Search This Blog

Showing posts with label dewasa. Show all posts
Showing posts with label dewasa. Show all posts

Thursday, December 14, 2023

Crazy Relationship 2


"Fine!! Lakukan sesuka daddy. Tapi aku tidak akan pernah meninggalkan rumah ini."


Benar.


Ayahnya menjadi gila dan berusaha membuangnya. Shine berteriak keras. Menendang kaki ranjang, dan mengacak rambutnya frustasi. Malam berlalu terlalu cepat. Alcohol membuat otaknya menjadi tumpul. Ya Tuhan... Shine meringis frustasi. Berkat perubahan waktu kini semua impian menjadi sia-sia.


Shine memaki Hutson. Mengumpati pria itu hingga suaranya nyaris menghilang. Rasa haus mencekik tenggorokan. Tapi air saja tidak akan membuat keadaan kembali normal. Mengapa dirinya begitu bodoh malam itu. Mengapa tidak ia tinggalkan saja pria Asia itu berjalan di dinginnya malam, karena keteledoran kekasih bodohnya itu Javier berhasil menemukannya.


Preventin seperti makam kecil di kaki bukit Lehaya. Kota itu bahkan tidak bisa menyembunyikan seorang gadis lebih dari dua malam. Javier juga terlalu cerdas. Shine sedikit menyumpahi kecerdikan kaki tangan ayahnya itu. Sekalipun tampan dan lembut, pria dengan bola mata berwarna biru itu sungguh tidak bisa diajak bekerja sama.


Seharusnya Shine patahkan saja lidah Javier. Setidaknya dengan begitu dia tidak mengatakan hal bodoh. Javier terlalu mudah takluk di bawah intimasi Dominic. Ayahnya hanya perlu menekan dengan kejam, maka siapa saja akan bicara tanpa kebohongan di dalamnya. Bahkan kekuasan Dominic cukup untuk membuat sulit para pemegam saham lainnya.


Shine menjatuhkan dirinya di atas sofa. Tidak ada seorang manusia pun menemui dirinya. Bangunan ini terasa begitu sunyi. Bahkan meski ia berteriak seperti orang gila, hanya angin saja yang menyahuti kegaduhan. Apa di tempat ini ia hanya seorang diri? Atau ruangan ini memiliki fasilitas penjaga suara.


Shine memijit dahinya. Menarik kulit ke kanan dan ke kiri, lalu memutar titik di atas kepala untuk meringankan rasa pusing. Marah membuat darah panasnya menggelora di dalam diri. Membuat tubuhnya gerah, dan jantungnya berpacu tidak terkendali. Shine ingin sekali mencekik ayahnya. Dominic keterlaluan.  Bagaimana bisa pria itu benar-benar melakukan ancaman bodoh? Memindahkan putrinya ke sebuah tempat tanpa meminta persetujuan, bahkan meski putrinya sedang tertidur lelap. Sial!


Tapi bukankah dirinya dalam keadaan mabuk? Itu berarti sebagian kesalahan ada pada dirinya. Shine memukul kepalanya kecil, lalu berdesis sakit. Tangan yang lembut bahkan terasa melukai saat ini. Braigle akan menangis jika mengetahui putrinya di campakan. Tapi mengingat kembali kelabilan wanita cantik itu, Shine tidak terlalu yakin ibunya akan membawa dirinya kembali disaat  Dominic masih mengeraskan keinginannya.


Braigle mungkin akan mengatakan hidup dengan baik dan berusaha menjadi wanita dewasa. Hidup mempermainkan kepercayaan dalam satu putaran waktu.


Ketika gadis ini kembali mengingat satu nama, Shine memejamkan matanya erat. Dominic bajingan! Jika pria itu benar-benar menyerahkannya kepada Shaun Arthur, Shine bersumpah akan mengirimkan misil kepada Dominic. Menghancurkan otak dungu ayahnya akan menjadi rencana menyenangkan.




Crazy Relationship Prolog



Shaun Arthur tidak pernah berpikir jika diusianya yang menginjak dua puluh delapan tahun, ia justru harus menghadapi seorang gadis kecil nan pembangkang.


Dominicus mayer rekan kerjanya terlalu sinting. Menitipkan buah hati seperti menyerahkan sebuah permata. Dominic menyembunyikan fakta jika putrinya adalah seorang gadis bayaran. Dominic juga meminta Arthur untuk mengubah sikap nakal Shine yang kerap menghamburkan uang, dan sialnya Arthur sulit menolak


Shine bukan wanita dewasa. Dengan lingkar dada yang tidak lebih besar dari sebuah bola baseball, Shine gemar menggumbar ketidakseksiannya. Menggunakan pakaian terbuka, manja dan begitu banyak bicara.


Sejak hari dimana gadis itu menginjak rumahnya, Arthur tahu keberuntungan akan menjauh dari kehidupannya.


.
.
.
.


.
.
.
.


.
.
.
.
.
.
.
.












.
.
.
.
.
.
.
.
.






........









Mendekatlah, dan kau akan merasakan bara api melingkupi seluruh tubuhmu. 

Shaun Arthur/ 28 Tahun / Pemilik Seluruh Aset Monthana.





                               🔜🔚






Berjalanlah seperti kedua matamu terasa buta.

Shine Blessom Mayer  / 19 Tahun / Mahasiswi


Friday, September 14, 2018

Spalli Baby Part 1

Awal tidak selalu menjadi titik temu yang indahKiasan dalam lensa yang berkedut, menjadi tanda dari permulaan dia dan sepasang kisah.


.
.
.




Terkadang pagi mampu memberi warna gelap kepada sepasang mata yang terlalu malas untuk terbuka. Rasa dingin dan katupan yang rapat membuat sang empunya malas untuk beranjak.  Tubuh memilih berlindung di balik selimut tebal, dibanding menantang hujan di bawah atap langit yang hitam. 

Hari ini belum jauh berbeda dengan hari sebelumnya. Hujan masih menjadi sarapan pagi yang menyebalkan, juga seorang wanita tua yang begitu berisik dengan bibir gincu; persis seperi jalang di tempat remang. 

Satu minggu sepertinya adalah hal yang buruk. Kemarin bahkan perasaan terlunta karena ketidakperdulian. Detik seperti menguji kekuatan mental ketika derit pada pintu memberi efek kejut pada si jantung. 

"Bee, wake up!!" Jika dua menit lalu ia hanya mendengar derap langkah, saat ini lengkingan falseto sudah menerjang gendang telinganya. Gadis ini berdecak kesal di balik selimut berbulu. Memutar arah tubuh, ia kembali memejam lebih erat, sembari menulikan si telinga yang beberapa hari ini mulai kebal. 

Gerakan kiri dan kanan yang dilayangkan pada tubuhnya pun diabaikan begitu saja.  Ia tetap kekeh menikmati si malas, meski aura yang dikeluarkan oleh makhluk asing itu bagai kutuk seorang ibu.  Gadis ini sebenarnya takut, tapi tetap berharap Tuhan akan berpihak pada kemalangannya.

"Astaga Bee, bangun!! Lihat jam, loe telat!!" Lagi, dan ia tetap tidak bergeming. Masa bodoh pada wanita tua itu!! Dia mengantuk dan Jesy akan selalu menjadi pengusik di pagi hari.

Semalam Ryu dan Akiko menyedot seluruh perhatiannya.  Adu tangis dan tawa benar-benar memberi warna yang berbeda.  Intinya, sepasang suami istri itu sukses membuat si mata terbuka hingga di pukul empat pagi. Jadi saat ini mata cantik itu begitu sulit untuk menantang para cahaya. Dan jika Jesy ingin mengomel, marahi saja kedua artis kesayangan itu, karena mereka yang membuat Bee malas untuk beraktivitas.

"Bangun, atau gue pastiin lu mandi susu dan air pagi ini!!" Sial!! Harusnya Lewi meninggalkannya seorang diri. Jesy tidak cocok berada di dekatnya.  Mulutnya yang tajam sangat-sangat mengusik gendang telinga.

"Bee!!"

Menerjang kasar selimut tebalnya, Bee bangkit duduk, lalu menatap tajam manik sang kakak yang justru mengendik dan keluar begitu saja setelah berhasil membangunkannya. Medusa sialan!! Mengumpat sesaat,  Bee mengacak rambutnya kasar.  Wanita tua itu memang sangat menyebalkan.

Selain marah-marah Jesy berbakat menjadi siamang di hutan.  Sikapnya yang dingin juga cocok untuk dijadikan seorang Kingkong yang buas. Dan satu hal lagi, jangan pernah bersantai jika tidak ingin telinga menjadi tuli.

"Mandi Bee!! Kakak tunggu di meja makan!!"

Bee mendengus mendengar jeritan menggelegar Jesy.  Seantero rumah sudah seperti speaker aktif yang memantulkan suara.  Memang dia pikir rumah ini hutan? Astaga!! Bee tidak habis pikir, bagaimana bisa Mark menyukai kakak sintingnya itu.

Jesy bukan seorang wanita yang hangat. Meskipun kecantikannya bak dewi yunani, tapi percayalah sikapnya tidak jauh berbeda dengan menyerupai iblis wanita. Memang ada kalanya wanita itu akan melembut, tapi untuk beberapa hari ini Jesy membuat harinya yang buruk semakin bertambah buruk.

Bee menyambar handuk di di dalam lemari, kemudian masuk ke dalam kamar mandi dengan malas. Hujan masih terdengar memukul-mukul atap rumah. Angin yang berhembus kencang membuat Bee hanya membasuh tubuhnya singkat menggunakan air hangat, tanpa menggunakan limpahan busa di dalam bathub.  Hari ini untuk pertama kalinya ia malas menikmati air dan busa vanila.

Lima menit, setelah mengguyur asal tubuhnya, Bee menghentikan curahan air, dan melenggang keluar; melupakan handuk yang tersampir di dinding putih. Mengabaikan tubuh polosnya tertiup angin dingin, Bee melangkah memasuki ruang ganti. Cuaca dan suasana hati yang buruk membuatnya ingin segera sampai di sekolah. Setidaknya Smart Brain akan membuatnya lebih baik tanpa celoteh menyebalkan Jesy.

Lima tahun menjadi waktu yang panjang setelah kematian Anne.  Ada banyak perubahan yang ia rasakan.  Selain Jesy mendadak sinting dan banyak bicara, ayahnya juga mendadak gila bekerja. Bee memandang seragam sekolahnya sendu. Ada rindu yang tidak tersampaikan di setiap inci seragam putih dan merah itu. Terakhir kali Anee memasangkan seragam sekolah, adalah ketika Bee menginjak sekolah menengah pertama.

Luka itu kembali terbuka. Bee meremas dadanya kuat. Rembesan yang mengalir memberi dampak sakit pada gerakan si detak jantung.  Kapan terakhir kali ia menjerit?  Bee lupa.

Nyatanya, waktu tetap menyiksa dalam kenangan. Bee mengusap permukaan pipinya lambat. Lagi, kenangan itu menikam sudut masa lalu yang sudah ia coba kubur dalam-dalam. Jesy mungkin cerewet, tapi itu membuat Bee lupa akan rasa sedih itu. Sejauh kaki melangkah, kepingan kerikil rasa sakit menyampir dalam pelupuk mata; mengukir luka yang tertutupi kebohongan.

Ini kali pertama Bee menangis sejak Anee pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan. Menyisir surai hitamnya, Bee menyungging senyum kecil. Jesy pernah mengatakan akan menggantikan posisi Anne, tapi Bee tidak suka. Bee suka Jesy yang hangat, bukan Jesy si medusa.



✴✴✴



"Kemarin malam Darrel datang, katanya mau ketemu kamu. Kenapa hanya di dalam kamar?" Seolah tuli, Bee mengabaikan pertanyaan sang kakak. Manik mata Jesy menatapnya dingin, dan Bee tahu Darrel sudah mengadukan hal yang tidak-tidak. Pria itu sehari saja tidak mengusik sepertinya akan mustahil.

"Bee, gue bicara sama loe!! Loe nggak bisu kan?" Sepotong sandwich yang baru saja akan dilahap sang bibir mendadak mengudara tanpa gerak. Bee menatap malas Jesy.

"Kris nggak bilang apa-apa. Darrel juga nggak kasih kabar." Meletakkan garpu kembali ke atas piring, Bee meraih gelas susunya. Membuat aroma vanila yang di sesap menyeruak hingga ke dalam pernafasan. Bee suka vanila; Anne pernah mengatakan vanila itu Bee dan Bee itu vanila. Seperti manusia susu yang manis.

Satu senyuman tersungging di bibir Bee. Jesy nampak bingung, namun setelahnya mengendik tidak perduli. Bee akan selalu bersikap aneh jika nama Darrel keluar menyapa gendang telinga.

"Bohong banget sih Bee. Kris bilang kamu nolak ketemu Darrel. Kenapa?" Jesy memang tidak selalu berada di rumah. Pekerjaannya sebagai desainer membuat waktunya tersita begitu banyak. Belum lagi rencana pernikahannya yang akan dilakukan tiga bulan lagi, semua membuat kepala Jesy nyaris meledak.

Tapi sekalipun ia tidak pernah berada di dekat sang adik, Jesy memiliki puluhan mata-mata. Salah satunya Kris,-–atau lebih tepatnya Kristina, asisten pribadi yang ditugaskannya menjaga Bee, saat ia tidak kembali hingga tengah malam. Wanita itu mengatakan sejak semalam Darrel,-–pria yang dekat dengan adiknya itu berulang kali datang untuk menemui adiknya. Namun gadis bersurai hitam itu justru menolak dengan alasan mengantuk. Sementara Darrel dan Jesy hapal tabiat buruk Bee yang tidak akan terpejam jika waktu belum menunjukkan pukul sepuluh.

Jadi, apakah masuk akal jika Bee mengatakan Kris tidak mengatakan apapun? Stupid!! Bahkan orang bodoh pun tahu pukul tujuh adalah waktu bertamu yang baik hingga pukul sembilan malam. Jesy tidak tahu apa yang melatar belakangi kebohongan Bee, tapi demi apapun ia tidak suka adiknya itu mulai berbohong.

"Kakak kan tahu Darrel udah punya pacar. Adele nggak suka kalo Bee deket-deket Darrel." Pacar?? Jesy mengerutkan dahinya sejenak, lalu tersenyum menyadari kalimat bernada manja adiknya itu.

Oke, seminggu yang lalu teman dekat adiknya itu memiliki kekasih. Tapi apa yang salah?? Apa Bee cemburu?? Karena biar bagaimana pun selama tiga tahun belakangan hanya Darrel pria yang bertahan di sisinya. Jesy juga ingat, Bee berubah sejak ayahnya gila bekerja dan meninggalkan mereka. Saat itu adalah saat paling buruk.

"Loe cemburu? Katanya nggak suka."   

Tiga setengah tahun lalu, gadis kecil bersurai hitam itu pernah mendekam di dalam rumah sakit selama satu bulan.  Hingga Jesy terpaksa cuti kuliah untuk menemani Bee. Menghapus sepi sang adik hingga gadis bermata sipit itu mau kembali pulang. Butuh banyak perjuangan bagi Jesy untuk meluluhkan kekeraskepalaan Bee.

Ada banyak cerita yang harus ia kendalikan. Kebohongan-kebohongan yang harus ia rangkai untuk menenangkan kegusaran Bee. Jesy akui dirinya jauh lebih lemah, tapi lentera dalam kotak persegi sang ibu tidak membantu. Kehancuran Bee adalah kehancuran untuknya. Mark mengatakan biar saja Bee menyusul Lewi, tapi Jesy tidak bisa. Jesy butuh Bee untuk bertahan hidup, karena hanya Bee harta terakhir yang Anne tinggalkan.

Dan semua berubah setelah kedatangan Darrel.  Entah karena apa, pria berkulit putih itu berhasil menghancurkan dinding ketakutan Bee terhadap lelaki,  dan membuat adiknya itu kembali hidup. Kecuali satu minggu belakangan.

"Cemburu? Enggak!! Adele nggak suka kak!! Bee juga nggak suka!!" Jawaban itu tidak mengandung penolakan, dan Jesy tertawa memahami maksud sang adik. Bee terlalu polos di usianya yang memasuki tujuh belas tahun. Posisi terkecil yang dimilikinya membuat Bee tumbuh begitu manja.

Gadis itu tidak pernah marah, kecuali merajuk layaknya balita kecil; yang bagi Darrel adalah hal paling menggemaskan, tapi tidak untuk Jesy. Kehilangan sang ibu membuat Bee manja padanya dan Jesy menyesalkan itu. Ia takut kelak Bee sulit bergaul. Karena saat ini saja Bee hanya berteman pada Darrel dan Neil. Banyak orang menganggap Bee angkuh, meski sebenarnya gadis itu hanya sulit berbaur. Bee cenderung penakut pada seseorang yang tidak dikenalnya. Pertama kali mengenal Mark pun gadis menjerit histeris.

"Ya Darrel jangan dijauhin Bee. Dia kan nggak salah. Adelenya aja yang posesif." Jesy mengusap sayang kepala sang adik, kemudian menatap hangat memberi pengertian. Tujuh belas tahun bersama, Jesy selalu takjub melihat kepolosan adiknya itu. Bee akan selalu menanyakan apapun yang tidak mampu dimengertinya. Kecuali hal yang bersangkutan pada Darrel. Gadis itu begitu tertutup dan hanya akan menjawab tidak pada sebayak apapun pertanyaan.

"Loe kan tahu Darrel gimana. Nanti kalo murka kakak nggak ikutan loh." tambah Jesy. Lantas terkikik saat Bee mencebik tidak terima. Siapa yang berani menantang kemurkaan Darrel? Bahkan Mark pun akan memilih mundur jika Darrel sudah memasang wajah pangeran iblisnya.

"Nggak bisa gitu dong kak!! Bee kan capek diganggu Adele!!" Entah Bee atau Adele yang bermasalah, yang jelas Darrel sudah mengultimatum Kris habis-habisan. Wanita itu bahkan bergidik ketika menceritakan kemarahan Darrel saat Bee menolak menemuinya.

"Kasih tahu Darrel, Bee." jawab Jesy. Ia meraih kunci mobilnya, kemudian menuntaskan air putih di dalam gelas, sebelum akhirnya membersihkan sudut bibir menggunakan tissue di atas meja.

"Bee pikirin deh. Tapi kakak jangan ember ya!!" Sekali lagi Jesy tersenyum lucu. Ember?? Sejak kapan ember bisa bicara? Tapi Jesy tetap mengangguk sembari menarik pergelangan tangan Bee. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit. Perjalanan mereka akan memakan waktu sepuluh menit jika jalanan tidak padat. Dan kesalahannya, ia justru lupa dan mengajak Bee bicara panjang lebar.

Kemungkinan terburuk Bee akan terlambat jika ia terus mengulur waktu. Senin adalah hari buruk anak sekolah. Para pekerjaan kantoran juga akan memenuhi jalan, persis seperti kerumunan semut. Jesy menghembuskan nafasnya berat melihat serangan hujan dan angin. Lalu menuntun Bee masuk ke dalam mobil. Nyatanya hujan tidak menyurutkan niat para manusia meski petir menggelegar. Tidak ada pilihan lain bagi Jesy. Terlebih ia juga tidak bisa meminta bantuan Darrel,–pria itu sudah memiliki jadwal lain yang memaksanya pergi terlebih dahulu sejak tiga puluh menit yang lalu.

Jadi sebelum Lewi memakinya, tanpa berpikir dua kali Jesy berlari memasuki pintu kemudi, kemudian mengemudikan mobilnya dengan cepat. Persetan pada jalanan yang licin!! Lebih baik ia menerima kemurkaan Mark dibanding harus menerima kemarahan sang ayah, karena membiarkan Bee terlambat dan mendapat hukuman di saat hujan badai.


✴✴✴


Rintikan hujan masih melingkupi penglihatan. Hembusan angin yang kencang menyibak helaian daun, membuat ranting mencokelat karena serapan air yang berlebih. Kelopak bunga berjatuhan di sekeliling pot. Jejak-jejak basah yang berada di sekitarnya menciptakan pola-pola abstrak seperti garis dan gelombang.

Di bagian timur, lapangan basket dipenuhi genangan air. Tidak terlihat para siswa-siswi berkerumun, namun sebagian memenuhi koridor dengan saling bercerita. Hujan selalu membawa dampak positif bagi mereka. Selain upacara akan selalu dibatalakan, para guru juga akan mendadak malas untuk mengajar.

Entah itu bisa dikatakan berkah atau musibah, para murid itu akan selalu bersyukur dengan datangnya hujan. Dari arah lain, seorang pria menajamkan lensa matanya. Dahinya bergerak mengerut tiap kali detik berirama pada si detak jantung. Seseorang yang asik berbicara di samping tubuhnya bahkan diabaikan begitu saja;seolah tidak berbicara padanya. Fokus itu terpaku pada satu titik, dimana seorang gadis nampak memantul-mantulkan langkahnya sembari tersenyum cerah. Sekotak susu juga terlihat sesekali berayun, lalu diseruput lambat.

Pria itu menyunggingkan senyum kecil. Selau seperti ini. Keadaan memaksanya bersikap datar untuk melindungi jati diri. Mungkin si bibir akan melontarkan kalimat laknat, namun hati itu menyimpan getar yang tak terlihat. Gadis di seberang sana masih memantul dengan riang. Dua puluh langkah lagi, dan ia yakin semua akan berakhir dengan perbincangan. Namun saat sang bibir siap menyapa, ia harus ikhlas mengumpat kesal, ketika gadis itu justru mengabaikannya begitu saja.







To Be Continue...




Monday, June 25, 2018

Conqeror Chocolate 4

Kimbum menghembuskan nafasnya lirih. Menjadi sandaran bukanlah masalah, bahu kekarnya cukup kuat untuk sekedar menahan kepala soeun, hanya rasa tidak nyaman terus mengusik hati dan pemikirannya. Penerbangan panjang baru berlangsung selama 5 jam, itu berarti masih membutuhkan waktu 14 jam untuk tiba di negara romantis paris, perancis.  Banyak waktu terbuang hanya untuk perjalanan bodoh, dan ia menyesal menuruti permintaan sang eomma. Jika saja sahee tak datang dan mengusik ke dalam ruang kerjanya, saat ini ia pasti tengah berlibur pribadi di pulau jeju tanpa harus mememani gadis manja seperti kim so eun.

19 jam penerbangan, dan gadis itu hanya tertidur sejak 4 jam yang lalu. Soeun hanya bangun untuk menggerutu selama satu jam dan berakhir dengan tidur lelapnya. Gadisnya tak pernah manja atau pun banyak bicara, membandingkan soeun dan kekasihnya, hanya layaknya langit dan bumi. Menurut kimbum kekasihnya terlalu sempurna untuk disandingkan dengan sosok menyebalkan soeun.

"Excuse me sir, do you want a glass cocktails ?."

Seorang pramugari cantik menyapa lembut. Memaksa kepalanya yang tertunduk terdongak membalas tatapan.

"Yes, and a glass of hot chocolate." jawab kimbum.

Sang pramugari tersenyum kikuk, menampilkan tarikan alis aneh. Namun tak berusaha beranjak dari tempatnya berdiri, seolah memastikan bahwa pendengarannya tak salah. Chocolate ?

"For my wife." ucap kimbum cepat, lalu kembali mengalihkan tatapannya pada tabloid yang berada di jemari kekarnya. Respon raut konyol sang pramugari sedikit mengusik, memunculkan rasa kesal menyelumuti hatinya. Chocolate ? dan haruskah si pramugari mengernyit aneh ? Seolah suatu hal yang salah jika dirinya memesan segelas minuman untuk gadisnya?
Tunggu, gadis? Kimbum menggelengkan kepalanya lirih, merasa bodoh dengan pikirannya sendiri. Sedang sang pramugari yang melihat tingkah aneh kimbum memilih pergi sebelum sang pria tampan menghardiknya tanpa ampun karena telah berani mencemooh lewat sebuah tatapan.

Sementara kimbum lagi-lagi menghembuskan nafasnya kasar, menggerakkan jemarinya lebih cepat dalam membalik helaian kertas. Apapun yang menyangkut kim so eun akan selalu memancing emosinya, dan sedetik kemudian bibirnya menyungging senyuman aneh ketika salah satu jemarinya tidak sengaja membuka selembar halaman yang menampilkan wajah dan tubuh sang istri.



Entah apa yang terjadi, tiba-tiba  saja mood membacanya hilang bagai tertelan bumi. Dan  Jantung sialannya mulai berdegub kencang, memberi rasa panas membakar setiap inci hatinya. Ia mengepalkan jemarinya kuat, mengumpat dan menolak pikiran bodoh yang berusaha masuk merayapi hati. Merafal keras, tak ada cinta untuk kim so eun.

*****©©©©*****

Goldshion tampak sibuk seperti biasanya, namun berbeda dengan ruang utama sang pemilik perusahaan. Dimana diantara tiga orang pria yang berada di dalamnya, nampak seseorang menggerutu dengan kalimat panjang yang memusingkan.

Memancing dua pria lainnya terkekeh mendengar segala lontarannya. Waktu masih menunjukkan pukul 10.00 am, dimana masih waktu sibuk bagi para pekerja kantoran seperti mereka. Setelan jas dan sepatu mahal memang suatu keharusan dalam berpenampilan. Penampilan  memukau adalah salah satu kunci kesuksesan selain bermodalkan ketampanan dan kecerdasan. Itu yang dikatakan sang executive muda kim sang bum.

"Jadi dia berlibur? Hyung tidak adil! Bagaimana bisa dia tidak mengajakku?"

Lagi, ini adalah gerutuan ke 20 Yoon jilguk. Bibir dan wajah bertekuk menjadikan dirinya tampak begitu mengesalkan untuk sekedar dipandang mata. Jelas jika saja kimbum berada di dekatnya, pria dingin itu pasti akan mengirim jilguk ke planet pluto, yang bahkan telah dihapus dari daftar planet terkenal. Lontaran kalimat bodohnya begitu mengusik dan mengganggu pendengaran di telinga bogem.

"Untuk apa dia membawamu? Pabbo!" timpal bogem kesal. Ia sudah cukup kesal dengan kekonyolan kimbum yang memberinya pekerjaan begitu menumpuk. Dan kini jilguk justru hadir dan menyuarakan demo idiot tanpa memikirkan perasaannya.

"Tutup saja mulutmu hyung. Kau membuatku emosi." umpat jilguk. Ia beranjak dari sofa dan memilih mendekati sang wo yang menduduki kursi kebesaran kimbum.

"Cih. Dasar bocah!" desis bogem

Sang wo tersenyum dibalik keseriusannya, mencoba mengacuhkan sang keponakan yang kini telah terduduk santai di hadapannya.

"Ajushi kenapa kau tak memberi tahuku ?"

"Untuk apa? Mereka akan berbulan madu, apa kau kan mengganggu?"

"Aku tidak yakin pria dingin itu akan menjaga noona dengan baik."

Sang wo menghela nafas, melepas kaca mata minusnya dan merapikan beberapa berkas yang sebelumnya tengah di pelajari. Apa yang dikatakan jilguk memang benar adanya, dan ia juga khawatir kimbum justru tak mengacuhkan soeun dan membiarkannya berlibur sendirian. Namun apa boleh buat, ia tak memiliki banyak kekuasaan. Sahee pemilik kendali, dan kekerasan hati sahee juga soeun tak mampu di runtuhkan begitu saja.

"Jangan katakan itu. Kimbum memang keterlaluan, tapi dia pasti akan menjaganya."

"Aku akan menyusul."

"Yaaaaa, jangan merusak rencana yang sudah tersusun." sahut bogem cepat. Ia beranjak lalu memukul keras kepala jilguk. Astaga, dimana ada orang berbulan madu dengan membawa seorang pengganggu?

"Aish... Ini menyebalkan!" gerutu jilguk sambil mengusap kepalanya yang terasa berkedut.

"Kau sudah mempelajari berkas noonamu?"

"Ne. Menurut ku tak ada yang perlu di khawatirkan ajhusi. Tapi kenapa ajhusi harus meminta hyung mengancamku?"

Sang wo mengernyit mendengar ucapan jilguk. Lalu tersenyum ketika menyadari sesuatu di dalam benaknya. Hati seorang ayah tidak akan pernah salah.

"Aku tidak pernah mengatakan apapun. Bahkan aku baru tahu putraku itu memperkerjakanmu sebagai manager soeun." jawabnya

"Omo... jeongmal komisaris?" ucap bogem kaget.

"Ne." 

"Daebak, jadi di mempermainkan ku?" timpal jilguk. Ia menyeringai iblis saat menyadari arti senyuman sang paman. Dan jilguk bersumpah akan membalaskan kekesalannya pada kimbum. Pria tampan itu boleh saja mengelak, namun jangan panggil ia Yoon jilguk jika dirinya tak mampu membuat kimbum mengakui perasannya.

"Dia mengerikan. Kali ini pria dingin itu akan bertekuk lutut pada si gadis chocolate." jawab bogem menimpali. Kecerdasannya berada di atas rata-rata saat membahas hal rahasia menggunakan kode senyuman.

"Bicara tentang chocolate, kenapa noona begitu menyukainya?"

"Molla jhin ae mengatakan soeun menyukai makanan manis itu, karena seorang pemuda tampan pernah memberinya chocolate." jawab sang wo. Ia kembali meraih berkasnya dan kembali membaca ulang. Kimbum akan mengamuk bila pekerjaannya terbengkalai karena ulah sang appa.

"Jadi kimbum bukan cinta pertama soeun ? Aa.. dia akan kecewa." cibir bogem bahagia. Suatu hal yang menggembirakan mengetahui hati beku itu mulai mencair dan berpindah pada tempat yang seharusnya. Dan mulai saat ini bertambah satu pekerjaan dalam pikirannya. Membuat kimbum cemburu dan membuat bibir tajam itu mengungkapkan segalanya.

"Itu berarti mereka imbang." ucap jilguk. Ia mengalihkan tatapan, menatap bogem yang juga menatapnya aneh. Lalu tersenyum kompak menyalurkan ide-ide bodoh yang berkeliaran di dalam
Otak. Akan ada banyak hal yang menimpa kimbum dan mungkin akan membuat sang direktur tampan itu menahan kesabarannya berkali-kali lipat. Jilguk dan bogem adalah satu kesatuan yang sempurna dalam hal memporak-porandakan emosi. Kali ini keduanya akan memastikan Kim so eun mendapatkan Kim sang bum si pemilik hati beku.

*****©©©©******

Sheraton Paris Hotel.

Soeun menggerutu tak terhentikan. Tubuh yang lelah seolah tak menghalangi laju kecepatan bibirnya. Sejak mereka tiba suasana hatinya memburuk karena tingkah aneh sang suami. Kimbum tiba-tiba saja menjadi pembungkam mengerikan, dan jika ia bicara, bibirnya hanya akan berucap kata menyakitkan. Bahkan seorang pramugari yang mengantarkan minuman, harus menangis ketika mendapatkan amukan maha dasyat sang pria tampan. Mengakibatkan soeun terbangun dan harus berusaha meminta maaf. Dan kimbum ? Pria itu bersikap acuh memasuki kamar pribadi yang disewa hanya untuk dirinya sendiri.

Mereka mendarat tepat pada pukul 08.00 pagi, dan kimbum segera menariknya menuju hotel ini. Hotel mewah milik goldshion, lalu meninggalkannya sendirian sejak 3 jam yang lalu. Apa ini waras ? Untuk apa dia ikut jika hanya pergi menikmati liburan sendiri ?

Jika saja soeun berani maka ia pasti sudah pergi sedari tadi. Apa yang harus dikatakannya ? Sang abeonim memberinya uang  yang begitu banyak, namun soeun belum pernah sekalipun menginjakan kaki di negara eropa. Tersesat bukanlah jalan cerita yang bagus menurutnya. Akan lebih baik menunggu dan merengek pada kimbum untuk membawanya menikmati hari.

Menunggu adalah hal membosankan untuknya. Namun jika dengan menunggu bisa membuat kimbum mau mengajaknya berkencan, maka soeun akan dengan senang hati menunggu. Suara pintu terbuka dan tertutup membuat soeun segera berlari keluar dari dalam kamar. Tak perlu mencari tahu siapa yang tengah bertamu, karena sudah jelas yang dapat membuka pintu kamar hanya pria tampan kesayangannya.

"Kau sudah kembali ?." tanya soeun saat kimbum memilih mendudukkan tubuhnya di atas sofa. Hotel sang wo begitu mewah, sebuah kamar hotel dengan satu buah kamar di dalamanya, hingga nampak seperti apartemen mewah berukuran mini.

"Kau bisa melihatnya." jawab kimbum dingin. Ia menutup kedua matanya, memilih mengacuhkan kehadiran soeun. Suasana hati yang buruk membuatnya enggan untuk sekedar kembali ke dalam hotel. Bahkan sebenarnya ia sudah  berencana kembali ke korea.

"Bum-ah.. ayo temani aku." rengek soeun. Ia mendekati kimbum dan mendudukkan tubuhnya tepat di sisi kanan sang suami. Melancarkan aksi manja dengan memeluk erat tubuh kekar kimbum.

Kimbum mengerang frustasi di dalam hati. Bayangan gambar soeun terus mencambuk ulu hatinya. Dalam sekali hentak ia melepas kasar pelukan soeun. Lalu beranjak melangkah menuju kamar.

Soeun tercekat. Satu tohokan menghantam denyut jantungnya. Ia tersenyum tipis, lalu mengangkat kepalanya menatap punggung kimbum.

"Tidak bisakah kau menganggapku sebagai adik mu ?." ucapnya lirih.

Lirihan yang begitu sendu dan hanya seperti sebuah bisik tanpa suara. Mengalirkan kekecewaan ke dalam hatinya. Pernikahan hanya bagai sebuah permainan, dan ia sendiri yang memainkan semua lakonnya. Jika saja ia bisa menolak, maka saat kedua orang tuanya menyetujui perjodohan maka soeun akan menolaknya. Sendiri bahkan lebih baik dibanding menahan rasa.

Kimbum menghentikan langkah kakinya tepat saat jemarinya bersiap membuka pintu. Ia menghela nafas kasar dan memejamkan matanya sekejap. Alunan nada lirih soeun sampai pada saluran pendengarannya. Mengantarkan puluhan paus menghantam hatinya, terasa begitu sakit dan memuakkan.

"Beri aku waktu 2 jam beristirahat." jawabnya, lalu dengan cepat melangkah memasuki kamarnya. Ia juga manusia, dan pernah merasakan rasa itu. Cinta namun di abaikan.  Meski knum sendiri tak yakin dengan rasa cintanya itu. Setidaknya ia tak ingin soeun juga merasakan kehancuran hatinya.

Soeun tersenyum, memberi kiss jarak jauh dari posisi duduknya. Sebuah acting terkadang diperlukan untuk menaklukkan hati beku seorang pria. Oh astaga, buku yang diberikan bogem ketika mengantarnya pulang sangat berguna. Ketebalan yang membuat pusing, justru menghasilkan sebuah keberhasilan yang menyenangkan.

Soeun kembali terkekeh mengingat actingnya, lalu melompat-lompat di atas sofa. Mengacuhkan dress mininya yang ikut berlonjakan menampilkan keseksian paha putihnya. Tak ada yang lebih menyenangkan dibanding hari ini.

****©©©****

"Soeun berhentilah, kau mengangguku." gerutu kimbum sambil mendudukkan tubuhnya kasar. Ia mendengus lalu menatap kesal sang istri yang tertidur miring dengan senyum jahilnya. Gadis itu dengan sengaja terus meniupi wajahnya, dan sumpah demi apapun soeun begitu mengusik ketenangan.

"Kaja bum-ah.. Ppalli" jawab soeun. Ia tak beranjak hanya mengedip-kedipkan matanya menggoda kimbum.

Membuat kimbum bergidik dan segera beranjak memasuki kamar mandi. Ada yang aneh pada dirinya. Berada satu hari bersama soeun di paris membuat perasaannya berkecamuk tak karuan. Sebuah perubahan rasa yang menata ulang sebagian hatinya, dan kimbum tidak ingin melakukan hal konyol hanya karena tak mampu mengendalikan tubuhnya.

*****©©©©*****

Pont des Arts di Paris,

Kimbum mengumpat dalam hati menanggapi tingkah soeun. Ini adalah tujuan pertama liburan mereka dan gadis itu dengan sengaja memilih jembatan bodoh sebagai tempat wisatanya. Dan kini soeun bahkan terus saja menarik pergelangan tangannya hanya untuk memasang gembok cinta mereka.

Tunggu, kimbum menggeleng kasar, yang benar ialah gembok cinta si istri mungil nan menyebalkan.

Sangat memalukan seorang CEO GOLDSHION berada ditempat umum hanya untuk mrmasang sebuah gembok. Bahkan gerbang kediamannya di korea dapat dengan puas soeun pasangi gembok-gembok idiot.

Sedang soeun terus saja melangkah tak memperdulikan kekesalan yang jelas terlukis diwajah tampan kimbum. Pakaian formal yang digunakan sang suami sedikit menjadi ejekan dihatinya. Kimbum terlalu beku dalam segala hal, bahkan ketika soeun membongkar koper pria itu, matanya nyaris keluar karena terbelalak melihat isi yang berupa sekumpulan jas formal. Jelas saja karena kimbum tak mengizinkan dirinya menata pakaiannya.

"Tidak bisakah kau berhenti ? Atau kau memang pabo ?." hardik kimbum. Ia menghempas kasar jemari soeun, lalu melangkah menjauh sebelum amarahnya lebih memuncak. Dirinya sudah cukup menahan malu ketika semua pandangan mata tertuju padanya yang ditarik-tarik seorang gadis mungil berparas cantik.

Soeun memuciskan bibirnya, lalu menghentak kakinya keras. Kimbum sungguh menyebalkan setiap saat, tapi ia tidak akan kalah. Meski akan tersesat ia harus segera memasang gembok cintanya.



Ponts des arts, merupakan tempat wisata di perancis di mana pasangan "mengunci" cinta mereka ke sisi jembatan dengan gembok cinta. Dan soeun berharap dengan memasang gemboknya maka cintanya pun terkunci selamanya.

Soeun berjalan mencari posisi yang tepat,lalu mengarahkan jemarinya memasang gembok cinta berwarna chocolatenya, membisik dan merafal doa, memohon pada tuhan untuk segera mengunci hati kimbum padanya, karena hatinya telah sepenuhnya terkunci pada pria tampan itu.

"Sudah selesai ?."

Soeun terlonjak dan segera berbalik ketika mendengar nada bariton sang suami menyapa pendengarannya. Bibirnya tersenyum manis saat melihat kimbum benar-benar berada tepat dibelakang tubuhnya. Lihatlah tuhan telah menjawab satu doanya. Soeun menganggguk lalu dengan cepat merangkul lengan kimbum dan membawanya berjalan menuju tempat selanjutnya.

Kimbum memalingkan wajahnya ke sisi kiri, menyungging senyum di dalam hati. Ada yang salah dan dirinya tampak begitu konyol. Ketika ia menjauh dan berdiri di sudut jalan, tanpa sengaja manik matanya menangkap seorang pria berjalan perlahan menuju sang istri. Berniat mengacuhkan namun emosinya memuncak ketika menyadari tingkah mencurigakan sang pria. Dan tepat ketika sang pria menjulurkan tangannya untuk mengangkat dress mini soeun,  kimbum dengan cepat berlari dan mencekal kuat lengan sang pria mesum. Menatapnya geram dan menariknya menjauh saat mendengar soeun berbisik-bisik seperti sedang merafal doa.

"Dia istriku ! Jangan coba menyentuhnya !."

Kimbum menggaruk tengkuknya, merasa bodoh saat mengingat kembali kalimat bernada geramannya yang membuat sang pria mesum berlari ketakutan. Entah apa yang terjadi, namun semua  begitu cepat berlangsung, hingga kimbum tak mampu menolak setiap respon tubuhnya. Seolah hati dan seluruh tubuhnya menuntut untuk melindungi soeun, mengukung gadis mungil itu dalam pelukan hangatnya.

"Waeyo bum-ah ?." tanya soeun. Ia mengernyit dan menatap fokus wajah kimbum.

"Gwaenchana, kemana kau akan pergi setelah ini ?." jawab kimbum. Ia menghentikan aksi bodohnya dan mentap datar pengunjung lainnya.

"Aku ingin makan." ucap soeun.

"Kau akan menikmati chocolate hoeh ?."

Kimbum memalingkan wajahnya, menatap remeh soeun yang ternyata juga mentapnya aneh.

"Kau mengingatnya ? Itu berarti kau memperhatikan ku."

"Kau bermimpi ?. Tentu saja aku mengingatnya. Bukankah itu makanan mu setiap hari ?."

Soeun terkikik mengacuhkan kalimat mengelak kimbum. Baginya kimbum mengingat hal seperti itu saja sudah cukup membahagiakan hatinya. Ada banyak kata yang terucap dan semua seolah tuhan telah menjawab doa-doanya. Pria itu bicara banyak meski dengan nada yang membekukan.

Sial !
Kimbum mendesah sesal dalam hati. Bibirnya terlalu bodoh dalam berucap, hingga membuat soeun salah mengartikan ucapannya. Sumpah demi apapun ia tak ingin soeun salah mengerti dan menganggapnya telah berpindah hati.

Kimbum masih terus menolak dengan kecerdasan otaknya, semua perasaan yang merayap di dalam hatinya. Memaksa tetap menomor satukan gadis yang kini bahkan telah terhapus dari dalam pikiran dan hatinya.

*****©©©*****

Kediaman utama kim sang wo tampak sepi tanpa lantunan manja seorang gadis. Menyisakan sepasang paruh paya yang memilih terduduk diam menatap layar televisi. Terasa hambar dan membosankan menikmati waktu yang biasa terasa menyenangkan. Bahkan aroma teh dan cookies yang menyeruak tak memancing keinginan untuk sekedar mencicipi.

"Aku merindukan gadis mungilku." ratap sahee. Ia melepas pandangannya dari majalah yang tergenggam. Meletakkan majalah di atas meja lalu menataap sang wo yang terduduk focus pada layar yang menyala.

"Berhentilah yeobo. Bukankah kau yang merengek." jawab sang wo, tanpa mengalihkan tatapannya. Sahee buruk ketika merindu. Semua ide adalah hasil pemikirannya, dan kini ketika gadis mungil itu berhasil pergi, istrinya itu justru merindu tak tertahankan.

Sahee menghela nafas. Apa yang dikatakan sang wo memang benar. Tapi sungguh dirinya tak bisa mengelak dari rasa rindu yang membuncah, meski soeun baru pergi beberapa hari.

"Hmm. Tapi rumah ini menjadi sepi tanpa nada manjanya." jawabnya.

"Kau sudah menghubungi hyerim ?." tanya sang wo mengalihkan pembicaraan. Sahee akan semakin menjadi bila ia terus menanggapi ratapan aneh istri cantiknya itu.

"Ne.. Dia mengatakan akan berkunjung ke hotel."

"Baguslah.. Ini awal baik untuk segalanya."

"Kau benar..."

Sahee tersenyum lalu memeluk erat sang wo yang kembali mengalihkan tatapannya pada layar. Putrinya telah mencair ketika mendengar kimbum telah menikah. Hyerim memang tak mengetahui prihal itu, wanita itu terus menjauh setelah kejadian yang hampir menghancurkan keluarga kecilnya karena kelakuan kekasih hati kimbum. Hal yang membuat hyerim membenci kimbum dan memilih pergi menetap di prancis.

*****©©©©*****

Dikamar hotelnya kimbum menatap tajam soeun yang terduduk diatas ranjang dengan bibir mengerucut. Hatinya merutuk kesal dengan segala tingkah manja sang istri. Setelah mereka kembali dari ponts des arts, soeun merengek meminta kembali ke hotel dengan alasan lelah dan lapar. Namun setelah tiba gadis itu justru merengek meminta cup cake chocolate sebagai menu makan siangnya. Dan sumpah demi apapun kimbum memberang dengan kekonyolan soeun. Ia tidak berniat merawat soeun, jika sampai istri mungilnya itu jatuh sakit karena tidak makan dengan benar.

Lagi kimbum mengangkat ganggang telfon memesan makanan, ini sudah yang ke 3 kalinya ia melakukan panggilan. Mungkin dibawah sana para staff order taker telah menggerutu menyumpahi aksi bodohnya.

"Deliver two portions of te volaille de bresse to my room !." perintah kimbum tegas ketika di ujung sana salah satu karyawannya menjawab sambungannya.

"Tidak mau, aku mau chocolate !." teriak soeun.

Kimbum memutar bola matnya malas, menutup kembali telfonnya dan beranjak ke sisi kiri ranjang. Tidur adalah pilihan terbaik untuk menenangkan diri akibat tingkah menyebalkan kim so eun.

"Terserah kau saja ! Kau bisa memesannya sendiri. Aku tidak perduli jika kau keracunan." jawab kimbum sinis.

"Kau memang jahat !." gerutu soeun. Bukan ia tidak senang menerima perhatian kimbum, hanya lidah manisnya terasa pahit dan tak berminat dengan makanan berat.

Kimbum mengacuh, lalu beranjak saat pendengarannya menangkap sebuah ketukan. Adakalanya menanggapi soeun adalah dengan mengacuhkannya.

"Noona ?" ucap kimbum kaget ketika menatap hyerim berdiri tepat di pintu kamar hotelnya bersama seorang pria yang adalah sang suami lee song jo.

Hyerim tersenyum menanggapi nada kaget sang adik. 2 tahun dan kimbum tak pernah berubah dimatanya. Tetap tampan dan begitu mempesona.

"Aku mengganggumu ?" tanya hyerim.

"Anio masuklah.." jawab kimbum. Ia menggeser tubuhnya memberi jalan pada hyerim dan jong so, lalu kembali menutup pintu dan melangkah menuju sofa.

Didalam kamar soeun mengernyit curiga dengan memicingkan matanya mendengar suara kimbum. Siapa  yang bertamu ke hotel ? Apakah kimbum membuat temu janji ? pikirnya. Merasa kesal dan semakin penasaran soeun segera beranjak keluar. Dahinya semakin mengernyit ketika melihat kimbum terduduk diam memandang marmer. Namun ketika melihat sepasang muda-mudi turut duduk dihadapan sang suami, soeun segera menyungging senyum secara sembunyi-sembunyi.

"Nuguseyo? Apa kau kekasih bodoh pria dingin ini ? Jika ia ku harap kau pergi saja." ucap soeun dingin. Soeun berkacang pinggang menatap tajam dua manusia yang kini menatapnya aneh. Di usir ? Itu sesuatu yang menyakitkan.

"Bisakah kau menutup mulutmu ?!. Lebih baik kau pergi ! Aku sudah cukup muak melihat tingkahmu." hardik kimbum. Kimbum berdiri menatap geram soeun, membuat hyerim dan jong so terlonjak kaget mendengar hardikan kasarnya.

"Arrasseo.. Hyerim eonnie senang berkenalan dengan mu. Anneyeong oppa." ucap soeun. Ia membungkukkan tubuhnya cepat, lalu segera melangkah menuju pintu keluar. Ada rasa sakit ketika mendengar teriakan keras kimbum, dan soeun tak berniat memangis dihadapan pria itu dan keluarganya.

Kimbum terdiam di tempatnya berdiri. Nafasnya menyesak ketika soeun menyebutkan nama sang noona. Gadis itu mengenalnya, dan ia justru memarahinya. Tapi kenapa soeun harus bertingkah bodoh dengan berpura-pura tak mengenal, hingga membuatnya salah paham. Kimbum menghela nafasnya perlahan, tak bermaksud memaki, hanya takut sang noona terluka dan kembali membencinya. Ia terlalu bahagia hyerim mau menemuinya setelah dua tahun berlalu, dan kimbum tak ingin sang noona meninggalkannya kembali.

Sedang hyerim mencoba mengejar langkah soeun. Meski sejujurnya ia sedikit bingung mengetahui soeun mengenalinya.

"Hey, kim so eun." teriaknya lembut, namun hyerim harus menghembuskan nafasnya saat soeun telanjur masuk ke dalam lift.

Hyerim kembali masuk, memandang kesal sang adik yang hanya tetap berdiri diam tanpa tindakan.

"Apa yang kau lakukan ? Kejar dia." perintahnya.

Sial ! Hyerim tidak habis pikir, kimbum justru duduk kembali pada sofanya,  mengacuhkan sang istri yang sedang terluka.

"Tidak perlu ! Dia tahu jalan pulang." jawab kimbum acuh.

Membuat hyerim lagi-lagi menghela nafas pasrahnya. Sifat kimbum tidak berubah, bahkan hyerim sadar adiknya itu masih menunggu si gadis pelacur, dan menjadikan pernikahan sebagai pelampiasan rasa sakitnya.

"Kau masih belum melupakan gadis pelacur itu ?." ucap hyerim sinis.

"Ayolah noona.. Hentikan." jawab kimbum. Ia menatap hyerim sendu.

Ada pancaran menyesal terlukis di kedua bola matanya, dan hyerim dapat melihatnya dengan sangat jelas. Namun rasa sakit dan kecewanya memaksanya egois agar kimbum mampu melupakan gadis itu. Hyerim mengetahui segalanya, kimbum tidak benar-benar mencintai gadis itu. Dulu adiknya itu selalu bercerita,ia menyukai seorang gadis kecil pencuri ciuman pertamanya. Dan entah mengapa kimbum menganggap gadis pelacur itu adalah gadis kecil yang dicarinya. Dan hyerim yakin rasa yang tetuang dihati kimbum hanyalah sebuah obsesi kepemilikan saja.

"Bagaimana keadaanmu ?." ucap jong so. Ia mencoba mencairkan suasana yang kembali menegang. Ia juga salah satu pemeran dalam kehancuran yang terjadi dan jong so berharap kedua kakak beradik itu mampu membaik seperti dulu kembali.

"Seperti yang kau lihat." jawab kimbum.

"Dia menggemaskan, kau tidak tertarik ?." jong so tersenyum menatap kimbum. Mencoba bergurau menenangkan hati sang adik ipar.

"Tidak semudah itu hyung. Mianhae untuk kejadian yang lalu." jawab kimbum seraya membalas tatapan jong so hangat. Hati itu kembali menghanyut, menyebar rasa sesal telah melukai. Jong so pria yang baik dan kimbum sadar itu. Hanya entah mengapa dulu ia bisa menghajar pria itu, membuatnya terbaring kritis hanya karena rasa tidak terima.

Jong so tersenyum. Cukup lama kata hyung menghilang dari pendengarannya. Dulu ia dan kimbum cukup akrab layaknya saudara sedarah, namun semua mengkelam ketika gadis kesayangan kimbum menghancurkan segalanya. Membuatnya kehilangan adik dan keluarga, membuat istrinya membenci semua dan tak pernah ingin kembali ke korea.

"Tak apa, aku sudah melupakannya." jawab jong so.

"Kau membenciku ?." Tanya kimbum. Ia memalingkan pandangannya pada hyerim yang memilih menunduk mengacuhkan pembicaraan.

"Tentu, aku hanya akan memaafkan mu bila mencintai gadis cantik itu." jawab hyerim tetap tak memandang kimbum..

"Konyol." jawab kimbum.

Hyerim tersenyum dibalik tundukan kepalanya. Sesakit apapun ia tidak benar-benar membenci adik tampannya itu. Hanya kecewa kimbum lebih mempercayai orang lain dibanding dirinya, kakak kandungnya sendiri. Kini ia berharap hati kimbum dapat berlabuh seutuhnya pada sosok mungil kesayangan kedua orang tuanya. Hyerim sudah mengetahui semua riwayat kehidupan soeun, siapa soeun dan mengapa sang ayah begitu menyayanginya. Hanya wajahnya saja  yang baru diketahuinya. Dan jujur saja hyerim dengan cepat menyayangi gadis cantik berkelakuan manja itu. Tingkah lucu soeun sungguh membuatnya terpikat. Pantas saja sang eomma bahkan mengatakan soeun adalah pemilik hatinya. Karena hyerim pun mengakui kini soeun telah memiliki sebagian rasa sayangnya.

*****©©©©*****

"Menyebalkan !." gerutu soeun sambil terus melangkah menuju pintu lobi. Kakinya yang terhentak-hentak dan bibir yang memucis sebal, membuatnya menjadi focus pandangan para karyawan dan pengunjung sheraton hotel yang merasa gemas. Soeun nampak seperti seorang gadis remaja yang tengah merajuk kesal. Mereka tak terganggu, justru merasa gemas dan ingin mendekati. Terkhusus para pria yang melihat soeun dengan pandangan terpesona. Itu semua karena soeun tak menyadari dirinya masih memakai dress mini putihnya yang menampilkan sebagian paha putih mulusnya.

"Aku hanya bercanda. Haruskah dia murka ?. Bukankah dia sudah berjanji ingin menemaniku ?." lagi ia menggerutu, dan berhenti tepat  dibawah pohon taman hotel, memandang sebal para tamu. Hatinya masih saja mengumpati kimbum yang begitu sensitif.

Sedetik kemudian nafasnya tercekat ketika tanpa sengaja matanya menatap segerombolan pria kekar melangkah mengiringi seorang pria paruh baya ke dalam mobilnya.

"Appa... " lirih soeun. Soeun mencoba berlari, namun terhenti ketika sang pria telah pergi bersama mobil mewahnya. Dengan tangan bergetar soeun berusaha menekan asal ponselnya, mencoba menghubungi jhin ae.

"Yeobseyo "

"Eonnie aku diparis." ucap soeun parau. Air matanya mulai mengalir ketika diujung sana jhin ae justru terbungkam tak menjawab kalimatnya.

"Katakan dimana appa ?." ucap soeun. Ia mengepalkan jemarinya kuat, menahan amarah menyadari jhin ae mencoba menyembunyikan sesuatu.

"Eonnie !." teriak soeun.

Soeun terduduk, menyembunyikan kepalanya diantara kedua lututnya, mengisak ketika jhin ae dengan teganya memutus panggilan. Disana terasa sesak, hatinya merasa seolah terpukul oleh sesuatu. Sang appa masih berada di paris dan jhin ae dengan sengaja menyembunyikannya. Itu tidak adil bagi soeun. Ia sangat merindukan minjae, satu kali saja soeun berharap dapat memeluk sang appa.

"Aku harus mencarinya " lirih soeun. Ia berdiri, menghapus kasar air matanya dan segera berlari mendekati reception.

"Excuse me, can you give me information about an old man who just came out of this hotel?." ucap soeun.

"sorry lady kim, but we can not divulge hotel guest information to anyone."

"I understand, thank you"

Soeun kembali melangkah keluar, menaiki  taxi yang tepat terpakir tak jauh dari halaman hotel. Meminta sang supir melajukan mobilnya menggunakan bahasa inggrisnya yang tidak terlalu fasih. Soeun menekan kembali ponselnya, mencari alamat perusahaan sang appa yang berada di paris. Jika jhin ae memilih membungkam, maka soeun akan memilih mencari jalannya sendiri. Tak perduli jhin ae akan memarahinya, soeun hanya ingin menemui sang appa dan mengungkapkan semua perasaannya.

*****©©©©*****

Udara malam terasa dingin menyentuh permukaan kulit. Paris tengah berada di musim gugur dikala bulan september. Jika pada umumnya semua orang menggunakan mantel di bawah langit, kimbum justru menggunakan hatinya untuk terus mengumpat kesal. Ia melangkah kembali ke dalam kamar hotelnya. Terduduk di atas sofa sambil mengacak kasar rambut hitamnya, membuat wajah cemasnya terlihat aneh dan sedikit mengerikan.

Waktu menunjukkan pukul 21.00 pm dan soeun belum juga kembali. Demi tuhan ia benar-benar menyesal membiarkan soeun pergi begitu saja. Rasa gengsi membuatnya lupa bahwa mereka tengah berada di kota romantis, dan soeun tidak banyak mengetahui jalan.

"Sial,sial,sial !." umpat kimbum. Ia kembali mengacak rambutnya kasar. Jantung terasa sialan terus saja berdetak dengan cepat. Menimbulkan rasa sesak yang menyebalkan. Terlebih ketika tiba-tiba saja otaknya membayangkan hal-hal buruk yang mungkin saja menimpa soeun, ia kembali merasa takut dan cemas tak beralasan. Soeun benar-benar telah memenuhi pikirannya hanya dalam waktu satu hari. Jika sudah begini sang wo mungkin akan mengulitinya hidup-hidup jika benar soeun dalam keadaan tidak baik.

Kimbum berdiri menatap tajam seseorang yang membuka pintu hotel secara perlahan, nampak seperti seorang pencuri tengah berusaha masuk sembunyi-sembunyi.

"Dari mana saja kau ? Kenapa kau selalu membuatku susah ?!."hardik kimbum. Cukup sudah ia seperti orang gila. Berputa-putar mengelilingi hotel hanya untuk mencari istri mungilnya itu. Menghardik para bawahannya yang telah membiarkan soeun pergi dan ternyata gadis itu baik-baik saja.

"Mianhae bum-ah." lirih soeun. Ia menunduk tanpa niat membantah. Mengusap kedua tangannya mengurangi rasa takut.

"Mandi dan istirahatlah." perintah kimbum melembut. Lirihan nada soeun menggores luka dihatinya. Ada sedikit sengatan di tubuhnya ketika menyadari tubuh mungil itu memucat karena sehelai dress mini yang melekat menantang malam. Kimbum menghela nafas, memilih mendudukkan tubuhnya diatas sofa ketika soeun beranjak masuk kedalam kamar tanpa menjawab lontarannya. Meski kimbum selalu menginginkan soeun diam dalam beberapa saat, namun ketika hal itu terjadi ia tak bisa lagi mengelak bahwa hatinya merindu mendengar rengekan bernada manja istri cantiknya itu. Ada waktu dan rasa telah mulai berubah.

Soeun menutup pintu perlahan, lalu melangkah mendekati lemari, membuka koper dan meraih bingkai biru. Menatap sendu dan mulai mengalunkan isakan menyedihkan. Sudut ranjang menjadi sandaran punggung bergetarnya dan marmer dingin menjadi alas duduk tubuh lemahnya. Ia pergi namun tak menemukan sang appa di perusahaannya. Terlalu menyakitkan ketika harus kembali kehilangan sosok kerinduannya.

"Joon, aku merindukan mu. Kembalilah, kumohon hiks,hiks." isak soeun. Ia memeluk erat bingkainya. Berharap dapat menyalurkan kesakitannya.

"Hiks, bogoshipo appa,hiks,hiks bogoshipo joon-ah." racau soeun dalam tangisannya. Ia menciumi foto seseorang yang terpasang di bingkai genggamannya tanpa menyadari seseorang berdiri tersembunyi dibalik pintu kamar sembari mengepalkan kedua tanggannya kuat.

To be continue..

*****©©©©*****

Hai...
Gimana ? Rada aneh ya ??
Ya begitulah. Seperti autour yang aneh ini. Wkwkwk

Kemarin banyak yang minta up kilat. Sayangnya aku tidak bisa mewujudkan :( mianhae.

Seperti kemaren aku katalan. Ff ini tercipta tanpa adanya persiapan jadi butuh waktu dalam menciptakannya :p

Tapi aku mengucapkan gomawo untuk chingu yang masih tetap menantikannya meski harus menunggu. :)

Untuk next partnya aku nggak bisa janji dalam waktu dekat. Tetep yang pasti akan terus berlanjut. Jadi mohon bersabar ;) (kedip mata)

Mianhae untuk typo yang bertebaran and please dont forget voment for part 4  :)

Saturday, April 7, 2018

Leesire in Love part 11

Sebelum membaca, sempatkan tekan icon  ⭐ di atas.
.
.
.
.


Warning! ❌
This story contains adult content. For the underage I hope not to read it. But if you stay reckless, then I am not responsible for your thinking patterns that become damaged.
Thank you  🙋
.
.
.
.
.
.
.




Ketika ada sebuah suara yang menyatakan bahwa cinta bukan sekedar rasa, maka dengan sendirinya sebuah hati akan lenyap tanpa peringatan. Dalam diam, sebuah keheningan selalu menjadi awal dari tibanya sebuah tragedi. Mengalir seperti air, juga menggema seperti bandul yang bergemuruh.

hujan masih terdengar ketika sebuah ketukan langkah menyusuri lorong-lorong yang sepi. lawah ataupun debu bukan sesuatu yang mampu untuk menarik sedikit perhatiannya. Tempat ini gelap, tak tersedianya ventilasi membuatnya menjadi seperti sarang kelelawar di dalam goa.

Seseorang ini  bukan seorang wanita, melainkan seorang lelaki yang memiliki ketampanan cukup sempurna. Warna kulit yang begitu bersih serta tatanan rambut yang begitu rapi menunjukkan bahwa ia bukan dari kalangan manusia sembarangan. Kemeja berwarna hitam membalut tubuh atletisnya. Lalu pada bagian  kerah ia biarkan tetap berdiri dengan jepitan dasi yang dipasangkan hanya sembarangan. Masih ada jas yang turut andil membalut bersamaan dengan celana halus berbahan sutra yang lembut, juga berwarna hitam. Pria itu nampak begitu menawan meski pias wajahnya tak menampilkan sebuah senyuman. Kesan misterius justru begitu melekat pada manik matanya.

"Dua tiga puluh. Ku rasa kali ini kau cukup lambat bung." Ada seringai ketika sebuah nada yang lembut menyapa kehadirannya. Ruangan ini masih serupa dengan ruangan-ruangan sepi lainnya yang sejak tadi ia lewati, namun setidaknya puluhan pria kekar hadir menemani ketujuh kaki tangan kepercayaannya.

Tampak semua orang mengenakan busana yang serupa. Hitam dengan seringai tatapan penuh kebencian. Mereka terlihat seperti para pembunuh bayaran yang terampil. Well, katakan saja begitu meski mereka lebih kejam dibanding para pembunuh bayaran.  Jika para pembunuh bergerak atas dasar perintah, maka sebaliknya bagi mereka membunuh bukan lah pekerjaan, melainkan sebuah permainan yang dapat membangkitkan Adrenalin.

"Apa kau menemukannya?" tak ada tanda-tanda ketika pria ini akan mengatakan kejujuran, tapi mereka semua tahu pria itu tidak akan pernah ingin membahas kesalahan yang diperbuatnya. Setidaknya hanya akan ada satu kepala yang hilang, jika mereka berani bertindak lebih jauh.

"Ya, mereka memperketat penjagaan. Tapi kau tak perlu khawatir, karena wanitamu itu baik-baik saja." pria ini tahu arah dari semua pembincaraan. Ia bukan orang awam, hanya seseorang yang baru kembali setelah menyelesaikan misinya untuk memata-matai.

Namun seseorang yang juga berada di sisi pria bertatanan rapi itu menggerakkan jemarinya dengan jengah, lalu mengacak lembut surai cokelatnya senbari menatap tidak suka pada sang kakak.

"Ayolah oppa, bukan itu yang lebih penting." ucapnya emosi. Wanita ini tahu bahwa tak akan ada gunanya untuk ia bicara. Tapi sekali lagi, wanita ini tidak perduli jika mereka semua mulai membahas wanita brengsek yang ia ketahui namanya.

Well, saat ini matahari tidak lagi terlihat. Langit sepenuhnya gelap dan tidak ada satu pun benda di langit yang menghiasi kepekatannya. Geun young menatap nyalang sang pemimpin yang duduk di bangku utama. Rapat seperti ini biasa digelar oleh para mafia. Tapi membahas seorang wanita, terdengar menjijikkan di telinga.

"Sayang, jangan memancingku. Kau tentu tahu tidak ada yang lebih penting dari seorang figilia." pria ini menatap dengan tatapan menyipit. Adiknya itu tentu tahu perubahan sikapnya. Dan benar saja sebuah sayatan menyentuh tipis sudut mata gadis ini. Setetes cairan berwarna kemerahan dengan mudahnya lolos, memberi jejak pada wajah gadis itu. Pria ini kembali menekan luka yang tercetak, membuat gadis itu kembali meringis, lalu berlalu dengan sendirinya.

Shit! Sudut matanya terasa perih sekarang. Pria itu memang brengsek. Lihat saja, James akan merasakan akibatnya. Pria sialan itu selalu saja memancing emosinya. Kakak macam apa dia? Bertahun-tahun memimpin hanya wanita jalang itu yang dipikirkannya. Geun young benar-benar muak kali ini.

"Kau terlalu keras tampan. Dia sensitif sama sepertiku." tapi wanita ini tersenyum dengan sinis. Lensa matanya menatap geram, namun tutur bicaranya berbahasa lembut. Ia juga sejak tadi berada di sana. Memperhatikan pertengkaran konyol yang sudah sangat sering terjadi. Geun young dan james memang sama-sama keras kepala.

James terkekeh, "Jangan membencinya cantik. Kau tahu bukan figilia target utamaku." ucapnya. Hati pria ini meletup-letup ketika menyadari kekasihnya itu dilanda cemburu layaknya geun young yang malang.  Suara yang ia lontarkan begitu lirih, tapi justru seohyun dan yuri merasa kaku dalam satu tarikan nafas. Pembicaran ini terasa mengerikan, dan entahlah bahkan keduanya ingin bersembunyi di balik hangat selimut. Terlebih james— pria itu duduk tenang di kursi kebesarannya dengan manik mata mematikan.

"Aku tidak perduli figilia sayang.  Kau juga harus ingat, prianya itu target utamaku." sekali lagi wanita ini mendesis dengan senyum cantik di wajahnya. Matanya ikut menyipit, dan lesung pada pipinya ikut memperindah keseksian pada paras wajahnya. Lone menggunakan terusan sweet dress berwarna hitam. Panjang gaun itu hanya sepangkal pahanya saja, membuat james dapat dengan mudah mengusap vagina di balik keremangan.

"Baiklah sayang. Dan ah Seo joo hyun, kau tahu, aku sangat merindukanmu." pria ini kemudian  berdiri sejenak untuk seterusnya melangkah pada sisi almari besar yang megah. Coklat pada sisinya membuat bangun persegi panjang itu terlihat begitu berkelas dengan pajangan samurai-samurai indah di dalamnya. Pria ini lalu melipat tangannya di atas dada sembari menatap seohyun dengan tatapan yang licik.

Wanita itu terlihat menyedihkan. Beberapa bagian tubuhnya nampak membiru dengan satu luka kecil di sudut bibirnya. James tersenyum sinis mengingat bekas-bekas itu bagian dari semua ukiran cintanya. Seohyun yang malang, pria ini sedikit menyesal menyadari ia cukup keterlaluan dalam menghukum wanita itu. Tapi seohyun juga harus ingat, soeun adalah wanitanya, dan pria ini tidak ingin ada seorang pun yang berani melukai wanita berlensa almond itu.

"Lalu? Kau ingin aku memelukmu begitu?" tanya Seohyun sinis. Wanita ini tidak bergeming dari tempat duduknya. Ia hanya menatap malas james. Tidak berniat memperpanjang masalah dengan  pria berdarah campuran Jerman-Korea itu. Sisi gelapnya sangat menjijikkan ketika murka. Tubuh seohyun merasa mati rasa ketika cambuk dan balok menyentuh kulit mulusnya. Sial! Andai saja pelatuk pistolnya tidak tertarik, maka semua tidak akan jadi begini. Bukan hanya james yang murka, kyuhyun bahkan hyun ae menganggapnya seperti pembunuh keji yang tidak layak untuk hidup. Kedua manusia itu terus menerus menghindarinya.

"Kau begitu humoris sayang. Apa permainan kemarin kurang memuaskan?" pria ini tidak lebih baik dari seorang actor, namun sandiwaranya membuat seohyun bergidik takut. Seohyun mengatupkan bibirnya, menatap james dengan sendu mencoba memohon berhenti atas semua kalimat menjiikkan itu. Pria itu masih berdiri menempel pada lemari. Lensa matanya bergerak-gerak mengirimkan kode atas setiap kalimatnya. Permainan yang pria itu katakan merupakan momok menakutkan bagi seohyun. Ia masih begitu ingat, james menyentuhnya berkali-kali hingga membuatnya ingin mati.

"Pergilah cantik, selesaikan tugasmu."

"Dan kau yuri, Perlihatkan kemampuanmu jika tidak ingin pisau membedah ususmu."

Dan tidak perlu kalimat tambahan lainnya, yuri segera berdiri menyusul langkah seohyun yang telah lebih dulu berlalu. James tersenyum melihat gelagat seohyun. Wanita itu malu, rona wajahnya yang timbul membuat pria ini ingin kembali mengulang permainan. Seohyun begitu panas ketika di sentuh. Gerakan tubuhnya liar dan tak terkendali. Ah, bagaimana jika kyuhyun mengetahui ini? James tertawa sembari berlalu. Itu akan menjadi permainan menarik untuk wakil chojangnim itu. Tatapan marah kyuhyun, james begitu ingin melihatnya.

Sedang di tempat duduknya lone masih diam dalam segala pikiran. Jemarinya menggerakkan cangkir dengan perlahan. Air di dalamnya telah kering mengaliri tenggorokan. Kimbum— nama itu berputar-putar dalam angannya. Pria tampan itu begitu mengangumkan. Bukan hanya kecerdasan, tubuh atletis pria itu bahkan membuat lone meneteskan air liurnya.  Lona ingin sekali menyentuh bagian sensitif prionsa tampan itu. Menggenggam kejantanan dalam tepak tangannya, lalu mengecupnya dengan mesra. Ah, membayangkannya membuat wanita ini berkali-kali meneguk air liurnya.

Shit! Wanita ini mengerang marah mengingat semua tidak akan mudah. Jika saja figilia bukan istri kimbum, maka sejak dulu ia pasti sudah bisa menikmati belaian panas pemimpin utama Fofate mafia itu. Tapi biar saja, karena sesaat lagi pria itu pun akan benar-benar menjadi miliknya. Lone tersenyum simpul, sebelum akirnya menatap sekelilingnya. Di sisi tubuhnya masih ada dua pria lain menemani bersama puluhan penjagal. Semua seolah bisu, hanya sesekali belaian rambut tersibak tersentuh angin.

****®®®****


Setiap kali awan meredup, tiap kali itu pula seorang pria tersenyum senang. Meski bunga belum bersemi, tapi ada sebuah hembusan yang masih dapat ia pahami. Langkahnya perlahan menuju ladang yang luas, dimana berbagai batang pepohonan mengelilinginya.

Ada berbagai pria kekar turut berada tak jauh dari tubuhnya.  Berdiri di antara batang pohon lengkap dengan berbagai senjata. Mereka menggunakan pakaian putih yang serupa. Jika dilihat dari kejauhan, maka mereka terlihat seperti dinding manusia yang tinggi. 

"Apa yang kau lakukan di sini? Mencari istri baru?" hingga sebuah suara menginterupsi dengan nada kemarahan yang kentara.

Angin sesekali menyibak helaian rambutnya. Mengacaukan kunciran di atas kepala, membuat pria ini tersenyum melihat guratan kekesalan di wajah istrinya itu.

"Berhentilah bertanya, Aku lelah." tapi bagaimana pun ia bicara, hanya akan ada kesombongan dalam setiap kali matanya. Soeun mengerang. Demi apapun ia tidak pernah suka cara bicara kimbum yang menjijikkan. Satu hari ini pria itu telah menghabiskan banyak waktu bersama selir sialannya. Menyisahkan sedikit sisa yang tidak berguna, dan menghabiskannya seorang diri. Taman ini memang luas, tapi tidak dengan suhunya.

"Kimbum, aku membenci cara bicaramu. Jika tidak menyukai kehadiranku lebih baik katakan padaku." marah soeun. Soeun mengusap pelipisnya ketika angin menyapa kasar wajah lelahnya. Pikirannya terganggu karena ulah kimbum. Chojangnim sialan itu terus saja menghindar darinya sejak kejadian dua minggu yang lalu, dimana pria itu hampir menarik pelatuk di depan kepalanya.

Kimbum tersenyum kecil sembari menarik soeun ke atas pangkuannya. Taman ini terletak di sisi kiri asrama eksecutive. Kursi yang di dudukinya juga terbuat dari kayu ukir yang cantik. "Kau sangat sensitif sayang. Aku benar-benar lelah." kimbum mengusap sayang kepala soeun. Jemari yang semula memijit pelipis disingkirkan dengan lembut. Wanita ini jauh lebih sensitif dari dua minggu yang lalu. Hormonnya begitu buruk, soeun terlihat seperti sedang menghadapi tamu bulanannya.

"Kau selalu menghindariku. Katakan apa salahku?" jawabnya soeun ketus. Wanita ini juga butuh sebuah penjelasan. Soeun membenarkan cara duduknya, menatap kimbum dengan serius sembari mengusap pipi pria itu dengan kedua tangannya. Suhu di korea sedang tidak bersahabat, angin musim dingin masih berhembus kencang. Soeun tidak mau kimbum sakit karena terlalu lelah menjalankan perannya. 

"Apa kau jenuh berada di sampingku? Apa kau memiliki idaman lain? Apa aku sudah tidak menggoda?" semua pertanyaan itu dituangkan dalam satu tarikan nafas. Kimbum menghentikan gerakan bibir wanitanya. Pria ini menangkup pipi bulat soeun, lalu mengarahkan lensa tepat pada manik matanya.

"Hey, cara bicaramu membuatku marah figilia. Aku bukan pria menjijikkan." tegur Kimbum. Suara yang pria ini lontarakan begitu dingin dan tegas. Ia tidak suka kalimat soeun yang mengandung unsur tuduhan. Sejak kapan Soeun menjadi idiot? Itu benar-benar diluar akal sehat kimbum. Beberapa minggu ini semua perhatiannya terkuras pada sebuah masalah  pelik. Ia harus selalu berselingkuh dengan ratusan dokumen. Belum lagi rasa rindunya yang membuncah, kimbum merasa akan gila secepatnya. 

Begitu pula dengan soeun "Dan kau pikir aku percaya?!" wanita ini mengenal kimbum dengan waktu yang tak terhitung. Pria sialan itu jelas menutupi sesuatu dan percayalah soeun benci mengakuinya. Kimbum hanya selalu berselingkuh dengan selir dokumen sialannya dibanding menemaninya bermain ranjang ataupun menikmati hari. Ada sesuatu yang soeun rasakan yang tak dapat dirinya pahami. Di depat matanya wanita ini seolah melihat puzzle pelik yang sulit untuk disempurnakan.

Terlebih pada kyuhyun. Pria itu juga berlaku sama dengan suaminya itu. Cenderung diam dan menjadi pecundang. Hubungan mereka cukup buruk setelah kejadian penembakan di markas utama Fofate. Kemarahan sang woo membuat beberapa penjaga merenggang nyawa. Kimbum dan kyuhyun pun tak luput dari amukan pemimpin tua itu. Beberapa hari ini myungsoo maupun seungho juga lebih suka hilir mudik dalam ruangan kimbum maupun kyuhyun. Terkadang mereka bersembunyi bersama kimbum, lalu terkadang mereka menghabiskan waktu bersama kyuhyun. Keempat pria itu benar-benar membuat soeun dan suzy muak. Bahkan suzy memilih ikut menghindari myungsoo, meski pria itu terus menerus meminta maaf.

Suasana yang terbentuk semua menjadi tidak terkendali. Wanita ini sudah berusaha mengalihkan perasaan suaminya itu. Soeun tahu sejak kejadian itu kimbum menyalahkan dirinya sendiri. Sebanyak apapun soeun mengatakan itu bukan kesalahannya, sebanyak itu pula pria berwajah tampan itu menciptakan alasan untuk menghindarinya. Pria itu sangat picik menghancurkan perasaannya. Jika saja sejak awal soeun tahu kimbum tidak berniat mendampinginya, maka akan dengan senang hati soeun menerima tawaran sang woo untuk kembali pada neneknya.

"Oke baiklah aku minta maaf. Berhenti membahas ini, kembalilah." kimbum memilih mengalah. Ia menurunkan soeun lalu memerintahkan wanita itu dengan nada tegas untuk kembali ke dalam asrama.

Membuat soeun sekali lagi menajamkan pandangannya. Emosi wanita ini tak mampu ia kendalikan. Sial! Tau begini soeun akan memilih pulang kekediaman bohee.

"Aku tidak mau. Berhenti memerintahku" jawab soeun. Ia cukup keras kepala jika sudah menghadapi kimbum. Pria itu begitu jahat ketika marah, tapi persetan, soeun tidak perduli jika pun Kimbum akan memukulnya. Ia butuh penjelasan. Jadi jika kimbum tidak mau bicara, maka ia akan dengan senang hati memaksanya.

"Ayolah sayang." kimbum mencoba membujuk soeun. Udara malam mulai terasa lebih dingin. Sementara soeun hanya menggunakan dress mini yang tidak menutupi lengannya. Wanita itu akan terserang flu jika kimbum membiarkannya terlalu lama menikmati angin.

"Kau membuatku sakit hati. Kenapa tidak mengirimku jauh?!" sengit soeun. Ia mengabaikan sepenuhnya bujukan suami tampannya itu. Biar saja, karena hatinya memang begitu terasa sakit. Bayangkan saja, selama ini ia tidur seorang diri, sementara kimbum tahu ia memiliki trauma yang berat. Shit! Soeun mengumpat ketika sebulir air matanya lolos begitu saja. Hatinya terasa tertikam dan soeun mengisak saat mendapati kimbum menatapnya dengan tajam.

"Astaga sayang, baiklah. "  Kimbum mengeluh frustasi, lalu menarik istrinya itu kembaki ke kamarnya. Soeun memang pintar membuat hatinya kacau. Kimbum tahu soeun hanya beracting, lihat saja wanita itu kini mulai terkikik sembari bergelanjut manja pada lengannya. Sial!

Well, Kimbum hanya tidak ingin soeun kembali sakit.  Angin tak cukup baik untuk kesehatan wanita itu. Terlebih beberapa hari yang lalu soeun mengeluh sakit pada bagian tubuhnya. Mungkin akibat dari benturan malam itu. Tapi entahlah? Kimbum selalu marah jika memikirkannya.

****®®®****



Ketika dedaunan mulai runtuh memenuhi tanah. Mereka tahu bahwa musim gugur akan segera tiba. Dari hembusan angin yang lebih terasa dingin juga binatang yang mulai tak terlihat. Seorang pria dengan balutan jas rapi, terlihat melangkah masuk memasuki sebuah kediaman yang begitu megah. Terdapat banyak pondasi di sekelilingnya, membuat bangunan itu terlihat seperti sebuah istana dibanding rumah seorang mafia.

Melewati sebuah ruangan yang besar, pria ini kemudian berbelok menyusuri lorong panjang di sisi barat. Rambutnya tertata dengan rapi. Wangi tubuhnya menebar di udara, memberi aroma lain pada penciuman. Lensa matanya menikmati jendela yang terbuka serta bunga-bunga yang di sebar di setiap sudut. Rumah ini masih selalu sama, indah dan berkelas.

Pria ini kemudian turun melalu tangga tersembunyi hingga tiba di sebuah pintu besar. Beberapa bodyguard berdiri di setiap dinding, dua orang diantaranya segera membuka pintu ketika melihat pria ini mulai mendekat. Di balik pintu terlihat sebuah ruangan yang besar hampir menyerupai bangunan di bagian atas.

"Ini terlalu pagi untuk sebuah rapat ayah." ketika pada akhirnya ia memilih mengeluarkan suaranya, seorang pria lain justru mendesis dengan  kesal.

"Kau selalu menggerugutu. Diamlah dan dengarkan." jawab sang woo. Ia  juga segera menatap tajam putaranya itu. Kyuhyun tidak jauh bereda dengan kimbum. Keduanya sama-sama manusia beku berbibir iblis yang kurang ajar. Lihat betapa sopannya pria jangkung itu menegur ayahnya. Meski semua juga karena salah didik dari mereka, tapi setidaknya kyuhyun dapat lebih bersikap santai dihadapan para temannya-temannya.

"Apa tidak masalah kami berada di sini?" myungsoo yang juga berada dalam barisan kyuhyun segara mengeluarkan pendapatannya setelah wakil dari chojangnim executive itu mendengus, lalu duduk tanpa memperdulikan mereka yang nampak seperti manusia tolol.

"Tidak apa, aku yang menginginkannya." jawab sang woo tenang. Moodnya mendadak baik mendengar ucapan myungsoo yang terdengar sopan. Ia bukan  orang sembarangan yang akan mengizinkan manusia asing memasuki wilayah pribadinya. Tapi saat ini ia memang menginginkan para haksaeng Leesire itu hadir di kediamannya. Di ruangan ini juga terdapat ratusan penjaga bertubuh kekar, juga namgil, jongsik, bohee, jongsoo, dan minseok yang telah menempati kursi-kursi pemimpin utama.

Lagi pula mereka memang berniat mengadakan rapat mendadak yang penting. Dan para haksang executive itu juga akan berada didalam tim yang tengah mereka bentuk.

"Ah tuan kim, maaf jika kami mengganggu." seungho yang sejak tadi juga berdiri di sisi sang istri, segera membungkukkan tubuhnya hormat. Kim sang woo adalah salah pendiri utama fofate. Mafia penguasa di negeria mutiara ini, bersama namgil dan juga jongsik. Seungho sedikit merasa canggung karena membawa serta istrinya yang notabennya adalah musuh utama mafia putih tersebut.

Sedang suzy, ara maupun jiyeon lebih memilih diam dan tidak ikut campur. Sejujurnya mereka masih mempertanyakan alasan dibalik diundangnya mereka ke tempat ini. Jika pun ara itu mungkin masuk akal karena wanita itu adalah calon istri kyuhyun. Tapi ia dan jiyeon? Ia bahkan hanya seorang putri dari mafia kelas bawah. Orang-orang menghormatinya hanya karena ia mampu masuk ke dalam kumpulan pewaris mafia elit ini. Atau lebih tepatnya lolos menjadi haksaeng executive serta menikahi putra salah satu mafia elit.

"Tidak tidak, kalian memang harus berada di sini." sang woo yang merasa mengerti arah pembicaraan sahabat putranya itu segera membantah ucapan seungho. Pria ini tidak ingin dianggap menjebak mereka karena ingin mendapatkan jiyeon. Sekalipun jiyeon memang pengikut setia Black Mafia, namun sang woo tidak mungkin sepicik itu. Ia masih memiliki simpati, terlebih soeun begitu melindungi wanita itu.

Sang woo lalu mempersilahkan kelima muridnya itu untuk duduk. Kemudian memerintahkan beberapa pelayan untuk menyediakan sarapan juga teh. Walau bagaimana pun hari masih terlalu pagi, jadi pria ini dapat pastikan kelima makhluk remaja itu belum menikmati sarapannya. Namun kesenangannya berubah ketika sebuah suara mengusik telinga rentanya.

"Apa sebenarnya maksud kalian? Apa kalian berencana menjebak kami?" kyuhyun— pria yang tak lain adalah sang pemilik suara, memandang sang woo dengan jengah. Manik mata pria ini menyipit sesaat ketika sang woo mendengus dengan keras.

Tanpa bisa dicegah dan tanpa bisa mengelak, sebuah pukulan mendarat mulus di kepala kyuhyun. "Dasar anak bodoh! Apa yang sebenarnya kau pikirkan." jerit sang woo emosi. Kyuhyun benar-benar merusak suasana hatinya. Pria muda itu terlalu bodoh dalam hal merangkai kalimat. Dan apa katanya tadi? Menjebak? Sial! Sepertinya sang woo memang harus menyulam bibir kyuhyun.

"Yaaaaaa!" sedang kyuhyun berteriak tak terima. Ia berdiri dari kursinya, lalu menunjuk sang woo untuk melontarkan kalimat-kalimat kemarahannya.

"Tenanglah nak, ayah yang akan jelaskan. Duduklah." tapi namgil lebih dulu bertindak. Pria ini merasa hawa semakin tidak kondusif berkat  pertengkaran konyol sang woo dan kyuhyun. Kedua pria itu begitu jarang akur. Tidak jauh berbeda dengan kimbum. Sejak kecil kyuhyun dan kimbum begitu bersemangat memancing kekesalan sang woo. Entahlah, mereka bertiga selalu layaknya bocah yang idiot.

"Seharusnya kau memutilasi pergelangan pria tua itu ayah. Dia sangat menyebalkan." gerutu kyuhyun. Membuat semua orang terkekeh, kecuali sang woo. Pria itu benar-benar ingin memasak kyuhyun di dalam panci, lalu memberikan sup manusia kurang ajar itu pada anjing Doberman kesayangannya di luar sana. Kyuhyun sangat-sangat sialan melebihi bohee dan jung soo. Tapi sesialan pria itu, masih ada kimbum di atasnya.

"Aku yang akan memutilasi bibirmu kyu." jawab sang woo. Pandangan remeh kyuhyun memancing kekesalannya.

"Lakukan saja, maka aku akan mengutukmu."

Hoel! Ara terbelalak mendengar jawaban kekasihnya itu. Suzy bahkan tertawa di tempatnya duduk. Astaga, kyuhyun sangat konyol. Sejak kapan seorang anak dapat mengutuk ayahnya. Keluarga ini memang sangat aneh. Ini pertama kalinya suzy melihat keakraban yang tidak nampak seperti orang lain. Mereka lebih seperti ayah dan putra kandung. Begitu tak berjarak dan begitu rekat layaknya lem dan kertas.

Tidak jauh berbeda, jiyeon turut tertawa bersama bohee, jung soo, dan jongsik. Minseok bahkan menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya itu. Ia tidak perlu marah mendapati kekurangajaran kyuhyun. Hal ini biasa terjadi diantara mereka. Bahkan jika ada kimbum, pertengkaran ini akan lebih mendebarkan.

"Cih." sang woo berdecih tidak terima. Jika saja saat ini tidak ada para haksaeng executive, maka sudah dia pastikan kyuhyun akan tamat ditangannya.

"Sudahlah, kalian membuatku tidak bisa bicara." cerca namgil.

"Abaikan mereka namgil, jelaskan saja langsung" seolah tidak sabaran, bo hee segera menyela ucapan namgil. Jika mereka tidak cepat maka pertengkaran bodoh itu tidak akan pernah usai. Sang woo sangat kekanakan dan kyuhyun sangat keras kepala. Dua manusia itu tidak akan berhenti jika bukan Soeun yang melerainya. Di sisi lain juga jung soo dan para pendiri lainnya mengangguk setuju, lalu setelahnya mengalihkan pandangan pada namgil yang telah berdiri di tempatnya sembari menatap dengan serius.

"Dengarkan ayah Kyu, mulai dari detik ini penjagaan pada figilia akan kita perketat. Maka dari itu kami mengharapkan kerja sama kalian." ucap namgil tegas. Lensa mata pria ini bergerak lincah menatap satu persatu haksaeng executive. Tidak ada candaan dari nada suaranya, membuat kyuhyun sedikit mengernyit tidak mengerti.

"Apakah terjadi sesuatu?" tanyanya. Dua minggu ini ia memang sedikit merenggang pada Soeun maupun ara. Ada beberapa tugas yang harus ia selesaikan, jadi masalah keamanan soeun sedikit terlupakan dari otaknya. Kyuhyun juga merasa keadaan Leesire jauh lebih baik setelah kimbum menugaskan ratusan bodyguard berjaga di sekitar sekolah mafia itu.

"Ayah tahu kabar itu pasti sampai ke telingamu nak."jawab namgil. Lensa matanya yang sejak tadi berputar, berhenti tepat di manik mata kyuhyun. Pria ini mencoba mengantarkan pengetahuannya melalu tatapan. Berita yang ia simpan belum boleh bocor jika kimbum belum memerintahkannya.

"Jadi pria itu benar-benar tiba di korea?" tanya kyuhyun. Ia masih tak percaya dengan pikirannya sendiri. Manik mata renta namgil memang meyakinkan, tapi tetap saja kyuhyun masih ragu pada pikirannya sendiri. Semetara Namgil mengangguk yakin. Ia tidak perlu berbicara lebih jauh, karena ia yakin kyuhyun mengerti akan arti tatapannya.

"Lalu?" lanjut kyuhyun kemudian.  Myungsoo dan seungho tetap memilih diam. Mereka belum berniat menyela ataupun bertanya jika belum diberi kesempatan. Begitu pula dengan ara, suzy dan jiyeon. Ketiga wanita ini lebih memilih bungkam sembari  menikmati teh panas dan sandwich yang tersedia. Lagi pula mereka tidak perlu ikut campur, karena kehadiran mereka di sini tidak lebih dari seorang istri yang mengikuti suaminya.

"Kita tidak bisa biarkan dia mendekati figilia. Kalian harus berusaha mengamankan Leesire dari para penyusup. Baik itu para pelatih, maupun pekerja dan juga para haksaeng reguler."

"Maksud ayah Leesire tidak aman? Kenapa tidak ada yang mengatakannya padaku?"

"Ini masih dugaan kyu. Kita tidak bisa bergerak lebih jauh jika kita tidak memiliki bukti yang kuat."

Para petinggi itu masih berdiskusi meski waktu telah berlalu jauh. Pukul sembilan, dan suzy mulai merasa lelah. Mafia memang tidak mengenal waktu jika telah berhadapan dengan sebuah rapat. Sandwich yang tersedia bahkan telah musnah tertelan bibir. Sedang Ara berusaha matia-matian menahan kantuknya. Ia menguap sembunyi-sembunyi. Semalam ia tidak cukup tidur karena ulah kyuhyun yang terus menerus menggedor dinding kamarnya. Tapi itu juga salahnya, karena mengabaikan pria itu selama dua hari berkat bujukan suzy.

"Baiklah kami mengerti."

Rapat selesai.

Jiyeon, suzy dan ara kompak menghembuskan nafasnya lega. Bayangkan, tiga jam mereka duduk dan hanya diam seperti patung. Bokong bahkan terasa panas disertai keram pada kaki. Oh ya tuhan, para petinggi mafia putih ternyata lebih mengerikan jika menyangkut rapat besar. Jung soo, bohee juga minseok terlihat santai di tempatnya, membuat ketiga gadis ini membelalak tidak percaya. Yang benar saja, mereka bahkan tidak telihat jenuh atau lelah. Oke harus mereka akui, mereka kalah oleh orang yang telah berumur.

Di sisi lain namgil mengangguk mendengar jawaban kyuhyun. Meski bocah itu menjawab dengan santai, tapi namgil yakin pria itu akan bersikap jauh lebih protec pada sahabat mungilnya itu. Soeun bukan hanya dianggap putri paling kecil di sini, wanita itu tombak utama Fofate. Di dalam darahnya mengalir darah para pendiri terdahulu. Dan bukan hanya itu, ada sebuah rahasia besar yang juga tersimpan di dalam tubuhnya. Sesuatu yang membuat putrinya itu menjadi incaran utama para mafia-mafia hitam.

Namgil lalu kembali menatap myungsoo. Para remaja itu sudah terlihat lelah, terutama para wanita. Jadi sebelum mereka mati karena bosan, namgil ingin segera menyudahi rapat ini.

"Myungsoo, kami butuh bantuanmu untuk menyelidiki seluruh haksaeng. Ini mungkin terdengar konyol, tapi sepertinya Leesire menampung beberapa penghianat." ucap namgil. Sorot matanya penuh keteguhan, membuat myungsoo mengangguk dengan cepat.

"Baiklah tuan kim, saya mengerti." meski sejujurnya ia masih belum mengerti arah dari rapat besar ini, tapi sedikitnya ia memahami arti dari sorot mata pria tua itu.

"Dan kau jiyeon, bantu kami menyusup ke dalam Black Mafia." perintah sang woo. Pria ini tiba-tiba berdiri sembari menatap dingin jiyeon. Membuat ara, suzy dan myungsoo terkejut. Ketiga remaja ini berpikir sang woo tidak menyukai kehadiran wanita itu.

"Apa maksud ayah?" sela kyuhyun. Ia cukup mengerti maksud perintah sang woo, namun ia  tidak setuju dengan perintah ayah angkatnya itu. Biar bagaimana pun juga jiyeon berada di sini atas keinginan soeun. Wanita itu akan murka jika tahu Fofate berniat mengembalikan jiyeon pada Black Mafia.

"Kembalilah kepada james. Jadilah mata-mata kami." jelas sang woo tegas. Membuat sekali lagi kyuhyun mengeram kesal. Para petinggi itu memang selalu seenaknya membuat keputusan. Bagaiman jika soeun murka? Shit! Di saat seperti ini justru kimbum tidak menunjukkan batang hidungnya. Bagaimana caranya menyelamatkan jiyeon? Suaranya saja tidak akan mampu untuk mengubah keputusan para tetua kolot itu. Belum sempat kyuhyun memikirkan alasan untuk menolak permintaan ayahnya, suara lain sudah lebih dahulu menyela dengan kasar.

"Aku tidak setuju."

Semua orang dengan segera mengalihkan tatapan pada sosok yang berdiri di pintu utama. Wanita itu berjalan tergesa-gesa lalu berdiri tepat di sisi ayahnya. Kimbum sendiri hanya menahan senyum melihat tingkah kurang ajar istri cantiknya itu sembari melanjutkan langkah menuju kursinya. Beberapa menit yang lalu soeun bahkan terus bergelanyut manja di lengannya. Tapi lihat kini, wanita itu bahkan melupakan suaminya sendiri.

"Nak, kami akan melindunginya." jawab namgil. Pria ini mengusap sayang kepala putrinya itu untuk memberi arahan. Sejak awal namgil sudah yakin soeun akan keberatan dengan rencana ini. Tapi apa boleh buat, suasana Leesire sedang bermasalah. Para anggota Black Mafia terus saja membuat ulah untuk  memancing figilia keluar. Mereka membakar gudang penyimpanan di busan, lalu menghancurkan sebagian lahan pertanian di jeju. Kimbum sudah mengatasi mereka lebih dulu, tapi tetap saja semakin hari mereka semakin menjadi liar. Namgil tidak bisa biarkan putrinya itu menghadapi para iblis itu. Soeun belum sepenuhnya mahir dalam bertarung. Wanita kecilnya itu hanya ahli dalam menembak. Itupun sejak kejadian sembilan tahun yang lalu, soeun menjadi trauma menyentuh senjata api.

"Tidak tidak, itu berbahaya. Aku tidak menyetujuinya." tolak soeun. Sekali lagi ia menyanggah permintaan ayahnya itu.

" Tapi nak___"

"Bum-ah." soeun tidak bisa biarkan jiyeon kembali. Ia melangkah cepat mendekati kimbum, lalu menatap suaminya itu dengan manik memohon. Tidak ada yang bisa membantunya kecuali suaminya itu. Saat ini Kimbum adalah pemimpin tertinggi Fofate Mafia. Segala sesuatu yang diputuskan para tetua itu akan berjalan, jika telah mendapat persetujuan dari pria tampan itu.

Kimbum menghembuskan nafasnya bingung. Di satu sisi apa yang diputuskan ketiga ayahnya itu  memang tepat. Jiyeon memang harus segera kembali pada Black Mafia sebelum james bertindak lebih jauh.  Sejauh ini pria brengsek itu sudah menghancurkan sebuah panti jompo di Torino, dan membakar pabrik di Chicago  hanya demi mendapatkan jiyeon. Namun disisi lain ia juga tak mampu menolak permintaan  pemilik hatinya tersebut. Soeun terlalu berharga bagi kimbum. Terlebih sejak kepulangannya ke korea, soeun hanya ingin bergaul pada ara, suzy dan jiyeon. Istri cantiknya itu terlanjur nyaman bersahabat dengan para wanita itu. Menolak permintaannya hanya akan membuat soeun kecewa, dan itu akan berdampak buruk pada perubahan sikapnya. Tidak ada pilihan lain, kimbum lalu menatap ayah mertuanya itu dengan menyesal.

"Aku menolak." ucapnya tegas. Dan senyum cantik terbit di bibir soeun. Membuat Kimbum dan para sahabatnya tak dapat menahan lengkungan di ujung bibir. Soeun sangat menggemaskan, terutama saat gadis itu mencium pipi suaminya dengan tanpa rasa bersalah. Sang woo, namgil dan para pendiri lainnya pun hanya dapat menghembuskan nafas pasrah. Jika kimbum sudah membuat keputusan, maka tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan. Mereka akan kalah oleh manusia mungil itu, dan kimbum tidak akan pernah sanggup menolak permintaan istri cantiknya itu.

Setelah ini mereka harus memikirkan ide lainnya. Mungkin mempertahankan jiyeon bukan pilihan buruk. Setidaknya dengan begini perasaan soeun akan traumanya dapat membaik.

Namun jiyeon menggeleng. Membuat senyuman soeun sirna dalam sekejap. "Tidak apa kimbum, aku akan baik-baik saja."

Soeun merasa seperti tersengat aliran listrik. Dalam sepersekian menit suasana hatinya hancur karena pertemuan bodoh ini. Ia tidak habis pikir dengan jawaban jiyeon. Bagaimana bisa wanita itu menolak pertolongannya? Ya tuhan, sepertinya jiyeon sudah terkena guna-guna jarak jauh jung soo ataupun sang woo. Ini tidak benar. Seharusnya jiyeon senang soeun membantunya. Shit! Soeun memucis lalu menatap sebal jiyeon yang duduk di sisi kanan suzy.

"Resiko itu mempertaruhkan nyawamu. Fofate mungkin akan melindungi, tapi kami terbatas untuk menyusup. Mereka bukan mafia sembarangan jiyeon." cecar soeun emosi. Ia tidak habis pikir dengan ide para tetua bodoh itu. Meminta jiyeon kembali pada Black Mafia adalah hal yang salah. Mereka bisa membuat jiyeon melakukan hal-hal terlarang yang berdosa. Lagi pula ia sudah berjanji pada seongho akan membawa masuk jiyeon pada Leesire.

"Mereka tidak akan melukaiku soeun. Kau bisa pegang kata-kataku ini." jiyeon tahu soeun berusaha melindunginya. Tapi sekai lagi ia tidak bisa terus-menerus berlindung dibalik kasih sayang wanita itu.  Selama ini ia berpura-pura buta dan tuli agar dapat menikmati kehangatan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Tapi jiyeon tidak bodoh, ia tahu james berkali-kali mengusik ketenangan Fofate.

"Tidak, aku tidak mengizinkanmu. Seungho." rengek soeun. Ia mencoba membujuk seungho dengan memandang pria itu sendu. Soeun merasa begitu frustasi.  Ia merasa kalah telak kali ini. Jika sudah begini kimbum pasti akan mencabut keputusannya.

"Beri dia kesempatan soeun. Akan buruk jika kita terus menahannya." jawab seungho. Bukan ia tidak suka jiyeon berada di sisinya, namun apa yang dikatakan para pendiri itu memang benar. Jiyeon harus segera kembali, agar mereka tidak semakin mencurigai istrinya itu.

Seungho mengerti kekhawatiran soeun, tapi mereka tidak memiliki jalan lain untuk memata-matai kawasan Black Mafia. Jiyeon adalah salah satu murid kesayangan Black Mafia, mempertahankannya hanya akan membuat wanita itu tersiksa. Black Mafia akan mencurigai mereka mencuci otak gadisnya itu. Dan itu akan sangat berbahaya.

"Tapi—  Kimbum."

"Mengalah lah sayang. Jiyeon berhak membuat keputusan. Kau sudah dewasa bukan?" kimbum mencoba memberi pengertian pada istri cantiknya itu. Soeun bukanlah wanita yang mudah ditaklukkan. Kekeraskepalaan wanita ini tidak bisa diremehkan. Sementara soeun, merasa ia tidak dapat melakukan apapun lagi, memilih diam lalu duduk dengan kasar di atas pangkuan suaminya. Suasana hatinya benar-benar kacau, membuatnya ingin menangis.

"Jadi bisa kita lanjutkan?" tanya sang woo ragu. Soeun memang tidak lagi berkomentar, tapi kimbum tersenyum kecil sembari mengelus sayang kepala istrinya itu. Sang woo bisa pastikan soeun tengah menangis saat ini. Putrinya itu memiliki jiwa yang rapuh. Ketika ia berusaha melindungi sesuatu dan tak ada yang mendukungnya, maka soeun akan terpuruk. Pria ini sedikit menyesal telah melontarkan perintah tersebut.

"Lanjutkan saja." jawab kimbum. Pria ini mengangkat kepalanya sembari memberi kode pada kyuhyun untuk mendekati soeun. Kyuhyun kemudian mendekat, lalu mengecup kecil pucuk  kepala soeun. Soeun tidak akan berhenti menangis jika tidak diperhatikan. Satu-satunya cara adalah dengan membujuknya. Karena jika tidak, maka dipastikan rapat ini tidak akan pernah selesai.

Di sisi lain jung soo menghembuskan nafasnya kesal. Tabiat soeun terlalu buruk dimatanya. Wanita mungil itu terlalu manja. Ia juga akan menangis jika tidak ada yang mendukungnya. Astaga, istri mafia macam apa itu?! Wanita ini benar-benar tidak habis pikir melihat putri tunggalnya itu.

Jauh berbeda dengan bohee dan minseok. Kedua wanita ini justru tersenyum sembari menggelengkan kepala. Baru kali ini mereka melihat sang woo salah tingkah karena keputusannya. Pria tua bangka itu tidak pernah bersikap semenyedihkan ini. Dulu Sang woo selalu saja bersikap tegas sama seperti kimbum. Ia juga tidak akan pernah perduli jika ratusan orang menolak keputusannya.  Tapi kini, wajahnya bahkan seperti manusia gembel kurang makan.

"Soeun, bisa kau hentikan tangisanmu nak? Ayah ingin bicara." namgil yang sejak tadi membungkam, segera mengendalikan suasana.
Waktu mereka sudah semakin sempit. Sebelum Black Mafia bergerak mereka harus lebih dahulu merampungkan rencana mereka.

Dan suara itu cukup untuk menarik perhatian wanita ini. Soeun menghentikan isakannya, lalu semakin memeluk erat kimbum. Suara ayahnya begitu terdengar lembut. Soeun mengerti ia membuat kekacauan, tapi dia tidak berniat bicara saat ini. Sedang Kimbum melebarkan senyumnya saat merasakan dekapan erat soeun. Istrinya itu memang terlalu manja, tapi bagaimana pun sifatnya itu, kimbum tetap mencintainya.

Setelah yakin tidak terdengar apapun, namgil kembali  berdiri untuk memberikan perintah selanjutnya. Pria tua ini menarik nafasnya untuk sesaat. Ada ragu yang terselip ketika manik matanya menatap kode yang dikirimkan kimbum.

"Seperti yang sang woo katakan, kami mengundang kalian di sini karena suatu tujuan. Dalam beberapa minggu ini Leesire menjadi tidak aman. Berkali-kali terjadi penculikan dan penembakan. Itu sangat meresahkan kami. Kami tidak ingin semakin banyak murid yang terluka. Jadi untuk sementara  Leesire akan kamu tutup. Para haksaeng akan di kembalikan kepada orang tuanya. Sementara untuk kalian, kalian akan menjalankan beberapa misi bersama para haksaeng terpilih lainnya." jelas namgil panjang lebar.

"Maksud ayah hanya kami yang berada disana? Bagaimana dengan soeun?" tanya kyuhyun. Ia menjadi tidak mengerti setelah mendengar penjelasan namgil. Beberapa saat yang lalu pria itu memintanya memperketat penjagaan soeun, tapi kini namgil justru merubah perkataannya.

"Ya. Penutupan akan dilakukan satu minggu lagi. Setelahnya hanya akan ada para murid terpilih yang diizinkan berada di dalam Leesire. Untuk soeun, suzy akan menjaganya satu bulan ke depan."

Suzy mengernyit. Dahinya yang mulus berkerut akibat kebingungannya. Perintah namgil jujur saja membuat otaknya mendadak idiot. 

"Aku?" tanya suzy. Myungsoo, ara dan seungho turut berpikir untuk mencerna maksud ucapan namgil. Waktu semakin berputar tiap kali mereka berkedip. Namun tetap saja mereka tidak mengerti arah pembicaraan pria tua itu. Untuk apa suzy menjaga soeun? Bukankah sekolah akan ditutup?

"Ya. Ara akan menemanimu."

"Aku?" Kali ini ara yang menyerukan. kebingungannya. Kelima remaja ini semakin memperdalam kerutan pada dahi mereka.

"Ada apa dengan kalian berdua. Apa kalian mendadak tolol." sengit kyuhyun. Ara dan suzy benar-benar nampak bodoh dimatanya.

Sementara soeun mulai mendudukkan tubuhnya secara benar. Sejak tadi ia hanya memeluk kimbum dengan manja. Tapi kini ia menatap aneh para orang tuanya. Perasaannya mengatakan akan ada hal buruk menimpanya. Ia sedikit menatap kimbum, tapi pria itu hanya fokus menatap namgil yang bersiap melontarkan jawaban berikutnya.

"Soeun akan berada di Jepang selama satu bulan. Dan aku ingin kalian berdua menjadi pengawal pribadinya."

Hoelll! Soeun membelalakkan matanya tidak percaya. Apa yang baru saja dikatakan ayahnya itu? Apa dia bermimpi? Sial! Dengan satu kali hentakan soeun bangkit dari singgasana panasnya. Mata wanita ini mendadak berubah menjadi tajam. Aura kemafiaan dengan cepat menguasai pias wajahnya.

"Jepang? Tidak! Aku tidak mau." jeritnya murka.   Jung soo menghela nafas melihat tingkah putrinya. Soeun kurang ajar! Ingin sekali ia menarik bibir wanita kecilnya itu. Sementara namgil kembali duduk diam tanpa sambungan ucapan. Dia tidak bisa mendebat putrinya itu lagi saat ini. Kondisi soeun buruk ketika emosi. Kemarahan soeun akan membuatnya semakin stress dan kecewa. Terlebih memindahkan disaat wanita mungil itu telah memilih untuk bertahan dan menyembuhkan rasa traumanya.

"Hanya sementara sayang. Aku juga akan menemanimu" Kimbum yang sejak tadi hanya mengatupkan bibirnya, mencoba menenangkan soeun. Pria ini menggenggam jemari wanitanya itu, lalu mengecupnya dengan sayang. Soeun lebih sensitif kali ini. Manik almond yang indah itu telah memerah dan siap memuntahkan lahar kemarahannya.

"Kau mengetahuinya kimbum? Katakan jika ini bukan keputusanmu." ucap soeun dingin. Pelupuk mata wanita ini penuh dengan genangan air mata. Jantungnya berdegub kencang menanti jawaban kimbum. Soeun benar-benar berharap ini bukan keputusan kimbum. Tidak, soeun tidak ingin jauh dari pria itu.

"Ini keputusanku."

Soeun membelalakkan matanya tidak percaya. "Kenapa kau begitu menyebalkan?! Kau— aku membencimu." hancur sudah harapannya. Ya tuhan, demi dinosaurus menerkam kyuhyun, soeun tidak percaya pada kimbum. Bagaimana bisa pria itu melakukan ini padanya? Apa suaminya itu mendadak amnesia? Bukankah pria brengsek itu yang selalu memintanya untuk tetap tinggal? Tapi apa ini?! Shit! Soeun berlalu begitu saja. Emosinya berada di pucuk kepala. Berada ditengah-tengah Fofate selalu membuatnya migren seketika. Persetan dengan kesopanan, kepala wanita ini ingin pecah dan soeun ingin mandi untuk meredakannya.

"Kau selalu membuat keputusan sepihak bung. Jungkir balik pun wanita itu tidak akan mau bicara." tegur kyuhyun. Ia juga cukup terkejut dengan keputusan ini. Terlebih kimbum tidak pernah mengatakan apapun padanya.

"James mengincarnya kyu. Pria itu datang kepadaku." jawab kimbum lirih. Pria ini mengabaikan ekspresi keterkejutan keluarganya. Perasaannya mendadak kacau karena kemarahan soeun.  Kimbum tidak bisa tenang jika soeun mogok bicara. Mungkin Kyuhyun memang benar ia terlalu cepat mengambil keputusan. Ia bahkan belum menceritakan masalah itu pada siapapun kecuali pada namgil. Tapi apa yang bisa kimbum lakukan? Seseorang di luar sana meminta istrinya dengan sebuah ancaman. Kimbum tidak bisa memikirkan cara lain, selain menyembunyikan soeun untuk sementara waktu.

"What? Apa kau serius?"

Kyuhyun yang berniat menjawab ucapan kimbum mendadak berhenti, ketika sebuah suara lebih dulu menyela. Semua orang berpaling dengan cepat. Sedetik kemudian para pendiri itu tersenyum melihat kedatangan sang empunya suara.

"Kau di sini sayang?" tanya bohee. Wanita ini tersenyum begitu lebar sembari mendekati sesosok wanita cantik dengan sebuah koper di tangannya. Kemudian memeluknya erat.

"Ah, bibi aku merindukanmu. Aku baru tiba pagi ini, dan kau tahu korea buruk." jawabnya. Ucapannya membuat semua terkekeh. Wanita itu persis seperti soeun. Jika bicara ia akan mengatakan hal-hal yang memancing sebuah tawa. Kecuali kyuhyun, pria ini lebih memilih diam kemudian menundukkan wajahnya. Marmer terlihat bersih, tapi bukan itu yang menjadi fokusnya. Pikiran pria ini melayang jauh, kembali pada beberapa tahun yang lalu. Wanita itu, mantan kekasih kimbum. Bagaimana jika soeun melihatnya?

Sementara itu, ditempatnya duduk kimbum juga tidak melakukan apapun. Ia lebih fokus menatap cincin di jemarinya. Pria ini tidak terlalu perduli pada sosok wanita yang tengah berada di pelukan ibunya itu. Bahkan ketika bohee membawanya duduk, Kimbum seolah-olah buta pada kehadirannya.

"Kau tidak menyambutku? Ah, kau keterlaluan." wanita ini menepuk kesal bahu kimbum. Ia duduk diantara kimbum dan kyuhyun, atau lebih tepatnya di atas kursi milik soeun. Kimbum begitu menyebalkan di matanya. Lihat, pria itu bahkan bersikap seperti bos yang angkuh.

"Aku tidak perlu menegurmu. Kau dan soeun memiliki tabiat yang buruk. Dan lagi jaga sikap mu itu, aku pimipinan di sini" jawab kimbum datar. Kimbum menatap malas wanita itu. Well, yeon so adalah mantan kekasihnya. Tidak buruk, wanita itu kini semakin cantik.

"Putramu ini sangat angkuh paman. Tapi di mana adik kecilku itu?"

"Dia sedang— "

Sekali lagi, saat kyuhyun mencoba menjawab, seorang pelayan menghentikan kalimatnya. Membuat pria itu mengerang emosi.

"Tuan muda Kim, nona figilia tak sadarkan diri." ucap seorang pelayan. Membuat kyuhyun yang berniat marah, membatalkan niatnya. Kimbum telah lebih dulu berlari menerjang pintu.  Sementara semua orang yang sempat menjadi batu karena terkejut, segera beranjak mencoba mengejar pria itu.

"Ya tuhan." bohee mematung ketika mendapati soeun terbaring di atas ranjang dengan tubuh yang basah.

"Sayang, hei buka matamu."Sementara di sisi soeun, kimbum berusaha membangunkan dengan cara memukul-mukul lembut pipi istrinya itu.

" apa yang terjadi?" tanya sang woo pada seorang pelayan yang turut berlari mengikuti mereka.

"Saya tidak tahu tuan. Saat saya ingin mengantarkan sarapan, nona sudah tergeletak tak sadarkan diri." jawab pelayan itu takut-takut. Ia meremas jarinya ketika kimbum menatapnya dengan murka.

"Kenapa tidak ada yang mengganti pakaiannya?!" hardik kimbum. Ia benar-benar emosi mendengar jawaban konyol sang pelayan. 

"Kami terlalu panik tuan"

"Stupid! Keluar dari tempat ini. Dan kau yeon so, hubungi Adam sekarang." tidak ada lagi sisi kelembutan pria ini. Sikapnya telah berubah dalam waktu yang begitu singkat. Yeon so dengan segera berlari keluar mencari telpon di ruang keluarga. Ia baru tiba dan sialnya ponselnya justru mati. Sedang Sang woo memilih memberi tanda pada sang pelayan untuk pergi, lalu membawa semua orang untuk ikut dengannya. Tidak terkecuali ara, suzy, myungsoo, seungho dan jiyeon. Kimbum buruk ketika marah, dan para remaja itu tidak aman jika tetap berada ditempat ini.

Di tempatnya duduk kimbum mengusap wajahnya dan rambutnya kasar. Emosinya tak terkendali. Jantungnya berdegub kencang mendapati keadaan istrinya. Beberapa menit yang lalu soeun masih baik-baik saja. Lalu bagaimana bisa wanita ini tidak sadarkan diri?!  Shit! Kimbum mengerang dengan kesal. Tidak ada tanda-tanda seseorang yang menyelinap masuk. Jadi kemungkinan besar soeun kembali merasa sakit.

Stupid! Pria ini memaki dirinya tanpa ampun. Kimbum meraih jemari soeun, menggenggamnya dengan erat, lalu mencium bibir tipis soeun dengan lembut. "Maafkan aku." lirihnya. Kimbum menyesal sudah membuat soeun tertekan. Wanita itu terlihat pucat. Seluruh tubuhnya basah, tapi tidak ada seorang pun yang menggantikan pakaiannya. Hati kimbum mencelos, pria ini meringis menyadari soeun menyiksa tubuhnya sendiri. Andai saja dirinya tak gegabah, soeun mungkin tidak akan seperti ini.


****®®®®****





Matahari telah meninggi ketika kimbum bangkit dari duduknya lalu berpindah berbaring di sisi soeun.  Mata pria ini memerah akibat menangis. Rambutnya kusut, pakaiannya berantakan, dan wajahnya juga lusuh berkat jejak air mata. Kimbum tidak pernah beranjak meski tenggorokannya terasa kering. Ia masih terus menunggu berharap Soeun membuka matanya.

Kimbum benar-benar merindukan suara soeun. Ini sudah dua jam berlalu, tapi wanita ini justru terlihat nyaman dalam tidurnya. Terlebih adam belum juga muncul. Sial! Kimbum ingin menghardik para manusia bodoh itu, tapi ia takut Soeun terbangun dan mencarinya. Untuk sesaat pria ini menghela nafasnya. Namun sedetik berikutnya kimbum mendengus melihat kyuhyun masuk dengan tenangnya tanpa mengetuk pintu.

"Kimbum."

Belum sempat kimbum memurkai kyuhyun, ia lebih dulu membatalkan niatnya setelah mendengar suara yang dirindukan  menyapa dengan lemah.

"Hei, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya kimbum. Ia menarik tubuh soeun merapat padanya, lalu mengusap rambut soeun dengan lembut. Akhirnya, setelah dua jam ia sulit bernafas, kini kimbum dapat bernafas normal. Hatinya kembali lega melihat wanitanya dalam keadaan baik-baik saja.

"Kepalaku sakit." tapi jawaban soeun selanjutnya membuat pria ini kembali cemas. Kimbum masih berbaring di atas ranjangnya, dengan kyuhyun di sisi kiri soeun.

"Permisi tuan kim, adam sudah di sini." hingga sebuah suara lain terdengar di balik pintu.

"Bawa masuk." perintah kimbum tegas.

"Baik."

"Apa yang terjadi nak. Kau tampak buruk." Adam masuk dengan sebuah tas jinjing di tangannya. Ia tersenyum saat kimbum menatapnya dengan marah. Hanya terlambat dua jam, adam rasa itu bukan waktu yang lama. Adam mengenal betul kimbum sejak kecil, jadi kemarahan  pria itu hal biasa menurutnya. Well, kimbum hanya terlalu khawatir pada istrinya itu, dan itu lagu lama menurut adam.

"Kepalaku adam, aku merasa dia seperti akan pecah." ringis soeun. Ia menyipitkan matanya menatap adam. Bias cahaya yang menembus gorden menyerang matanya, membuat kepalanya sakit menahan silau. Kyuhyun yang menyadari segera bergerak menutup gorden yang tipis, untuk mengurangi cahaya yang masuk.

"Kau sudah sering merasakannya." adam mengarahkan stetoskop pada dada soeun. Daerah jantung, ulu hati, dan perut menjadi fokus utamanya. Ia tidak perlu meminta izin kimbum untuk membuka sebagian baju soeun. Sejak kecil soeun menjadi pasien tetapnya. Well, wanita ini bertubuh lemah. Salah satu hal yang membuat kimbum  paranoid pada kondisi kesehatan soeun.

"Ya."

"Sejak kapan?"

"Satu minggu yang lalu."

"Lalu kau menutupinya dariku? Begitu?" potong kimbum. Pria ini mendadak emosi mendengar kejujuran soeun. Wanita itu tidak pernah mengatakan apapun padanya.  Tapi tidak seperti itu kenyataannya. Soeun sudah berusaha untuk mengatakannya, tapi kimbum selalu menghindarinya. Jadi siapa yang salah di sini?

Sementara kyuhyun memilih diam. Pertengkaran sepasang suami istri ini tidak layak ditanggapi. Kimbum hanya akan marah, lalu ketika soeun menangis ia akan meminta maaf. Menjijikkan, itulah yang kyuhyun rasakan.

"Hei, tenanglah boy. Itu hal biasa." adam menyela cepat ucapan kimbum. Pria ini juga tidak ingin kimbum salah tafsir pada pertanyaannya. Kata pusing pada penyakit soeun tidak merujuk pada penyakit berat. Melainkan penyakit lumrah yang biasa dirasakan  para wanita muda yang baru saja menikah.

"Istrimu sedang hamil."

To be continue...

.
.
.
.


Haloooooo
Mana suaranya pemirsaaaa 😂😂
Hah, update juga part ini setelah molor selama empat hari. Mari kita bersuyur karena jaringan ini mendukung 😆😅😂

Btw and btw, yang kemarin question Leesire tak ada di play store? aku harap bersabar sementara, karena ada sebuah kesibukan yang menghalangi pekerjaanku. My baby is sick, and then aku tidak bisa menyentuh laptop untuk beberapa waktu. So i'm sorry 🙏🙏

Part ini hanya sebagian dari part aslinya. Karena terlalu panjang maka aku memutuskan untuk mempublish dua kali. Namun setelah ini, part berikutnya aku belum tahu bisa update kapan lagi. Yang jelas minggu depan aku usahakan publis full part di google play book. Jadi yang ingin lebih cepat membacanya bisa langsung membelinya.

Dan untuk yang sudah memesan novel pertamaku, aku ingin memberi tahu bahwa novel ku sudah siap. Tapi maaf aku belum bisa mengambil picnya, karena masalah baby ku yang rewel. Untuk beberapa hari kedepan aku juha dilarang menggunakan ponsel demi perhatian kepada bayi manja ini.  😂😂😅
So please keep be waiting me. Thank you.

Bye bye 👋👋