumpah ia bahagia mendengar penuturan sahabatnya itu. Shine, tidak pernah jatuh cinta. Bukan karena tidak mau, tetapi karena manusia bernama Darien yang selalu berada di sisinya. Pria itu selalu menghalangi pria lain yang mencoba mendekati Shine. Jadi wajar bila pada akhirnya Shine melabuhkan hatinya kepada Darien.


"Kau tidak membenciku?" tanya Shine 


Katarina tertawa kesal, lalu mendorong kecil kepala Shine. "Bodoh! Aku sangat menyayangimu, jadi jangan berpikir aku mampu membencimu."


Jika Shine berpikir ia juga memiliki perasaan yang sama pada Darien, Shine salah. Katarina hanya menganggap Darien sebagai sahabatnya. Tidak lebih. 


"Tanganmu, menyebalkan Kat. Aku akan mengadukanmu pada Adam." 


Mereka duduk bersisian, namun Katarina semakin memperbesar tawanya saat Shine mengembungkan pipinya seperti ikan koi. Shine memang sangat manja. Katarina yakin jika Darien juga memiliki rasa yang sama, maka pria itu akan semakin menjaga Shine dengan berlebihan. 


"Kau selalu mengandalkan Adam. Itu tidak adil" gerutu Katarina. 


Shine tersenyum manis.  "Aku hanya bercanda." jawabnya riang.


"Kenapa?" tanya lagi, ketika Katarina justru berubah menjadi serius. 


"Bolehkah aku juga mengungkapkan sesuatu juga?"


"Tentu,." jawab Shine. 


Katarina nampak terdiam sesaat, kemudian menghela nafasnya berulang kali. Gadis itu terlihat begitu ragu. Membuat Shine khawatir.  Shine takut Katarina akan mengakui hal yang sama. Namun Shine memutuskan diam dan menunggu.


"Aku,— aku juga menyukai Mica." 



Shine membeku. Mungkin memang benar tidak akan ada persahabatan di antara pria dan wanita.  Namun sesaat kemudian Shine mengerjapkan matanya tudak percaya, sebelum akhirnya ia berteriak keras.


"APAAA??" 


"Kecilkan suaramu. Kau membuat pendengaranku rusak."  


Shine terkekeh malu. 


"Benarkah? Kau sedang tidak berencana menipuku kan?" tanya Shine antusias, yang mau tidak mau membuat Katarina menyesali keputusan sesaatnya.  Bagaimana jika Shine membocorkan perasaannya pada Mica? Astaga, Katarina tidak bisa membayangkannya. 



Jadi dibanding Shine membeberkan semuanya cepat-cepat Katarina menganggukkan kepalanya. Namun sekali lagi Shine menjerit-jerit tidak karuan, membuatnya kesal bukan main. 



"Astaga, astaga aku bahagia." 


"Kecilkan suaramu Shine. Kau membuat pendengaranku rusak." 


"Aku tidak perduli." jawab Shine angkuh. Melihat Shine tetawa-tawa seorang diri, Katarina menjadi bingung. Apakah sahabatnya menjadi gila karena pengakuannya? 


"Apa kau marah padaku?"


"Aku pasti sudah gila."


"Kau memang sudah gila." jawab Katarina cepat, lantas ikut tertawa. Membiarkan langit merekam semua kebahagian persahabatan mereka. 


Biarkan seperti ini. Nanti disaat yang lain, biarkan cinta yang memilih. Seorang manusia tidak mengetahui jalan hidupnya, dan putaran poros tidak akan selamanya menemani desau hembusan angin. Biarkan melodi itu mengalun untuk mengantarkan lagu-lagu kenangan. Karena kelak ketika musik telah berhenti, maka itulah yang akan menjadi akhir dari kisah mereka.


Reality (Part 3)

 



Tertawalah bersama nyanyian para burung, tetapi jangan membenci dikala hujan tidak turun. 


— Shine






*************************************






Matahari telah perlahan bersembunyi di garis cakrawala. Senja kini tampil menyinari dan memperindah setiap kuncup tanaman yang tersebar di sebagian halaman rumah. Rumah ini besar, lengkap dengan berbagai hiasan di setiap ruangannya. Terdapat guci-guci mahal tersebar di sudut tangga dan beberapa ruang yang jauh lebih besar. Ada beberapa bunga hidup di tata di atas meja. Warna-warna mereka yang cerah membuat mata segar ketika tanpa sadar memperhatikan. Ada juga  gambar dan bingkai pada setiap dinding-dinding yang putih, di paku dengan teknik yang tinggi sehingga menciptakan tata letak yang berkelas.


Melemparkan pandangannya Katarina mendengus, ketika waktu yang berputar seperti putaran lambat yang menyebalkan. Sudah satu setengah jam ia duduk di sini, dan demi apapun bahkan manusia tolol tidak akan melakukannya.


Di sisinya ada Mica menemani. "Apa yang kalian lakukan padanya? Sudah ku katakan jangan menggodanya!" tegur pria itu datar.


 Katarina kembali berdecak. Demi Tuhan, ia bahkan telah menjelaskan sebanyak lima kali. Tapi sialnya pria bodoh di hadapannya itu terus saja menegurnya dengan tidak manusiawi. Pria itu bahkan tidak menyapanya  sejak tiba. 


"Aku tidak melakukan apapun. Kau sendiri tahu Shine memang sangat kekanakan." 


Bukankah Katarina sudah mengatakan jika Shine adalah makhluk paling istimewa? Dan inilah yang terjadi, pria itu akan selalu menggerutu meski kelak bibirnya sobek, atau nafasnya akan berhenti.


"Oeh, benarkah? Lalu jika sudah begini siapa yang harus disalahkan?" 


Mica menajamkan matanya. Ia baru saja menyelesaikan babak pertama ketika Darien menariknya pergi. Sepanjang perjalanan ia bertanya namun pria menyebalkan itu  justru hanya mengabaikan pertanyaannya. 


Lalu ketika tiba tempat ini, ia juga harus menerima kenyataan bahwa gadis cantik kesayangannya itu sedang menangis. Mica membanting tubuhnya kasar di atas sofa. Berdiri satu jam membuatnya ingin mati karena keram di kaki. Yang benar saja, ia bahkan baru selesai bertanding. 


 Darien memang tolol. Pria itu seharusnya di pukul menggunakan besi berkarat agar cepat sadar. Entah apa manusia super tampan itu lakukan, hingga Shine menangis seperti ini.



"Salahkan saja Darien!! Pria bodoh itu yang tertawa besar." 


Katarina mengikuti Mica. Ia duduk di sisi kanan pria itu.  Sejujurnya Katarina bisa mengerti kekalutan Mica, tapi ia juga sama. Bukankah ia hanya membalas Shine? Tapi kenapa gadis itu yang justru kini merajuk? Jika saja waktu bisa di ulang, maka Katarina akan lebih memilih menuruti perintah Darien.


"Apa hanya dia yang tertawa? Ku rasa kau melakukan hal yang sama." 


Tapi seberapa banyak pun Katarina memberi alasan, semua akan tetap sama di matanya. Mica tahu mungkin gadis itu lelah menemani Shine ketika Darien tidak berada di sisinya, karena biar bagaimanpun Mica juga mengakui Shine memiliki sifat manja yang berlebihan. Jangankan Katarina, ia bahkan tidak akan pernah mampu menangani Shine, jika Darien tidak berada di dekatnya. Tapi ayolah, jika sudah begini mereka semua yang akan mendapatkan akibatnya.


"Aku tidak melakukan itu! Dan lagi, kenapa kau membesar-besarkan masalah?" 


"Siapa yang membesar-besarkan masalah?" 


"Bukankah sudah ku katakan aku tidak bersalah. Kau bisa memurkai Darien  jika kau masih tidak terima Shine menangis."


"Tolol! Kalian berdua sama saja. Adam akan membunuh kita jika dia tahu Shine tidak juga mau bicara."


Katarina membeku. Benar, kenapa ia bisa melupakan Adam? Katarina menghembuskan nafasnya lirih. Ada kekhawatiran di hatinya, namun ia juga tidak terima disalahkan begitu saja.


Apa yang terjadi saat ini adalah Shine merajuk, dan hingga kini menangis tidak henti-hentinya. Satu jam yang lalu Darien telah telah tiba. Lalu dengan tergesa-gesa memasuki kamar Shine untuk membujuk gadis kesayangannya itu. Katarina cukup menyesal telah membuat Si mungil itu menangis. 


Sejujurnya tadi Katarina tidak bermaksud untuk mengusik gadis itu, hanya saja keusilan Shine mengganggu pendengarannya. Katarina hanya berniat membalasnya keusilan gadis nakal itu saja. Tapi justru Shine menanggapinya dengan berlebihan.


Jika sudah begini ia harus mati-matian membujuk gadis berkulit susu itu untuk memaafkannya, karena jika tidak Shine akan semakin memperparah tingkah manjanya dengan melakukan aksi mogok makan yang buruk. 


Adam akan membunuh mereka jika sampai gadis itu sakit dan mendekam di dalam ruang perawatan. Dan demi apapun Katarina lebih memilih mengerjakan tugas puluhan soal dibanding menghadapi amukan maha dasyat seorang Adam Heycknes. 





****





Sementara di lantai dua, pria ini masih sama kalutnya seperti satu jam yang lalu. Wajahnya kusut, pakaiannya berantakan, dan dahinya penuh dengan peluh. Berkali-kali ia menarik nafasnya lelah, namun bibirnya belum juga berhenti mengucapkan kata maaf. Tidak perduli pada ranjang yang telah berserakan akibat gulatan mereka berdua, pria ini terus saja bergerak meraih gadis yang masih sibuk dengan isakannya itu.


Sekali lagi pria ini bergerak ketika sang gadis kembali mengelak. Mencoba menahan emosinya, Darien lalu kembali mengacak rambutnya yang telah basah terkena peluh. Ini sangat menyebalkan.  Gadis yang berada di atas ranjang itu terus saja menghindar dengan berpindah-pindah posisi, bertingkah seperti cacing yang terus menerus berkelit. Tapi meskipun begitu, Darien juga tidak memiliki pilihan selain bersabar dan bersabar.


"Ayolah Shine, aku minta maaf." 


Darien masih berusaha mendapatkan maafnya, meski gadis bermata sipit itu tidak juga mau berhenti bererak. Pria tampan itu menyatukan tangannya, lalu menyendukan kedua bola matanya, berharap gadis cantik kesayangannya itu akan luluh dan mengampuninya. 


Mungkin jika orang lain melihat bagaimana intimnya kedekatana mereka, orang-orang di luar sana akan mengatakan mereka gila. Tapi Darien tidak perduli, karena apapun yang orang lain katakan, baginya gadis itu adalah belahan jiwanya. Sehari saja Shine tidak bicara, Darien bahkan merasa seperti Tuhan sedang mengutuknya. Lalu bagaimana jika Shine menjauhi dan mengabaikannya? Oh, mati lebih baik itu pasti.


Darien bahkan segera berlari menyongsong motornya ketika Shine memutuskan panggilan. Pertandingan yang belum usai pun ia sudahi secara sepihak. 


"Tidak mau! Kau jahat padaku." 


Darien kembali menghela nafasnya. Di luar sana sinar matahari telah berubah menjadi jingga, sementara di sini isakan Shine justru semakin menjadi-jadi. 


"Aku hanya tidak sengaja. Aku bersumpah, suara manjamu membuatku gemas." 


"Pembohong! Aku akan mengadukanmu pada Adam!"



Sehun terbatuk terkejut. Lalu dengan gerakan cepat segera memeluk Shine, saat gadis mungil itu bersiap bangkit untuk pergi mencari ponsel ibunya. 


"Ck, apa kau tega melihat Adam membunuhku?" 


Darien tahu tidak akan mudah membujuk Shine. Namun ini adalah hal yang sangat biasa. Jika Shine belum melaporkannya, maka hingga mati pun Shine tidak akan berhenti untuk mengancamnya. Shine hanya akan berhenti jika ia sudah memaafkan kesalahan mereka. 


"Tentu saja!"


"Bagaimana bisa kau melakukan ini pada kekasihmu?" 


Kekasih? 


Shine mendengus. Namun ia merutuki dirinya yang justru mendadak menjadi diam. Hatinya masih begitu sangat kesal tetapi pelukan Darien membuatnya urung untuk pergi. 


Sementara Darien yang menyadari usahanya membuahkan hasil, tersenyum manis. "Aku tahu kau tidak akan tega melakukan itu padaku." Ucapnya senang. 


Shine masih berada di dalam rengkuhannya, tetapi gadis itu tidak lagi melanjutkan kalimatnya ataupun memberontak. Ada kalanya gadis itu mencari perhatian dengan bersikap layaknya balita, namun ada kalanya juga Shine akan bersikap dewasa dengan melupakan kemarahannya begitu saja. 


"Aku tidak mengatakan apapun."


"Tidak usah menutupi. Bukankah Shine menyayangi suami tampannya ini??"


"Siapa suamiku?"


"Tentu saja aku, Darien."


"Sinting! Kau terlalu percaya diri, Dar."


"Tidak apa, percaya diri itu diperlukan ketika kita merasa malu." 


Pria ini mengecup sekilas pipi chuby Shine. Menikmati rasa asin dari jejak air mata yang mengalir dari pelupuk mata kecil itu, kemudian terkekeh mengikuti tawa riang Shine. 


Berapa lama mereka bersahabat? Berapa banyak kenangan yang telah merekai bingkai? Darien tidak tahu. Sejak dulu hanya Shine saja yang terlihat olehnya. Hanya senyum gadis itu yang selalu mampu membuatnya tertawa lepas. Shine bagai obat terlarang yang selalu membuatnya candu untuk bersama. Di luaran sana sebagian orang menganggapnya sebagi kekasih Shine, namun Darien juatru tidak pernah berniat menyangkal itu. 


Sementara di tempatnya duduk Shine tertawa merasakan pelukan Darien yang begitu erat. Kecupan pria itu begitu hangat dan lembut.  Mereka terbiasa begitu intim. Tidak pernah ada yang akan melarangnya. Jalinan persahabatan itu begitu lama, maka ketika sesuatu muncul dan berakar hanya Shine saja yang mengetahuinya.




Reality (Part 2)

 



Permulaan yang ku lalui seperti air dalam tempayan. Aku mengapung bersama kebahagian, dan Kalian adalah kebahagiaannku.


─ Katarina






*****************************************






Mei, 2012


Ada sebuah dongeng di masa lalu. Bercerita tentang setangkai Anemone, juga setangkai. Bilberry. Suatu ketika Anemone yang adalah ketulusan berjalan menikmati surya. Tanpa mengetahui sesuatu yang besar tengah menantinya di ujung jalan terakhir. Ia juga memilliki Rose, Lily, juga Alyssum sebagai teman dalam segala dukanya. Kisah ini terus berlanjut hingga mereka menjadi teman, dan bukanlah musuh berbalut kapas yang lembut. Mereka menikmati waktu, bersembunyi ketika beku, dan mekar ketika surya mengusap lembut kuncup-kuncup yang wangi. Hingga dimana saat ia terluka. Ketika ternyata Billbery sang penghianat hadir menggantikan Lily dalam tata kehidupan. Di sana ia memahami bahwa selama ini ia hanya hidup seorang diri. Seperti sebatang tua yang rapuh, juga seperti seonggok pena yang rusak. Anemone tidak lagi berseri. 


Namun itu hanya sebuah rangkaian kalimat yang berbeda. Ketika ada nada yang menyambungkan, maka dongeng bukan lagi cerita yang sebenarnya. Dalam dunia yang kini kaki pijaki, Anemone bukan lagi si pemeran utama yang ringkih. Waktu-waktu yang terlewati membawanya hidup dengan keras, hingga kini ia tinggal di sebuah jaman yang lebih berarti. Dimana cakrawala menampilkan langit yang memberengut sedih tanpa sebuah pancaran. Dan membuat awan menyelubung pekat mencoba menyembunyikan cahaya dari sang surya. 


Ada rintik berjatuhan, dan sebagian aliran air menjalar di sebagian helaian daun. Batang di setiap jalan terlihat basah. Hujan yang sedikit membesar membuatnya mandi tanpa peringatan. Beruntung di bawah sana akar tetap aman di dalam lapisan. Tanah masih cukup baik menyembunyikannya, hingga gema memberi tanda. Satu kali, dua kali, tiga kali, dan dentang lonceng mengukuhkan awal dimulainya kisah.


Kisah dimana bukan Anemone ataupun Billberry yang mewarnai. Melainkan ketika seseorang mencintai dia, dan dia juga mencintai yang sama. Seperti lagu yang serupa dimana mereka bukan lagi empat melainkan dua yang telah menjadi satu. Seperti kertas berteman dengan sebuah perekat. Mereka merangkai persahabatan yang sempurna. 


Di sini di bangunan tua berarsitektur lama, dimana hanya ada kusen pintu berbentuk corak huruf kasar, papan putih bertabur cat spidol dan bangku-bangku serta meja single yang berserakan, mereka mulai mengikat janji. Awal di mana guru mengucap sapa, dan awal di mana murid mengucap nama. 


Di tempat ini juga mereka mengenal dunia.


Ini pagi awal baru di tahun yang juga baru. Maret selalu menjadi awal dari segalanya bersama awal di mana mereka memulai pendidikan setelah liburan pendek pertengahan Februari. Kini setingkat lebih di atas. Menunjukkan mereka telah menjadi seorang senior, kakak tingkat yang patut dihormati. Tapi siapa mereka? Entahlah, tapi ini adalah tahap kisah dimana hanya mereka lah pemeran utamanya.





****





Sebuah koridor menjadi tempat menyenangkan bagi sebagian orang aneh yang memiliki tabiat buruk. Seperti, katakanlah memadu kasih di bawah atap sekolah. Ini bukan hanya sekedar ucapan belaka. Tapi lihat di sini, koridor bahkan lebih nampak seperti pasar dibanding sebuah sekolah. Sebuah sapaan, tawa, dan juga lontaran menjadi hibur pengericuh. Hujan di sana masih setia. Sesekali merintik dan sesekali menggila karena sapuan angin kencang.


Mungkin bagi sebagian orang hujan adalah berkah dan tentu saja itu benar. Tapi tidak dengan kedua gadis ini, karena bagi mereka hujan adalah kesialan. Yah setidaknya mereka cukup sial dengan basah di beberapa bagian.


"Oh ya Tuhan, kutuk macam apa yang kau berikan?"  Alunan itu terlontar tidak lembut. Jelas karena Katarina, gadis bersurai coklat itu melontarkan kalimat berupa gerutu kekesalan dengan tangan terangkat ke atas. Ia nampak seperti gadis tolol yang idiot. Ini koridor, dan keramaian membuat tingkahnya menjadi sorotan para murid lainnya mengingat ia cukup dikenal. 


Saat ini ia bahkan masih terlihat begitu cantik, meski rambutnya yang tergerai bebas basah berkat guyuran air hujan. 


"Hmm, ini sangat mengerikan."


Dikala wanita itu sibuk menggerutu, sebuah jawaban kecil ikut terlontar, membuat wajahnya dalam waktu singkat memaling. Shine, lebih tepatnya sahabat mungilnya yang juga bernasib serupa itu terlihat mengibaskan berulang kali roknya yang terkena air hujan. 


Katarina menghembuskan nafasnya sesaat, lalu kembali menggerutu sebal. Ini buruk. Seragam di tubuhnya basah, dan yang sangat menyebalkan ialah ketika si pink justru ikut membayang samar dibalik kemeja. Seolah bagian itu juga ingin terekspos untuk memancing mata para lelaki. Shit! 


Gadis ini juga merasa kesal pada dirinya sendiri. Jika bertanya bagimana bisa ia dan sahabat mungilnya ini tiba bersama, jawabanya tentu karena mereka memang berangkat bersama. Tapi yang menjadi kekesalannya ialah karena sejak awal keduanya kompak tidak menggunakan coat atau sejenisnya. Bukankah ini buruk? Para pria akan menggodanya sampai otaknya menjadi gila.


"Bagaimana ini? aku bisa gila!" dan lagi-lagi Katarina memilih menggerutu sebal sembari memainkan bola matanya sendu. Membiarkan bibir tipisnya terkekuk sebal, memandang remeh jatuhan air hujan.


Di lain sisi, Seulgi ikut mendengus. "Kau bertanya padaku? Astaga Kat, apa kau tidak melihat keadaanku?" ucapnya kesal. Ada binar redup membayangi bola matanya. Membuat Katarina mencebik, lalu lagi-lagi menekuk bibir semakin ke bawah.


"Aku melihatmu Shine, aku tidak buta!"


"Jika kau melihatku, seharusnya kau tahu aku yang akan gila. Kau lihat, blue bahkan mulai kedinginan." 


Mata sipit itu bergerak liar. Menjelajah sedih ketika mendapati rok itu benar-benar basah sepenuhnya. Ini menyebalkan. Ia bisa saja flu karena membiarkan tubuhnya menyerap dingin. Tapi bagaimana pun juga sekolah ini tidak menyediakan pakaian pengganti. Oh, haruskah ia kembali terlebih dahulu? Tapi itu adalah ide terburuk yang pernah dipikirkan olehnya. Shine memuciskan bibirnya, tetap memandang sebal mini skhirt yang digunakannya.


Mendengar itu, Katarina berdecih dengan kekesalan di ambang batas.  Demi apapun, apa yang baru saja gadis kecil itu ucapkan benar-benar terdengar bodoh. 


Ini koridor. Masih terlalu banyak manusia di sekitarnya yang juga tengah berteduh mengeringkan tubuh mereka. Membahas si blue tentu saja terdengar sangat mengganjal di telinga. Meskipun sejujurnya Katarina juga merasa iba dengan keadaan sahabatnya itu. Jika dirinya hanya basah di bagian depan, Shine justru basah di bagian bawah. 


Gadis kecil itu basah diseluruh bagian belakangnya, karena mereka berlarian dengan saling menutupi. Ia di bagian depan dan gadis mungil itu berjalan di belakang, berhimpit menjadi satu yang menyebakan gadis itu basah di bagian roknya saja. 


"Jangan membahas blue! Koridor ini ramai bodoh!" 


Pada akhirnya gadis ini hanya memilih berbisik kecil. Otaknya masih cukup cerdas dibanding ia berteriak murka layaknya gadis yang tidak berpendidikan. Terlebih lagi Shine bukan gadis dewasa. Si mungil berwajah chuby itu manusia super manja yang sangat kekanakan. Jangankan berteriak, berbicara dengan volume besar saja sudah membuatnya menyendu dengan genangan di pelupuk mata. Apalagi jika ia berteriak dengan keras, sudah barang tentu tangisan itu akan terdengar hingga ke penjuru Neptunus. Dan itu berbahaya jika seseorang sampai mendengarnya, Katarina dapat pastikan ia akan mendapat masalah yang cukup besar.


"Apa itu masalah? Kurasa tidak." 


Dia adalah seorang gadis yang tidak menyukai peringatan. Gaya hidupnya yang berlimpah kasih sayang membuat gadis itu mampu melakukan apapun yang diinginkannya. Terlebih bukan hanya ibu atau ayahnya saja yang memanjakannya, tetapi juga beberapa sahabat yang begitu mencintainya. 


Jika hari adalah waktu, maka sepanjang hidup Shine bersedia membalas setiap kasih yang diterimanya. Tahun-tahun bukanlah benda berkecepatan tinggi. Namun tiap detik adalah kenangan yang tak mampu untuk sekedar dijabarkan. Katarina adalah sahabatnya. Gadis itu jauh dari kata jahat atau antagonis yang biasa diperlihatkan dalam sebuah drama. Tapi bisikan yang diperdengarkan gadis itu lebih mirip ungkapan kalimat kekesalan. Dan Shine jengah ketika Katarina berubah menjadi ibu-ibu tua yang menyebalkan.


"Kau gila? Ku rasa otakmu sudah tercuci air hujan." 


Shine memang memiliki bibir yang pedas, namun ia juga seorang gadis yang diberkahi bibir yang tipis. Waktu yang mereka lewati begitu lama dan menyenangkan. Jika hanya sebuah kekeraskepalaan itu bukan hal yang menyakitkan, hanya seperti tangan yang ingin memukul kekerasan otak di dalamnya. 


"Sayangnya kepalaku kering. Justru kau yang basah." cibir Shine pada akhirnya.


Sebelah tangannya diangkat menunjuk paras cantik Katarina, dan yang laiinya ia biarkan menggantung pasrah di sisi tubuhnya. Shine lalu terkikik ketika sahabat cantiknya itu mendengus dengan keras. Udara masih berhembus cukup dingin. Memancing urat emosi sepertinya akan sedikit menyenangkan.


Banyak orang mengatakan, nikmati masa muda selagi waktu masih berpihak. Maka  gadis ini mencoba melakukannya, menikmati detik-detik waktu yang entah kapan akan berakhir. Di tempat ini langit menjadi saksi. Hujan menjadi waktu, dan keduanya mejadi pemain. Dimana tawa menebar dan pagi terasa lebih baik berkat hujan yang telah perlahan berhenti. 


"Kau memang menyebalkan!!" 


Seperti apapun waktu yang bergulir ia tahu akan ada masa dimana mereka akan dewasa. Katarina tidak membenci setiap lisan yang Shine lontarkan, tetapi raut wajah polos gadis itu, oh Katarina bersumpah itu luar biasa menyebalkan di matanya. Gadis mungil itu tidak akan pernah mau menyesali setiap perkataannya, dan diam hanya akan membuat Shine semakin menyusahkan. Sebelum ia kehilangan kendali untuk tidak memukul gadis berpipi chuby itu, maka dengan segera Katarina bergerak mendekati Shine yang terkikik mencemooh.


Sayangnya, Shine jauh lebih cerdik. Hanya dengan satu kali gerakan gadis mungil itu melengos menghindari. Kemudian berlari menikmati tapak-tapak yang tercipta. Marmer kecoklatan menjadi saksi tawa riang yang memancing senyum di sudut-sudut bibir. Ini kegilaan yang tak pernah dapat Shine jabarkan. Begitu lama dirinya mengenal Katarina, dan satu hal yang begitu ia pahami bahwa gadis itu sangat sensitive. Mencemooh kalimatnya adalah permainan menarik, dan lari adalah euphoria kemenangan yang menyenangkan.


Jika beberapa menit yang lalu keduanya meributkan basah, kini bahkan gadis-gadis ini tidak lagi perduli pada tatapan memuja yang terlempar dari manik-manik mata seluruh pria. Bahkan bayang samar pink yang menggoda bukan lagi sesuatu yang penting untuk ditutupi. Bagi Katarina menangkap Shine jauh lebih penting dibanding apapun juga. Gadis mungil itu menyebalkan dan Katarina siap untuk menghukumnya. 


"Yaaa, Shine berhenti kau!" 


Katarina menjerit ketika Shune semakin jauh meninggalkannya. Terkadang wanita ini tidak habis pikir, seberapa panjang kaki gadis berpipi tebal itu? Setiap kali mereka berlari, dapat dipastikan Shine akan selalu menjadi yang terdepan. 


"Tidak mau! Tangkap aku jika kau bisa,"


"Jika aku menangkapmu, kau akan mati." 


Gelegar teriakan menggema di berbagai sudut. Membuat tawa Shine semakin besar. Katarina bahkan semakin jauh tertinggal di belakangnya. Ini hujan di awal Maret, dan hari awal setelah libur singkat. Semua guru dipastikan sibuk, jadi Shine akan terus mengusik si gadis bodoh, Katarina.


Biar saja gadis itu murka, karena akan ada saat dimana ia akan menangis dan Katarina akan melupakan kemarahannya. Shine masih terus berlari, membelok ketika mendekati koridor lain, dan menyalip ketika beberapa orang menutupi jalannya untuk berlari semakin cepat. 


Sementara Katarina masih terus mengejar dengan bersusah payah. Mesku nafasnya sedikit menyesak namun ia tidak menyerah. Jika harus mengejar hingga ke ujung dunia sekalipun akan ia lakukan. Shine mungkin kancil yang lincah, tapi ia Cheetah yang lapar. Ia tidak akan membiarkan Shine lolos begitu saja, karena ini adalah permainan mereka. Jadi apapun yang akan terjadi Katarina akan pastikan ia memenangkannya, lalu membuat si mungil nan cantik itu memohon ampun.





****





Masih di hari yang sama, waktu yang sama, hanya koridor yang berbeda. Riuh masih mendominasi dan pekat tetap melukis pada awan. Genangan terlihat di beberapa tanah yang cekung, dan mekar mawar berpadu air terlihat jelas di taman indah yang berada tepat di depan koridor. Ada seorang pria dengan balutan kemeja putih. Tersampir dasi pada lingkaran leher, namun tak ada kesan kerapian yang layak seperti umumnya siswa sekolah menengah. 


Pria ini terbaring tenang di atas kursi kayu, menatap langit-langit plafon dengan pikiran terlempar pada dunia yang tak nyata. Sepi terlalu biasa, kadangkala sendiri justru terlalu menyenangkan. Tapi saat ini, hal itu sedang tidak terjadi. Ada sosok lain di kursi lainnya dalam keadaan berbeda kenyamanan. Ketika pendengaran menangkap tawa riang membaur angin, senyum kecil muncul di kedua sudut bibirnya. 


Sama, pola hari selalu seperti ini. Seolah seperti sedang berada di dalam dunia yang berulang. Pria ini duduk kemudian mengarahkan mata pada ujung sunyi koridor sembari menanti-nanti sepasang gadis yang pasti akan segera tiba dihadapannya. 


Ini adalah koridor bagian belakang sekolah. Di mana hanya ada taman, perpustakaan, dan sebuah gudang kosong yang tidak terpakai. Jadi tidak akan ada manusia yang berani melewatinya kecuali mereka dan kedua gadis yang tengah di nanti. 


Banyak desas-desus mengatakan gudang tua ini menjadi sarang para makhluk yang tidak terlihat. Namun bagi pria ini sebuah omong kosong tanpa bukti tidak akan menciutkan nyali besarnya. Entah sejak kapan pria ini tidak tahu, tapi sejak persahabatan terjalin tempat ini menjadi sarang persembunyian ketika mereka malas untuk mengikuti pelajaran.


Sunyi. Ketika tangan pria ini bergerak, seorang gadis diam dengan mata memelotot terkejut. Hembusan nafas dari hidung bangirnya terdengaren berat, begitu kentara pada peluh yang mengalir di dahi putihnya. Pria ini terkekeh, rambutnya yang hitam bergerak lembut ketika angin menyapunya. Suasana pagi ini terasa begitu mengembirakan dan gadis itu begitu lucu saat terkejut. Lihat, bahkan bola mata itu hampir melompat lari jika saja bisa.


"Aish, kenapa kau menangkapku?" gerutunya. 


Namun gerutu sebal yang terlontar dari bibir kecilnya itu justru membuat sudut-sudut bibir pria ini bergerak lincah membentuk sebuah senyum simpul. Membuat gadis itu semakin kesal lalu menekuk bibirnya sedalam mungkin sembari berusaha melepaskan diri.


"Kau akan jatuh Shine. Lantai ini licin." jawab pria ini lembut. Matanya yang tajam menatap tenang, meski gadis dihadapannya itu terus saja bergerak seperti cacing kepanasan. 


"Tidak, aku janji akan berhati-hati." rajuknya manja. Berharap pria itu mau melepaskannya, sebelum Katarina tiba. Namun keinginan hanya tinggal sebuah harapan manakala pria itu menggeleng tegas lalu menggerakkan tangannya mengusap dahinya yang basah.


"Ayolah, Kat mengejarku Dar. Ku mohon." 


Shine semakin memelas, ketika langkah sepatu terdengar semakin mendekat. Astaga, jika tertangkap Shine yakin Katarina akan menggelitikinya hingga pingsan.


Kalimat penuh permohonan itu membuat Mica terkekeh. Pria yang juga sejak tadi hanya berbaring tenang di kursi dekat pintu perpustakaan itu akhirnya bangkit dengan perlahan. Ia tidak tertidur, kedua matanya hanya terpejam menikmati alunan indah rintik-rintik hujan. 


"Kau akan aman jika berada di dekatku." 


Apalagi sekarang? 


Shine mengernyit tidak mengerti, lalu dengan polos mengalihkan tatapan matanya kepada Mica, dan tersenyum begitu manis.


"Yaaa!! Apa yang kau lakukan?!" 


Shine benar-benar tidak dapat menahan tawanya, ketika Mica berhasil menangkap sahabat bar-bar itu dan membebaskan dirinya dari ancaman kekejian gadis bermata tajam itu. 


Kedua pria itu memang penyelamatnya. 


"Ck, jangan mengejarnya. Lantai ini licin dan Shine bisa saja terjatuh." 


Mica sedikit mendengus merasakan telinganya berdengung akibat jeritan tidak tahu diri Katarina.  Alunan gadis itu seperti speaker rusak yang tidak baik untuk gendang telinga manusia normal. Dan percayalah meski cantik, Katarina buruk ketika marah.


"Jangan salahkan aku. Gadis itu yang membuatku kesal." balas Katarina 


Meski rasa kesalnya masih begitu mendominasi, Katarina tidak melanjutkan kembali aksi kerjaran-kejaran itu. Ia menarik napasnya dalam.  Apalagi yang bisa ia lakukan, jika Shine berada di antara kedua sahabat prianya itu. Untuk sesaat Katarina menyumpahi tindakannya. Ia terlalu bodoh membiarkan Shine berlari ke tempat terkutuk ini. Karena jika telah berada di dekat kedua pria tampan itu, sekalipum memohon dan bersujud ia tidak akan mampu lagi untuk menyentuh gadis bertubuh mungil itu.


Shine begitu istimewa. Gadis bersurai hitam itu adalah makhluk kesayangan seorang Kirui Darien. Dan yah, tanpa penjelasan lebih jauh seharusnya semua orang mengetahui jika Darien tidak akan pernah membiarkan seorang pun menyakiti Shine. Terlebih membuat gadis itu menangis sekalipun itu diri Darien sendiri.


"Benarkah?" 


Di tempat duduknya Darien mencoba memaling, kembali menatap Shine yang kini terkikik kecil sembari menatap jahil Katarina. "Kenapa kau sangat nakal?" lanjut Darien. Pria itu tetap pada posisinya memeluk Shine dengan kedua tangan kekarnya. 


Shine mengendik tidak perduli kemudian menundukan kepalanya. Posisi Darien yang duduk membuatnya sulit menatap manik pria itu. "Aku hanya menjawab ucapannya, tapi dia justru memarahiku. Entahlah, gadis itu begitu sensitif." Jawabnya santai. Darien memang menatap matanya dengan tegas, tapi meskipun pria itu menegur dengan keras, Shine tahu Darien bukanlah seorang pria pemarah. Ayolah, seluruh dunia tahu ia akan menangis jika dimarahi dan tidak akan ada yang bisa selamat jika sampai itu terjadi.


"Oh ya Tuhan, demi pelacur gila digigit singa kau sangat menyebalkan!" sela Katarina keras. 


Gadis itu meluncah, mendengar lontaran sinting sahabat mungilnya tersebut. Si mungil itu memang sangat pintar membuat alasan. Jangan lupakan wajah malaikatnya yang begitu nampak sangat polos.


"Apa kau marah padaku?" 


Kembali Katarina berdecak kesal. Pertanyaan macam apa itu?  


Mica terbahak mendengarnya. Shine memang sangat pintar dalam meluluhkan hati seseorang. 


"Berhenti bersandiwara. Kau semakin membuatku kesal."


Shine tertawa riang, membuat Darien dan Mica ikut terkikik lucu. Hujan bahkan masih merintik tetapi Katarina benar-benar sangat lucu ketika ia sedang marah. Gadis bertubuh ramping itu akan mengerucutkan bibirnya, lalu mendengus seperti seekor naga di dalam dongeng. 


"Baiklah, baiklah, aku minta maaf." Ucap Shine pada akhirnya, setelah ia mampu mengendalikan tawanya. 


Namun Katarina justru kembali berdecak, "Pancaran matamu menipu, gadis kecil. Aku tidak percaya!" Jawabnya. 


Sama seperti Shine, ia juga masih berada di tempatnya berdiri. Mica dan Darien adalah makhluk keras kepala yang sesuku. Percaya atau tidak kedua pria itu hanya akan melepaskan mereka jika bibirnya telah mengucapkan YA untuk maaf. Menyebalkan bukan? Shine yang membuat ulah, namun ia yang harus mengalah. Mereka memang tidak pernah berubah. 


Berapa lama mereka bersahabat? Lima tahun? Dan lihat, Shine selalu menjadi yang utama. Tapi itu bukan masalah untuknya. Karena sejak hari itu dimana mereka mengucap janji, ia juga sudah bersumpah untuk selalu melindungi si mungil berbibir menyebalkan itu.


"Aku tidak bersandiwara Katarina, kau bisa melihat kedua mataku." Shine menjawab dengan polos. Gadis itu juga membesarkan bola matanya, berpura-pura tengah bersikap dewasa dan memohon ampun. Sangat menggemaskan, membuat Darien  yang berada dihadapannya tidak dapat menahan senyum, meski hanya untuk satu detik saja.


"Baiklah, karena aku wanita baik hati maka kau ku maafkan."


"Benarkah? Aaaa, aku senang. Aku mencintaimu Kat." 


 Darien memperlebar senyumnya. Gadis dalam pelukannya itu begitu cantik dan polos. Hanya dengan pancaran kedua bola matanya Darien yakin semua pria akan tunduk di bawah kekuasaannya. Shine mungkin gadis yang manja, akan tetapi sifat alaminya itulah yang justru selalu mampu menggetarkan hatinya. Membuat Darien selalu tidak berdaya di segala perjalanan mereka. Lima tahun yang mereka lewati masih selalu sepeti ini. Apapun tindakan yang dilakukan gadis itu, mereka tidak akan pernah mampu untuk mengadilinya.


Kisah ini mereka mulai dari gerbang sekolah menengah pertama. Ketika awan melukis kecil putih pada hamparan tak tersentuh, saat itulah Darien, Shine, Mica dan Katarina bersahabat. Sejak awal dimulainya sapa, membuat janji bersama di bawah naungan langit biru dan cahaya matahari musim semi. Tepat pada dentangan lonceng pertama. Dimana Darien akan selalu menjaga Shine dan Katarina, serta Mica akan menjaga Katarina dan juga Shine. Sebisa mungkin sejak saat itu mereka hempaskan kata cinta dalam persahabatan itu, dan merangkail sebuah nyanyian tanpa adanya nada. 



****




Hari ini lebih berbeda berkat hujan yang tidak menyapa. Angin masih terdengar sesekali menyapu udara, dan ruangan masih terlihat lengang dari jam-jam biasanya. Hanya sebagian siswa yang berdatangan sibuk bermain ponsel menikmati pergantian jam mendekati waktu pulang. Di sana juga terdapat dua orang gadis yang ikut mengisi kekosongan. Keduanya juga serupa dengan siswi lainnya; ikut berkutat pada ponsel yang menyala. Jika Katarina sibuk dengan pesan chat di grup SNS nya, Shine  justru sibuk dengan panggilan di telinganya. 


"Apa kau masih akan lama?" 


Sepasang mata sipit itu semakin mengecil ketika gadis itu tersenyum. Shine selalu bersikap layaknya bocah berumur lima tahun yang tidak bisa jauh dari ayahnya, ketika Darien sedang tidak berada di dekatnya. Mereka benar-benar tidak dapat di pisahkan, karena di mana ada Shine maka di situ akan selalu ada Darien. Hanya saja hari ini sedikit berbeda dari biasanya. 


Pria tampan itu sedang menjalani pertandingan basket di sekolah swasta lainnya, sehingga gadis mungil kesayangannya itu terlihat sangat mengenaskan.


"Tapi aku tidak memiliki teman bermain." 


Masih begitu jelas semua rengekan yang gadis itu lontarkan. Meja mereka hanya terpisah jalan selebar setengah lengan,  Shine bahkan duduk dengan sebelah tangan sibuk memelintir rambut curly hitamnya. 


Katarina tersenyum kecil.  Gadis itu memang sangat cantik. Sekalipun Shine hanya menggunakan seragam yang pas ditubuhnya, seluruh pria di sekolah ini akan gila jika saja gadis itu melempar senyum atau sapaan ringan. Hal yang membuat Darien selalu menjadi sentimentil, lalu berubah menjadi seperti ayah yang overprotektif. 


Contoh kecilnya seperti saat ini, pria itu menghubungi dengan santainya tanpa menyadari hal itu membuat Shine bersikap kekanakan seperti anak ayam yang kehilangan induknya.


"Begitukah? Tapi Kat mengabaikanku." 


Lihat bukan? 


Katarina mengerjapkan matanya, lantas berdecih. Shine memang sangat-sangat kekanakan. Ah, gadis ini yakin pria di ujung sana pasti berkata "Ya, bermainlah bersama Katarina." Jelas, karena itulah yang selalu di ucapkan manusia super tampan itu ketika tidak sedang berada di dekat gadis mungilnya. Darien akan selalu bersikap sok dewasa dengan memerintahkan dirinya menjadi baby sitter dadakan. Tapi kali ini Katarina akan sedikit membantah. Biar saja Shine kesepian. Tadi pagi gadis itu sudah membuatnya kesal dengan pergi terlebih dulu.


"Aku tidak berbohong."


"Hmmm, dia bahkan memeletkan lidah padaku."


Hoel, Katarina menganga tidak percaya, lalu dengan perlahan ia mencoba mendekati. "Jika kau mempercayainya, berarti kau dungu Daren!" Teriaknya.  


Lalu tersenyum puas. Jika ia hanya diam saja, maka Shine akan semakin memfitnahnya lebih kejam. Gadis mungil itu cukup mengerikan jika tengah kesepian. Hal-hal yang tidak dilakukannya akan menjadi berita buruk jika sampai terdengar oleh pria tampan lainnya yang bersifat lebih menyeramkan.


"Yaaaa!! Siapa yang mengizinkanmu bicara pada kekasihku?!" 


Shine yang semula terdiam karena terkejut segera menjerit tidak terima, saat menyadari senyum mengejek Katarina. Matanya memelotot tajam dan ponsel yang berada di jemarinya di jauhkan beberapa centi meter dari telinganya. 


Beberapa sisiwi yang terusik memperhatikan sesaat, namun beberapa detik kemudian mereka segera berpaling ketika melihat tanda-tanda bahaya terpancar dari mata kecil itu. Sementara Katarina mencebik tidak perduli, lalu dengan santai kembali menempati kursi duduknya.


"Itu salahmu. Siapa suruh kau mencemarkan nama baikku. Lagi pula siapa yang kau sebut kekasihmu?" cibir Katarina.  Ia memeletkan lidahnya saat Shine mengigit bibirnya kesal. Belum lagi tawa Darien di ujung sana yang semakin membuat gadis mungil itu terlihat emosi.


"Kau menyebalkan Kat!! Dan kau, terus saja tertawa. Aku tidak mau bicara padamu!!!"


Selesai.



Hanya dalam waktu sepersekian detik panggilan terputus dan ponsel malang itu terhempas. Katarina membelalakkkan matanya tidak percaya. Di ujung pintu ruangan pecahan ponsel itu berserakan. 


Sementara di tempat duduknya beberapa orang berkasak-kusuk secara lirih. Hanya karena sebuah godaan Shine membanting ponselnya hingga terberai tak berbentuk. Benar-benar bencana yang sebenarnya akan segera terjadi. Percaya atau tidak, pangeran tampan itu akan segera tiba. 


Katarina menyimpan ponselnya perlahan, lalu membuang nafas berat ketika isakan mulai menggema. Oh shit! Tamatlah riwayatnya. Gadis mungil itu akan segera membuat dunianya dan kedua sahabatnya dipenuhi rasa cemas.